SLEMAN - Siswa kelas 8A MTsN 6 Sleman berinovasi menciptakan Chocolat Mutile Riskaa.
Alat ini termasuk dalam sain imaginatif rekayasa teknologi yang sebelumnya diawali dengan kunjungan ke Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kulit dan Plastik (BBSPJIKP) dan Chocolate Store & Museum.
Chocolat Mutile Riskaa terdiri dari mesin pemotong coklat, mesin peleleh coklat, mesin penurun suhu coklat, mesin pencetak coklat, dan mesin pembeku coklat. Semuanya dalam satu rangkaian.
Ketua Kelompok 2 kelas 8A, Arshafa mengatakan ide muncul saat mereka melihat proses pemotongan coklat padat dan pencampuran coklat cair yang masih menggunakan tenaga manusia. Proses memakan waktu dan tenaga yang cukup besar.
“Satu lagi yang kami lihat bahwa proses pecetakan coklat cair masih menggunakan tenaga kerja manusia dengan menggunakan cetakan manual," ujarnya, Senin (18/9/2023).
Secara teknis, coklat yang telah melalui proses dari mesin mutile akan dilelehkan di melting tank. Kemudian cairan coklat diturunkan suhunya hingga 4 derajat.
Baca Juga: Capcom Resmi Umumkan DLC Separate Ways Resident Evil 4 Remake
Lalu coklat dicetak dan dijalankan menggunakan eskalator pendingin.
Dia menilai adanya mesin yang membantu tenang manusia dapat memudahkan proses produksi dan menghemat waktu. Kemudian dapat melipatgandakan hasil produksi.
"Yang jelas, dengan mesin ini, pabrik pembuatan coklat lebih bersih karena tidak ada remahan coklat yang terjatuh,” imbuh Aris, anggota kelompok lainnya.
Kepala MTsN 6 Sleman Jazim Kholis mengatakan inovasi industri merupakan bagian dari kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang Rahmatan lil ‘Alamiin (P5P2RA) yang termasuk dalam kegiatan wajib dalam Kurikulum Merdeka.
Baca Juga: Ini 8 Nama Desa Unik di Purworejo, Ada Nama Orang hingga Alat Transportasi Tradisional
Sebelumnya mereka diajak ke dua tempat industri agar memantik ide para siswa.
"Di kedua tempat tersebut siswa kelas 8A diajak untuk melihat secara langsung bagaimana proses produksi suatu produk," ujarnya.
"Selain itu, para siswa dikenalkan pada berbagai mesin industri dalam sekala besar," jelasnya.
Setelah kunjungan, para siswa prediksi Kelas Belajar Cepat (KBC) yang berjumlah 18 siswa ditantang menciptakan mesin industri. Mereka bisa merancang atau menyempurnakan mesin yang sudah ada.
Menurutnya, mesin karya siswa termasuk sebuah ‘sain imaginatif’ karena proses penciptaan ini tidak melalui uji apa pun.
“Namun paling tidak mereka berani memberikan ide membuat mesin untuk meningkatkan produktifitas suatu industri," ujarnya. (lan)
Editor : Bahana.