RADAR JOGJA - Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja mencatat ada puluhan mahasiswa asing yang mulai kuliah pada ajaran baru tahun 2023. Di antaranya dari China, Korea Selatan, Sudan, hingga Mesir.
"Kami menjadi kampus internasional dengan mulai banyaknya mahasiswa internasional mengambil pendidikan di UAD," ujar Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Muchlas pada acara Pengenalan Kampus (P2K) 2023 UAD di Gedung JEC, kemarin (12/9).
Pengenalan kampus diikuti 4.740 mahasiswa jenjang D4, S1, S2, hingga profesi. Sebanyak 42 orang di antaranya merupakan mahasiswa asing, berasal dari pelbagai negara. Mereka tersebar pada beberapa program studi, di antaranya Pendidikan Vokasional Teknologi Otomotif (PVTO), Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggeris (PBI), Teknik Industri, dan Bisnis Jasa Makanan (Bisma).
Selain itu juga ada yang mengambil jurusan Ilmu Komunikasi, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Sastra Inggris, Teknik Kimia, Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Pendidikan Guru SD (PGSD) hingga BK & PPKN."Mahasiswa asing berasal dari delapan negara dari Yaman, Mesir, Sudan. Kemudian China, Korsel, Malaysia, Thailand, Filipina. Mulai tahun ini mengikuti kuliah," ujarnya.
Pengenalan kampus ini merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Tujuannya menyambut mahasiswa baru. Muchlas berharap program pengenalan kampus dapat memberikan insight terkait bagaimana memasuki dunia baru dari SMA ke Perguruan tinggi."Kegiatan rutin tahunan untuk menyambut mahasiswa baru, tahun ini tema terkait bagaimana nguri-uri kebudayaan, bagaimana memelihara kebudayaan Indonesia. Dari sisi penampilan pakaian budaya, kesenian berbasis kebudayaan di Indonesia," jelasnya.
Muchlas menyebut ada penurunan jumlah mahasiswa baru dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, kondisi ini dialami oleh banyak perguruan tinggi swasta di Indonesia. Berbagai faktor mempengaruhi penurunan jumlah mahasiswa baru. Diantaranya daya beli masyarakat pasca pandemi Covid-19 dan kondisi ekonomi Nasional. Dia menduga daya beli masyarakat berkurang. Barangkali saat pandemi Covid-19 lebih banyak mahasiswa kemungkinan bersubsidi. “Lebih baik menyekolahkan anak saat itu dan sudah normal seperti ini sudah punya ijazah," jelasnya. (lan/din).