Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dosen UTY Widi Fajar Widyatmoko Terapkan Prinsip Coaching dan Pendekatan Psikologi saat Mengajar

Wulan Yanuarwati • Senin, 28 Agustus 2023 | 22:00 WIB
COACHING: Widi Fajar Widyatmoko usai menguji skripsi mahasiswa. (Dok pribadi)
COACHING: Widi Fajar Widyatmoko usai menguji skripsi mahasiswa. (Dok pribadi)

 

JOGJA - Metode belajar yang diterapkan Widi Fajar Widyatmoko di kelas bisa dikatakan berbeda dari biasanya. Dosen Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) ini menggunakan prinsip coaching dan pendekatan psikologis kepada mahasiswanya.

"Ngajar pakai prinsip coaching, lebih banyak bertanya, tidak mendikte, ya," ujar lulusan S1 Psikologi UGM Jogja ini kepada Radar Jogja, Senin (28/8/2023).

Menurut pria 38 tahun ini, kondisi jaman sudah berubah sehingga metode belajar juga menyesuaikan. Anak zaman sekarang tidak bisa dite atau diberi hapalan seperti metode pembelajaran di zamannya.

Menurutnya, seorang dosen juga harus berperan sebagai pengajar sekaligus teman bagi para mahasiswa.

"Metodenya efektif dan saya berusaha memposisikan diri seperti radio yang bisa mengubah frekuensi. Artinya ketika kita berbicara dengan (misal) Jokowi, akan berbeda ketika berbicara bocah 4 tahun," ujar dosen pengampu mata kuliah kepemimpinan dan budaya organisasi itu.

"Kadang saya ajak nongkrong. Gak ana masalah. Lalu di awal itu saya katakan hak mereka ikut pelajaran tapi saya juga berkewajiban memberi materi. Biar mereka tahu bahwa mereka sudah bayar kuliah dan mau datang," jelasnya.

Lulusan Magister School of Business and Law Edith Cowan University Australia ini mengatakan memang tidak mudah menjadi teman bagi para mahasiswa. Maka agar bisa masuk dan nyambung saat berbicara, Widi juga membicarakan hal yang sedang sedang tren saat ini.

"Untungnya saya juga suka hal baru. Jadi, gak effort misal ngomong tentang anime, karena saya juga nonton anime. Kan saya pernah jadi mereka, karena sudah melewati jadi tahu. Memang gak seperti mereka tapi bisa masuk ke mereka," lanjutnya.

Meski begitu, Widi menilai metode belajar seperti yang digagas tidak bisa diterapkan oleh semua orang. Sebab setiap pengajar memiliki ciri khas masing-masing. Jadi, tidak bisa serta merta bisa diadopsi.

Lebih lanjut, Widi mengatakan prinsip coaching yang diterapkan saat mengajar ternyata tidak didapatkan dengan mudah. Pada 2021, warga Godean Sleman ini mengikuti pelatihan profesional dari Coaching Indonesia.

Awalnya, Widi mengaku mengikuti pelatihan coaching untuk dirinya sendiri. Sejak ayahnya meninggal dan Covid-19 melanda, dunia penuh dengan ketidakpastian.

Apalagi, saat itu Widi sedang menempuh studi program Doctor of Business Administration di Universiti Sains Malaysia. Kondisi ekonomi mengalami gejolak, bahkan dia sempat memulai usaha berjualan tahu krauk.

"Sekitar Mei 2020 di-coaching teman SMA, dia ngajak sepedaan zaman Covid. Lalu saya cerita macam-macam tentang hidup termasuk kuliah terkendala. Berkat coaching 3 minggu dari dia, akhirnya lulus," ujar alumnus SMAN 8 Jogja itu.

Lalu Widi memutuskan belajar coaching secara profesional yang ternyata tidak hanya bermanfaat untuk kehidupan pribadi. Nyatanya juga bermanfaat saat mengajar di kelas. Bahkan, berkat belajar coaching, Widi saat ini kerap diminta menjadi pembicara dan coach beberapa perusahaan swasta maupun BUMN.

"Pertama kali dapat kerjaan coaching April 2022 dan keterusan sampai sekarang. Dan saat itu belum tahu coaching siapa. Ada tawaran di grup setelah 2 minggu baru saya follow-up. Gak tau siapa ternyata PLN. Pertama kali masih canggung sekali," jelasnya. (lan).

Editor : Amin Surachmad
#Universitas Teknologi Yogyakarta #metode belajar