Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pendidikan Agama Lintas Iman Ajak Mahasiswa Berdialog, Tepis Intoleransi dan Kecurigaan

Wulan Yanuarwati • Jumat, 25 Agustus 2023 | 22:27 WIB
BELAJAR: Penulis sekaligus editor Yoachim Agus Tridiatmo (tengah) usai peluncuran buku Pendidikan Agama Lintas Iman di Auditorium Kampus 3 UAJY, Rabu (23/8/2023). (Wulan Yanuarwati/Radar Jogja)
BELAJAR: Penulis sekaligus editor Yoachim Agus Tridiatmo (tengah) usai peluncuran buku Pendidikan Agama Lintas Iman di Auditorium Kampus 3 UAJY, Rabu (23/8/2023). (Wulan Yanuarwati/Radar Jogja)

 

SLEMAN - Pendidikan agama di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) berbeda dari perguruan tinggi lain. Pendidikan agamanya khas, dengan pendekatan lintas iman.

Mahasiswa pemeluk agama yang beragam berada dalam satu kelas untuk belajar. Mahasiswa tidak dikotak-kotakkan sesuai dengan agama masing-masing.

Mereka tidak lagi belajar pokok iman secara khusus atau peribadatan. Namun diajak dialog lintas agama tentang pelbagai isu.

Materi yang dibahas berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Sudah tidak lagi membahas teologi agama masing-masing.

"Pendidikan iman ya di gereja (dan rumah ibadah lain) sudah dewasa, gak masih diajari 'bapa kami', ya sudah besar. Ya, (mahasiswa diajak) dialog," ujar Dosen pengampu agama UAJY Yoachim Agus Tridiatmo saat peluncuran buku Pendidikan Agama Lintas Iman di Auditorium Kampus 3 UAJY Jogja, Rabu (23/8/2023).

Mahasiswa diajak berdialog lintas iman dengan diskusi, presentasi dan eksplorasi. Menurut Agus, pembelajaran dengan konsep dialog lintas iman menepis kecurigaan pemeluk agama satu dengan yang lain. Termasuk menepis intoleransi dan radikalisme.

Kecurigaan timbul karena ketidaktahuan. Dengan dialog terbuka seperti itu, para mahasiswa bisa memahami perspektif agama yang berbeda dengan dirinya. Lalu, timbul toleransi yang tinggi dan penerimaan.

"Dampaknya dialog sudah terjadi di kelas, mereka tidak curiga dengan agama lain. Tidak ada curiga ya, mereka jadi biasa," ujarnya.

Menurut Agus, adanya buku Pendidikan Lintas Iman dijadikan buku ajar di UAJY Jogja. Saat ini masih sebatas lingkup kampus UAJY Jogja. Namun dia berharap bisa digunakan untuk perguruan tinggi lain yang berkenan.

"Syukur jika buku ini bisa diterima di tempat lain," ujarnya.

Selain Agus, tim penulis lain yang terlibat ialah Marietta D Susilawati, CH Suryanti, Harsono, Roberto Reno Sitepu, Adrianus Yoga Pranata, dan Michael Rekiantio Pabubung. Dalam buku tersebut ada lima bab dengan pembahasan beragam, mulai dari moral dan kesopanan, agama dan teknologi, hingga seksualitas.

Peluncuran buku Pendidikan Agama Lintas Iman tidak hanya Agus yang menjadi pembicara. Satu lagi pembicara yang dihadirkan ialah Rektor UIN Sunan Kalijaga Jogja Al Makin.

Al Makin mengapresiasi peluncuran buku Pendidikan Agama Lintas Iman yang membahas banyak isu dan masalah yang relevan dari zaman dahulu hingga saat ini. Buku tersebut menawarkan banyak perspektif yang memperkaya diri.

"Bahwa buku ini tidak semata-mata perspektif satu agama, ini merupakan kelebihannya," ujarnya.

Al Makin menyebut banyak isu menarik yang dibahas dalam buku tersebut. Salah satu isu yang dibahas mengenai bunuh diri yang sudah ada sejak zaman Yunani Kuno dan Romawi Kuno. Dia menuturkan kisah filsuf Romawi bernama Lucius Annaeus Seneca atau yang dikenal dengan nama Seneca.

Seneca adalah penasihat Kaisar Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus atau dikenal dengan Kaisar Nero. Dia dipaksa bunuh diri oleh Kaisar Nero yang terkenal sebagai salah satu kaisar Romawi yang kejam. Alasannya, dianggap terlalu mendominasi.

"Memaksa Seneca bunuh diri sama kayak di Yunani Kuno ketika pengadilan memutuskan Socrates bunuh diri karena dituduh meracuni warga dengan keyakinan. Dan bunuh diri waktu itu sah," jelasnya.

"Tetapi setelah era Katholik dan Islam, bunuh diri tidak sah. Dan di jaman saat ini ternyata lebih kompleks apakah sah atau tidak karena tidak hanya menyangkut agama tapi juga hak hidup. Dan juga menyangkut hak mati.

Menurut Al Makin, pengetahuan agama lain dapat membuat pemikiran jauh lebih terbuka. Sehingga sikap dan perilaku akan mengikutinya. Maka, dinilai penting untuk bisa memiliki pengetahuan yang tidak hanya berkutat pada satu ajaran semata. (lan)

Editor : Amin Surachmad
#UAJY Jogja #perguruan tinggi #romawi kuno