Ketua Dewan Juri IdenTIK Eko K. Budiarjo menyebut ajang ini terus berkembang setiap tahunnya. Tak sekadar kompetisi namun membangun sumber daya manusia yang mumpuni. Untuk kemudian ikut bersaing di tingkat internasional.
“Kami dorong agar mampu unjuk gigi di mata dunia. Salah satunya untuk menghadapi kompetisi regional AICTA (ASEAN ICT Awards). Ini adalah program dan proyek prestisius yang disepakati oleh Menteri - Menteri telekomunikasi negara ASEAN,” jelasnya saat ditemui dalam pembukaan IdenTIK 2023 di Kampus STMIK AMIKOM Jogjakarta, Kamis (4/5).
Profesor dari Universitas Indonesia ini menilai ajang kompetisi penting untuk mengasah kemampuan. Daya saing akan menjadi bekal dan modal bagi pelaku industri lokal. Sehingga mampu menguasai pasar kawasan ASEAN bahkan global.
Visi dan misi, lanjutnya, juga mengacu pada era Revolusi Industri 4.0 dan menuju Masyarakat Cerdas 5.0. Sejalan dengan program pemerintah yang mendorong adanya inovasi dan kreativitas para pengembang aplikasi.
“Revolusi Industri 4.0 memerlukan kesiapan infrastruktur digital yang andal dan inovasi teknologi yang mumpuni, sedangkan Masyarakat Cerdas 5.0 berfokus pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” katanya.
Bercerita sejarah, Eko menuturkan IdenTIK telah berjalan sejak 2019. Sebelumnya hadir dengan nama ID. UP. Kala itu terkumpul 30 karya sebagai karya terpilih dari total 708 karya terkumpul.
Untuk IdenTIK 2023 terdapat enam kategori. Diantaranya Public Sector, Private Sector, Inovasi Teknologi Konten Digital, Digital Inclusivity 5. Digital Start-up dan Digital Innovation. Seluruhnya melalui prosesi seleksi yang sangat ketat.
“Kami berpesan agar tonjolkan kemampuan individu, kelompok atau perusahaan. Buatlah karya sebagus-bagusnya dan dedikasikan secara penuh. Bukan sekadar company profile, unsur dari entepreneur adalah bagaimana membuat secara menarik,” pesannya.
Rangkaian kompetisi diawali dengan pendaftaraan melalui situs IdenTIK. Termasuk dalam memasukan karya dalam kompetisi. Untuk kemudian dinilai oleh para Dewan Juri. Terdiri dari pakar maupun praktisi di bidang TIK.
“Tahun ini mengusung tema Collaborate to Grow Stronger. Sesuai harapan agar tak sekadar sebuah ajang kompetisi. Namun, dalam prosesnya nanti, para karya terpilih juga berkesempatan untuk mendapatkan fasilitasi berjejaring skala nasional maupun global,” ujarnya.
Direktur Pemberdayaan Informatika Kementerian Kominfo Boni Pudjianto berharap ajang ini mampu mempertemukan ide-ide segar. Termasuk untuk kemudian berkolaborasi dengan pemerintah. Fokusnya tentu pengembangan TIK di Indonesia.
Dia menuturkan karya terpilih akan maju dalam ajang internasional, AICTA 2024. Tentunya juga dapat menjadi tolok ukur kesuksesan dalam hal inovasi dan kreativitas. UNTIL kemudian mengembangkan diri dalam kesempatan bisnis dan hubungan dagang.
“Dalam upaya mengembangkan skala bisnis dan pengembangan karya terpilih. Menjadi wajah Indonesia di mata internasional dengan kualitas dari karya yang terpilih,” katanya. (Dwi) Editor : Editor News