Hari ini, Jumat (24/2) usai menerima kunjungan dari Disdikpora DIJ, SLB IT Alam Asatama resmi berdiri. Sekaligus menjadi satu-satunya SLB di Kapanewon Cangkringan, Sleman. Kini Ihsan setidaknya telah memiliki 26 siswa dengan kebutuhan khusus yang berbeda-beda. Dia dibantu oleh 13 tenaga pendidik yang merupakan teman-teman Ihsan semasa kuliah.
Berbekal ilmu Pendidikan Luar Biasa saat mengenyam perkuliahan di UNY, Ihsan bersama ibu dan adiknya kompak merintis SLB IT Alam Asatama mulai dari nol. Sang ibu, Latifah rela menggunakan tabungan emas yang dia miliki demi mewujudkan cita-citanya dan sang anak untuk membangun SLB.
"Awalnya saya tidak punya pikiran untuk mendirikan sekolah. Namun, ibu saya punya tabungan. Dia berpesan tabungan emas 50 gram nya itu untuk investasi akhirat, jadi inginnya untuk beramal. Kalau untuk dunia akan habis, tapi kalau dibangun untuk akhirat amal jariyahnya akan terus berjalan," jelas Ihsan ditemui di SLB IT Alam Asatama, Jumat (24/2).
Tak mudah bagi Ihsan untuk mendirikan SLB. Jatuh bangun dia rasakan utamanya dalam mencari siswa. Awalnya kegiatan belajar mengajar dilakukan di halaman rumahnya. Seiring pembangunan SLB IT Alam Asatama di wilayah Cangkringan, Ihsan mau tidak mau harus merangkul warga setempat.
Dia datang dari satu rumah ke rumah warga lainnya. Menurutnya masih banyak orang tua yang belum memahami hak dan pentingnya anak disabilitas untuk mengenyam pendidikan. Orang tua sering kali menganggap keterbatasan sebagai penghambat anak untuk berkembang.
"Cangkringan kan di lereng Gunung Merapi. Terkadang orang tua belum mendapatkan edukasi akan pentingnya anak-anak berkebutuhan khusus. Kami datang dari rumah ke rumah. Ada yang mau ada yang tidak. Intinya kami menyampaikan anak berhak mendapatkan pendidikan, paling tidak dia bisa merawat dirinya sendiri," katanya.
Ihsan mengusung kurikulum nasional yang dipadukan dengan kurikulum sekolah alam. Menurutnya, siswa akan lebih mudah memahami materi pelajaran jika mempelajarinya langsung dari alam. Tak sekedar materi pelajaran, dia juga menanamkan nilai-nilai karakter pada siswa.
Hari Senin Disiplin, siswa diajak untuk mengikuti upacara bendera. Selasa Cendekia, siswa mendapatkan literasi di sekolah. Rabu Rapi menjadi momen bagi siswa untuk bersama-sama membersihkan lingkungan dan memastikan kerapian diri, seperti cek rambut, kuku, dan lainnya.
"Ada hari Kamis Fantastis dimana anak menciptakan karya. Ada seni budaya, keterampilan, dan pertanian. Kalau hari Jumat Sehat itu biasanya olahraga," ujarnya.
Sementara itu, Pengawas Disdikpora DIJ Sardiyana mengapresiasi semangat Ihsan sebagai generasi muda dalam merintis SLB. Ini menjadi secercah harapan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan bagi anak disabilitas. Apalagi SLB IT Alam Asatama diampu oleh lulusan Pendidikan Luar Biasa UNY yang berkompeten.
"Harapannya wawasan ke depan akan lebih baik karena mereka punya bidangnya, memiliki keterampilan yang lebih luar biasa. Sehingga nanti anak-anak kita yang berkebutuhan khusus lebih terampil, lebih mandiri kedepannya," katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News