Kompetisi rutin ini menyajikan ratusan pesawat tanpa awak dari setiap negara peserta. Konsepnya adalah skenario pertempuran udara antara UAV dalam lingkungan yang terkendali. Kompetisi ini terdiri dari dua kategori, yakni rotary wing dan fixed wing.
“Tim Gamaforce ini mengikuti lomba pada katergori fixed wing dan telah melakukan persiapan selama 10 bulan dimulai dari analisis, analisis struktur, elektronis, komponen, dan program hingga jadilah wahana ini," jelas Presiden Gamaforce Ichanul Taqwim, Selasa (9/8).
Pesawat karya Gamaforce ini memiliki keunggulan sistem penguncian atau locking. Berupa kemampuan mengejar pesawat yang ada didepannya secara otomatis. Selain itu juga auto take-off serta auto landing tanpa bantuan pilot.
"Untuk kecepatan yang dimiliki pesawat ini dapat mencapai 150 km/jam," katanya.
Ketua Tim Gamaforce Justin Edwardo optimis UAV gamaforce mampu meraih predikat juara. Terlebih pesawat tanpa awak ini telah melalui riset mendalam. Hingga akhirnya mampu terbang dengan sejumlah kemampuan tambahan.
Timnya menargetkan bisa meraih juara dalam kompetisi ini. Walau begitu dia juga tak ingim jemawa. Ini karena tim yang berlaga tentu menampilkan karya-karya terbaiknya.
"Pasti melalui proses mencoba dan gagal. Lalu ada improvisasi atau pengembangan sehingga bisa jadi seperti sekarang ini," ujarnya.
Tim Gamaforce merupakan satu-satunya tim yang mewakili Indonesia. Total ada 6 kru dan seorang pembina yang akan berangkat ke Turki. Sebagai catatan, tim Gamaforce pernah meraih predikat juara 3 pada 2019 di kompetisi yang sama. (Obi/OM26/OM27/dwi) Editor : Editor News