Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dapat Dana Hibah Riset Mandiri, Dosen STTKD Meneliti Alat Pendeteksi Masker

Editor News • Minggu, 7 Agustus 2022 | 03:24 WIB
INOVASI : Para dosen STTKD melakukan penelitian yang diberi judul Integrated Warning System pada Penerapan Protokol Kesehatan untuk Menanggulangi Penularan Covid-19. (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
INOVASI : Para dosen STTKD melakukan penelitian yang diberi judul Integrated Warning System pada Penerapan Protokol Kesehatan untuk Menanggulangi Penularan Covid-19. (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Dosen Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD) Jogjakarta melakukan penelitian terkait sistem pendeteksian penggunaan masker di tempat-tempat publik. Penelitian ini diketuai oleh Erwan Eko Prasetyo. Adapula dua anggota tim penelitian lainnya, Muhammad Luqman Bukhori dan Gaguk Marausna.

Penelitian ini diberi judul Integrated Warning System pada Penerapan Protokol Kesehatan untuk Menanggulangi Penularan Covid-19. Nantinya, sistem ini dapat mendeteksi orang yang tidak menggunakan masker. Juga yang menggunakan masker namun pemakaiannya tidak tepat.

Ketua Tim Penelitian Erwan Eko Prasetiyo mengatakan penelitian dimulai sejak akhir 2021. Progres penelitian terkini telah mencapai 70 persen. Tentunya akan dirampungkan agar penerapan protokol kesehatan di masyarakat optimal.

"Guna meningkatkan kesadaran dan ketertiban masyarakat dalam penggunaan masker, maka diperlukan suatu sistem pengawasan prokes yang terintegrasi dengan pemberian peringatan suara secara otomatis," jelasnya saat ditemui di STTKD, Jumat (4/8).

Erwan menjelaskan perangkat utama yang digunakan dari perancangan desain deteksi masker disebut Jetson Nano. Didalamnya berisi beberapa komponen. Diantaranya mini PC, kamera, LED monitor dan power supply.

Sementara perangkat lunak yang digunakan adalah Phyton. Digunakan untuk menulis pemrograman berdasarkan algoritma yang dipakai. Tepatnya algoritma tensorflow atau keras untuk pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan.

"Ada dua tahapan dalam menjalankan algoritma ini, yaitu pelatihan dan penyebaran," katanya.

Tahap pelatihan, lanjutnya, dilakukan dengan membuat model menggunakan tensorflow/ keras. Berdasarkan beberapa sampel data yang menggunakan masker maupun tanpa masker. Data model yang tersimpan kemudian dilatih untuk mendeteksi masker.

Sementara tahap penyebaran dilakukan dengan menggunakan detektor masker. Tentunya yang telah dilatih untuk mendeteksi masker, pengenalan wajah dan membedakan orang dengan atau tanpa masker melalui kamera.

"Pengujian model tanpa mengenakan masker berhasil dideteksi dengan akurasi sebesar 100 persen kepada 5 orang. Pengujian model dengan menggunakan masker juga berhasil dideteksi dengan akurasi keberhasilan mendeteksi rata-rata sebesar 98,54 persen dari 5 orang yang terdeteksi," ujarnya.

Penelitian ini sepenuhnya didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui hibah riset mandiri. Tak bekerja sendiri, para peneliti juga menggandeng PT. Gagas Anagata Nusantara sebagai mitra. (*/isa/dwi) Editor : Editor News
#alat pendeteksi makser #Erwan Eko Prasetyo #STKKD Jogjakarta #penelitian Covid-19