Ketua Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) Korwil Jawa Timur Irfan H. Djunaidi mengatakan, tantangan dunia industri pakan di Indonesia berasal dari kompetisi penggunaan bahan pakan. Terdiri atas food, feed, and fuel.
Selain itu, menurutnya, ketersediaan bahan pakan lokal hanya sekitar 35 persen. Sisanya impor. “Ini menjadi tantangan kita bersama untuk perlahan mengubah dinamika itu," ujarnya dalam Seminar Nasional IV Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Pobangtan YoMa) bertema “Ketersediaan Protein untuk Ketahanan Pangan Indonesia”, Rabu (22/6/2022).
Irfan mengungkapkan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh jenis dan jumlah pakan yang terbatas, labil, dan kualitas rendah, produksi musiman dan tersebar, harga relatif tinggi, serta kontinuitas. “Produksi pakan sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan dan kapasitas industri pakan. Oleh karena itu, potensi pakan lokal masih perlu dikembangkan sebagai bahan sumber protein,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi membenarkan jika pemenuhan kebutuhan pakan di Indonesia berasal dari lokal dan impor. “Pakan lokal terutama berbahan pakan sumber energi seperti jagung, dedak, dan lainnya. Sedangkan potensi pakan lokal sebagai bahan sumber protein masih harus dikembangkan. Misalnya bungkil inti sawit, maggot, dan protein nabati lainnya,” ungkap Dedi dalam paparannya.
Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo (SYL) optimistis Indonesia adalah negara besar dan memiliki sumber daya alam penghasil pangan yang melimpah. Terutama sumber penghasil protein nabati maupun hewani. Karena itulah Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya menjaga sumber nutrisi protein demi menjaga ketahanan pangan nasional dan global.
Sedangkan Direktur Polbangtan YoMa Bambang Sudarmanto menyatakan, ketika negara tidak melakukan ekspor maka produktivitas pangan di Indonesia akan melimpah. Terlebih Indonesia merupakan negara agraris. Hasil pangan juga bisa didiversifikasi. Sehingga negara tidak hanya mengandalkan satu atau dua komoditas pangan. (aya/yog) Editor : Editor Content