Salah satunya adalah Physical Distancing and Mask Detector karya trio Syaikhah Hanifah siswi SMAN 1 Jogja, Estetika Nusantara Yutardo siswi SMA Pangudi Luhur Jogja, dan Nabila Salima Ala siswi SMAN 1 Sedayu. AI karya ketiga siswi ini merespon kondisi pandemi Covid-19.
“Fungsinya untuk mengetahui pelanggaran prokes seperti pemakaian masker dan jaga jarak. Kami gabungkan teknologi Computer Vision dan Convolution Neural Network sebagai alat detektor jaga jarak dan penggunaan masker," jelas Estetika disela-sela acara, Jumat (10/12).
Cara kerja AI ini cukup sederhana. Dengan memasang detektor di sejumlah ruang publik. Selanjutnya sensor di kamera mendeteksi jarak antar orang dan pemakaian masker. Apabila ada pelanggaran prokes maka lampu detektor akan menyala.
Estetika menuturkan alat ciptaan timnya ini bisa dipasang di ruang publik. Mulai dari sekolah, restoran, hotel dan perkantoran. Sehingga penerapan protokol kesehatan di ruang-ruang publik tersebut bisa berjalan dengan baik.
“Prinsip kerjanya mudah kok, bisa dipasang di ruang publik. Tapi memang butuh pengembangan dan penelitian lebih lanjut agar hasilnya lebih maksimal,” katanya.
Tim lain yang beranggotakan Nur Aziz siswa SMKN 2 Depok, Devan Cahya siswa SMAN 2 Jogja, Nastiti Dyah siswi SMKN3 Jogja dan Harun siswa SMAN 1 Jogja hadir dengan Urgent Vehicle Sensor. AI karya tim ini mengadaptasi sistem sensor. Fungsinya untuk mengurai kemacetan.
Tak hanya itu, AI ini juga dapat menyusun skala prioritas. Tepatnya kendaraan-kendaraan yang dalam keadaan darurat. Sehingga mendapatkan prioritas utama untuk melintas dan didahulukan.
"Sensor yang kami buat ini bisa dipasang kamera di persimpangan atau tempat-tempat yang berpotensi kemacetan. Kalau ada ambulans sama Damkar nanti jadi prioritas utama juga," ujar Nur Aziz.
Pemasangan alat bisa dipersimpangan jalan raya. Untuk saat ini masih dalam bentuk purwarupa. Nur Aziz berharap pengambangan alat terus berjalan. Sehingga alat karya timnya bisa dipasang di sejumlah ruas jalan raya.
"Untuk ambulans atau mobil damkar nanti ada pemberitahuan pakai speaker dan sirine. Jadi dari jarak jauh sudah terdeteksi dan ruas jalan bisa terbuka untuk kendaraan prioritas. Konsepnya seperti itu,” katanya.
Sementara Ketua Umum Yayasan Sagasitas Indonesia Zainal Abidin mengungkapkan Jogjakarta AI Summit mendorong upaya demokratisasi pendidikan Kecerdasan Artifisial. Dipilihnya pelajar karena potensi di tingkat ini sangatlah tinggi.
Pernyataan Zainal terbukti dengan terkumpulnya 21 purwarupa AI. Tercatat sebanyak 40 pelajar mengikuti program Intel Prakarsa Muda ini. Hasilnya dipamerkan di lokasi yang sama dengan penjabaran setiap detilnya.
"Potensi yang sangat luar biasa. AI yang mereka ciptakan ini adalah solusi permasalahan publik. Bisa direspon dengan pengembangan sehingga produk benar-benar hadir sebagai solusi di masyarakat,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News