Mulanya, dia menjelaskan bahwa Kulonprogo berpenduduk sekitar 447 ribu jiwa dari sensus terakhir. Menurutnya, Kulonprogo berangkat dari banyak ketertinggalan, sehingga harus mengejar kemajuan seperti daerah lain di DIY. Salah satunya dengan semangat gerakan Bela-Beli Kulonprogo.
Tedjo menegaskan, kalau ingin membela Kulonprogo beli produk Kulonprogo, berarti ikut menghidupi daerah. “Dicoba yel-yelnya, jadi kalau saya bilang ‘Bela Kulonprogo’ nanti bapak-ibu jawab ‘Beli Kulonprogo’. Kalau saya bilang ‘Beli Kulonprogo’ bapak ibu jawab ‘Bela Kulonprogo’,” katanya diikuti tawa peserta.
Kulonprogo juga berupaya mandiri. Di antaranya dengan memaksimalkan produk PDAM. PDAM Kulonprogo awalnya hanya perusahaan daerah air bersih. Namun saat ini sudah bisa menguasai sekitar 26 persen produk air minum di Kulonprogo dengan merk Airku, kepanjangan dari Air Kulonprogo.
“Untuk petani, peternak dan perajin, kami juga punya yel-yel. Iso nandur ngopo tuku (Bisa Menanam Kenapa Beli), iso ngingu ngopo tuku (Bisa Memelihara Kenapa Beli), iso nggawe ngopo tuku (Bisa Membuat Kenapa Beli). Ayo bareng-bareng dicoba,” ajaknya lagi-lagi dengan diikuti tawa peserta.
Narasumber lainya, Asisten Pembangunan Ekonomi dan Kesra Kabupaten Pemalang, Dr. Supa’at mengatakan, jika Pemalang tidak berinovasi dan adaptasi, maka akan tergerus zaman. Kondisi Pemalang memiliki luas 1115, 30 km2. Berada di jalur transportasi pantai utara (pantura). Terdiri dari 14 kecamatan, 211 desa dan jumlah penduduk 1,3 juta jiwa dari data BPS 2017.
“Pemalang meraih penghargaan World Summit on the Information Society 2018, sukses dalam teknologi dan informasi. Juga pusat pemberdayaan informasi pedesaan dan sudah melakukan e-vooting pilkades di 172 desa. Satu-satunya di Indonesia dan sudah ditinjau Menristek Dikti,” paparnya. (riz/jko/gp/mg3) Editor : Editor News