Menjaga Eksistensi Kelompok Wanita Tani (KWT), Berkembang dan Berkesinambungan

Yogi Isti Pujiaji • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 07:00 WIB
Anggota DPRD Kabupaten Sleman Ir H. Abdul Kadir MH. Kader Partai Amanat Nasional
Anggota DPRD Kabupaten Sleman Ir H. Abdul Kadir MH. Kader Partai Amanat Nasional

SLEMAN - Kelompok wanita tani (KWT) kini memiliki peran krusial dalam keluarga. Mereka bukan hanya didorong menjaga eksistensi sektor pertanian. Tapi lebih dari itu. 

Belakangan ini KWT telah menjadi salah satu ujung tombak penanganan stunting. Melalui program pengelolaan gizi keluarga. Dengan mengoptimalkan lahan pekarangan yang ada untuk mengelola sayur mayur dan buah-buahan. Bahkan memelihara ayam petelur atau pedaging.

Hasilnya diutamakan untuk pemenuhan gizi keluarga. Jika masih ada sisa bisa dijual ke pasar atau tetangga.

Hal tersebut menjadi prioritas program Anggota DPRD Kabupaten Sleman Ir H. Abdul Kadir MH. Kader Partai Amanat Nasional itu terus berupaya memaksimalkan peran KWT sekaligus guna menciptakan kemandirian ekonomi ibu-ibu rumah tangga. "Termasuk ibu-ibu di lingkungan perumahan yang serba sempit lahan pertaniannya. Bagi mereka yang tak punya lahan sekalipun tetap bisa bertani dan menghasilkan produk gizi keluarga," ungkap Kadir, Minggu (27/9/2026).

Sebagai wakil rakyat, sejauh ini Kadir telah melakukan advokasi dan memfasilitasi warga untuk mengakses lahan pertanian yang tersedia. Misalnya untuk penggunaan tanah kas desa. Atau tanah milik warga yang masih longgar. Agar bisa dimanfaatkan oleh KWT.

Baca Juga: Alexander Isak Tinggalkan Kamp Timnas Swedia karena Cedera

Misalnya di Padukuhan Sumberan, Sariharjo, Ngaglik. Menurut Kadir, banyak ibu-ibu atau bapak-bapak pensiunan pegawai yang tertarik terjun dan menekuni pertanian. Maka Kadir pun menginisiasi program pemberdayaan dan pelatihan dengan menggandeng Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman. Di antaranya, pelatihan mengolah hasil pascapanen cabai. Atau membuat abon lele. Serta bahan olahan pangan hasil pertanian lainnya.  "Ini untuk menambah nilai ekonomi atas hasil pertanian. Dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan," tuturnya.

Kadir bertekad melakukan pendampingan KWT di Kabupaten Sleman untuk jangka panjang. Bukan hanya seumur jagung. Tapi harus bisa berkembang terus dan berkelanjutan programnya. "KWT harus sustainable. Kami berikan program berkesinambungan sesuai DNA masing-masing," tegas politikus asal dapil 2 Sleman (Pakem, Ngaglik, Cangkringan).

Meski hasilnya belum banyak, bagi Kadir tidak masalah. Pelan-pelan dan bertahap. Yang penting konsisten.

Di sisi lain, Kadir juga terus mengawal program pembangunan daerah yang berimplikasi pada sektor pertanian. Perbaikan saluran irigasi, misalnya. Ini penting demi menjaga kesuburan tanah dan hasil panen.

Baca Juga: Buntut Keracunan MBG hingga Belum Ada SLHS. BGN Tutup Permanen Satu SPPG dan 24 Sementara di DIY

Terlebih hal itu sejalan dengan visi misi bupati dan linier dengan program nasional mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan. "Apalagi saat kemarau ini kebutuhan pengairan lahan pertanian sangat vital. Jangan sampai ada petani saling berebut air," katanya.

Perbaikan jalan usaha tani, lanjut Kadir, juga perlu dioptimalkan lagi. Demi kelancaran petani mengakses lahan pertanian. Juga memudahkan petani mengangkut hasil panen.

Menurut Kadir, jalan usaha tani seharusnya bagus supaya bisa dilewati mobil. Syukur dilengkapi sarana penerangan jalan yang memadai. "Ini sejalan dengan program prioritas bupati mewujudkan dalane alus dalane padhang," jelas Kadir. (yog)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : radar jojga
Ir H. Abdul Kadir MH. KWT Kelompok Wanita Tani Stunting partai amanat nasional