JOGJA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melantik pejabat eselon II hingga IV sebanyak 125 jabatan. Pelantikan tersebut termasuk pertukaran kursi jabatan Atik Sudarmi yang saat ini menjabat Kepala Biro Perekonomian dan SDA Setprov DIY dengan Eling Priswanto yang kini menjadi Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIY.
Mantan Kepala Dispar DIY Atik Sudarmi mengatakan, meskipun jabatannya saat ini turun dari eselon II a menjadi eselon II b, dia mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Menurutnya, apa pun yang menjadi keputusan pimpinan pasti merupakan yang terbaik.
"Itu adalah kepercayaan yang sangat besar bagi saya," katanya seusai pelantikan Jumat (28/8).
Prinsipnya, sebagai ASN yang sejak awal diangkat telah bersumpah untuk bisa menerima penempatan di mana saja dan dalam jabatan apa saja. Jadi, apa pun yang menjadi keputusan pimpinan, dia siap menjalankannya sesuai dengan regulasi yang berlaku.
"Jadi masalah penempatan, saya tidak akan komentar, karena sifatnya adalah menerima surat perintah untuk melaksanakan jabatan tersebut," terangnya.
Sebelumnya, dia bekerja di lingkungan yang kliennya merupakan ASN. Kemudian, saat bertugas di Dispar DIY dan Biro Perekonomian, kliennya akan berhadapan langsung dengan masyarakat. Perbedaannya itu yang membuat dirinya banyak belajar mengenai jabatan barunya tersebut.
"Mungkin permasalahan yang beredar di media massa, itu monggo saya serahkan ke pimpinan,” jelasnya.
Lebih lanjut, saat mengemban amanah baru, dia akan berkoordinasi terlebih dahulu secara internal untuk melihat capaian-capaian yang telah dilakukan pejabat sebelumnya, termasuk hal-hal yang masih belum tercapai dan perlu diselesaikan hingga Desember 2026. Sementara untuk 2027, program perencanaan sudah berjalan dan telah diusulkan anggarannya. Nantinya, dia juga akan mempelajari capaian-capaian yang harus dilakukan pada 2027.
Mantan Kepala Biro (Kabiro) Perekonomian dan SDA Setprov DIY Eling Priswanto mengaku, baru mengetahui pergantian jabatannya Kamis (27/8) malam saat diminta mengambil undangan.
"Kami langsung mengambil undangan dan alhamdulillah pagi ini mendapat amanah baru sebagai Dispar DIY," katanya.
Rencana ke depan yang akan dilakukannya sebagai Kepala Dispar DIY, meneruskan berbagai pekerjaan rumah, pending matters, maupun hal-hal lainnya demi kemajuan pariwisata DIY. "Saya rasa itu segera untuk gaspol ke depan meningkatkan pariwisata DIY untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat DIY," tegasnya.
Menurutnya, proses promosi jabatan, rotasi, dan mutasi merupakan hal yang biasa. Pada saatnya nanti, semua pegawai yang berkompeten dan memenuhi kualifikasi juga dapat mengalami hal yang sama dengannya maupun pejabat lainnya.
"Ini hal yang biasa,” tambahnya.
Dia pun mengaku bahagia atas jabatan yang saat ini diembannya. Namun, menurutnya, jabatan tersebut juga menjadi tambahan tanggung jawab dan amanah yang cukup berat. Sebab, sebagai daerah pariwisata, DIY memiliki banyak hal yang harus dilakukan oleh Dispar DIY.
"Sehingga memang menuntut tanggung jawab yang lebih besar disertai dengan hal-hal yang kiranya bisa meningkatkan pariwisata DIY," terangnya.
Sementara itu, Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X mengatakan kondisi saat ini berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Sebab, Pemprov DIY kini menggunakan talent pool. Dalam talent pool tersebut terdapat kotak nomor satu hingga sembilan, yang memungkinkan pejabat berpindah-pindah posisi karena memenuhi syarat kepangkatan dan pendidikan.
"Pendidikannya tiga yang harus ditempuh, minimal dua, ya, kalau tidak lewat itu, tidak bisa jadi kepala, kan gitu," jelasnya.
Menurutnya, Badan Kepegawaian Negara (BKN) datang karena pejabat tersebut memenuhi persyaratan pendidikan. Namun, kondisi di daerah dinilai belum sepenuhnya memahami sistem tersebut. Senioritas saja tidak cukup untuk menjadi kepala dinas karena seorang pejabat harus masuk dalam talent pool dan telah memenuhi persyaratan pendidikan.
Jika tidak memenuhi persyaratan pendidikan, seorang pejabat tidak bisa menjadi kepala dinas. Menurutnya, pejabat yang bersangkutan akhirnya tidak akan dipertahankan karena kondisi tersebut.
"Karena dia (Atik, Red) juga sudah dibully, jadi kalau dipertahankan kasihan juga dia. Sedangkan pola rekrutmen itu sekarang sudah beda," pungkasnya. (cin)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja