Peserta PKN II Lulus 100 Persen, Lima Peserta Raih Predikat Sangat Memuaskan

Heru Pratomo • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 21:12 WIB
Bandiklat DIY untuk Radar Jogja
MEMUASKAN: Sebanyak 37 peserta PKN II Angkatan VIII yang mengikuti pelatihan di Bandiklat DIY dari April hingga Agustus 2026 dinyatakan lulus semuanya, lima di antaranya meraih predikat sangat memuaskan.
Bandiklat DIY untuk Radar Jogja MEMUASKAN: Sebanyak 37 peserta PKN II Angkatan VIII yang mengikuti pelatihan di Bandiklat DIY dari April hingga Agustus 2026 dinyatakan lulus semuanya, lima di antaranya meraih predikat sangat memuaskan.

 

BANTUL - Badan Pendidikan dan Pelatihan (Bandiklat) DIY melepas 37 peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan VIII di Gedung Menza lantai II Badan Diklat DIY, Jumat (14/8). Seluruh peserta dari berbagai instansi dan provinsi di Indonesia tersebut dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTP).


Kepala Badan Diklat DIY Amin Purwani mengatakan, PKN II Angkatan VIII berlangsung selama lebih dari empat bulan, mulai April hingga 14 Agustus 2026. Pelatihan diikuti pejabat struktural eselon II dari berbagai instansi di Indonesia. "Selama proses diklat, peserta juga dituntut menunjukkan kemampuan individual dan strategis sebagai pemimpin perubahan," katanya saat sambutan dalam acara Pelepasan PKN tingkat II Angkatan VII. 


Kemampuan tersebut kemudian diwujudkan melalui proyek perubahan yang diimplementasikan di instansi masing-masing dengan melibatkan atasan, kolega, bawahan, serta stakeholder terkait. Peserta telah menghasilkan laporan implementasi proyek perubahan sebagai bentuk aktualisasi potensi kepemimpinan di instansi masing-masing. 

Baca Juga: Dampak Musim Kemarau, Debit Air PDAM Sleman Sudah Turun hingga 15 Persen


Penilaian kelulusan dilakukan secara menyeluruh, meliputi evaluasi akademik, pembelajaran lapangan, evaluasi produk aktualisasi kepemimpinan, serta evaluasi sikap dan perilaku. Evaluasi tidak hanya dilakukan tim Bandiklat DIY, tetapi juga melibatkan tim dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI. "Dari 37 peserta, lima orang memperoleh predikat sangat memuaskan dan 32 peserta meraih predikat memuaskan,” terangnya. 


Badan Diklat DIY juga melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan PKN II Angkatan VIII. Hasilnya, penyelenggara memperoleh nilai rata-rata 93,12 dengan kategori sangat memuaskan. Sementara evaluasi terhadap evaluator memperoleh nilai 93,17, juga dalam kategori sangat memuaskan. "Walaupun penilaian sangat memuaskan kami tidak berpuas diri," ujar Amin.


Sementara itu, Asisten Sekretariat Daerah DIY Bidang Administrasi Umum Imam Pratanadi mengatakan, kemampuan peserta menuntaskan seluruh tahapan pelatihan menjadi indikator kapasitas kepemimpinan sekaligus bukti komitmen. Menurut dia, tema kepemimpinan adaptif berbasis kearifan lokal dalam mendorong kontribusi daerah terhadap ketahanan dan daya saing nasional. "Relevan dengan tantangan pemerintahan saat ini," ungkapnya.

Baca Juga: Siswa SMK asal Sleman Terpilih Jadi Komandan 17 di Istana Merdeka, Pemkab Siapkan Apresiasi


Kepemimpinan birokrasi, lanjut dia, harus adaptif terhadap disrupsi serta mampu mendorong akselerasi transformasi hijau dan digital. Namun, proses tersebut tetap perlu berpijak pada kearifan lokal dan keunggulan kompetitif masing-masing daerah. "Ukuran keberhasilan PKN Tingkat II ini akan diuji secara nyata ketika saudara kembali ke instansi masing-masing," ujarnya.


Sekretaris Utama LAN RI Andi Taufik berharap para lulusan PKN II mampu kembali ke instansi masing-masing sebagai pemimpin yang lebih baik dan membawa perubahan positif. Andi juga menekankan esensi pelatihan kepemimpinan adalah menumbuhkan kemampuan leadership. Sebab, nilai tinggi dalam pelatihan belum tentu berbanding lurus dengan kinerja seseorang di instansi.


Menurut dia, di balik setiap proyek perubahan, lanjutnya, ada tiga pesan penting terkait kegelisahan terhadap masalah publik, keberanian untuk menawarkan cara baru dan komitmen untuk menggerakkan banyak pihak agar perubahan tidak berhenti sebagai dokumen. "Inilah inti kepemimpinan strategis," jelasnya. 


Mengutip pakar kepemimpinan global Ronald Heifetz, Andi menyebut, salah satu kegagalan kepemimpinan yang paling umum adalah ketika pemimpin mencoba menyelesaikan tantangan adaptif dengan solusi teknis semata. Pesan itu, kata dia, sangat relevan bagi birokrasi di Indonesia. Banyak persoalan publik hari ini tidak cukup diselesaikan dengan surat edaran, aplikasi baru, rapat koordinasi, atau pembentukan tim.


"Persoalan kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, kualitas pelayanan publik, transformasi digital, tata kelola data, dan kolaborasi lintas sektor membutuhkan perubahan cara berpikir, perubahan perilaku, perubahan budaya kerja, dan perubahan pola relasi antaraktor," tegasnya.


Dalam kesempatan tersebut, Andi juga membacakan lima peserta dengan peringkat nilai teratas. Mereka yakni Rosdiana Puji Lestari, Henry Kusumas Karyadinata, Agnes Wirdayanti, Kurniawan, dan Rajwan Taufiq. (*/cin/pra)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Sumber : Radar Jogja
Bandiklat DIY evaluasi akademik kontribusi daerah Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) STTP