Sampai dengan awal minggu ketiga Juli 2026 atau minggu ke-69, capaian fisik pembangunan gedung DPRD DIY telah mencapai 81,7 persen. Capaian itu melampaui target rencana sebesar 80,368 persen sehingga ada deviasi positif sebesar 1,377 persen.
Menanggapi itu, Ketua DPRD DIY Nuryadi menyambut positif perkembangan tersebut. Dia ingin gedung baru DPRD DIY yang terletak di Jalan Kenari Yogyakarta itu bisa dirampungkan sesuai perencanaan. “Targetnya harus rampung 6 Desember 2026 dan diserahterimakan,” ujar Nuryadi kemarin (21/7).
Nuryadi menyatakan ada sejumlah masukan disampaikan Gubernur DIY Hamengku Buwono X menyangkut bentuk desain beberapa ruangan. Ketua dewan menilai apa yang dikemukakan gubernur cukup positif. Masukan itu akan ditindaklanjuti. Bila memang diperlukan tambahan biaya, Nuryadi memberikan sinyal untuk dibahas dalam APBD Perubahan 2026 DIY. Dari perhitungan sementara, ada kemungkinan tambahan biaya sebesar Rp 2 miliar. “Nanti kami bahas saat APBD Perubahan. Tapi prinsipnya pengerjaan tetap sesuai rencana. Awal Desember harus tuntas,” tegasnya.
Menyangkut hal itu, Nuryadi juga sudah mendiskusikan dengan Kepala BKPA DIY Wiyos Santoso di sela kunjungan Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X ke lokasi calon gedung dewan pada Rabu (15/7) lalu. Menurut Nuryadi, target penyelesaian pembangunan gedung tidak boleh bergeser. “Harus sesuai rencana awal dalam kontrak yang sudah disepakati,” ingatnya.
Berdasarkan perencanaan itu, boyongan ke gedung baru diperkirakan dapat dilakukan pada awal tahun depan. Nuryadi memperkirakan waktunya sekitar Februari 2027. Dewan bakal resmi pindah kantor. Dari gedung DPRD DIY di Jalan Malioboro 54 ke Jalan Kenari Umbulharjo Yogyakarta. Selama 76 tahun, parlemen DIY menempati bangunan yang sebelumnya dikenal dengan sebutan gedung Setan. Sebelumnya pada 1949-1950 juga pernah dipakai bersidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).
Wakil Ketua DPRD DIY Umaruddin Masdar juga mengapresiasi tingginya atensi gubernur atas jalannya pembangunan calon gedung dewan. Besarnya perhatian itu ditunjukan saat dua jam mengunjungi dan mengelilingi berbagai ruangan. Umar, sapaan akrabnya, saat itu ikut hadir mendampingi gubernur. “Terima kasih kami sampaikan,” katanya.Umar mencatat ada beberapa masukan yang disampaikan gubernur. Semuanya akan ditindaklanjuti karena sifatnya demi penyempurnaan.
Salah satu yang menjadi perhatian HB X terkait dengan ornamen di dalam gedung dewan. Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu melihat banyak lekungan di beberapa ruangan. Lekungan itu mirip seperti bentuk bangunan yang akan masuk benteng keraton.
Dalam pesannya, HB X minta ada penyesuaian agar lekungan ditambah interior baru. Tujuannya agar tampilannya berubah. Tak lagi seperti akan masuk beteng.
Bangunan lain yang disoroti adalah tangga berikut lantai dari marmer yang licin. Kondisi tersebut bakal merepotkan. Membuat kesulitan orang akan menuruni tangga. Belum lagi bagi ibu-ibu atau kaum perempuan yang berkebaya. Memakai sepatu atau sandal dengan hak tinggi. “Ini perlu dipertimbangkan karena tamu yang datang dari banyak usia,” saran HB X.
Baca Juga: Dewan Matangkan Bahas Raperda Perlindungan Konsumen, Soroti Promosi Produk Libatkan Influencer
Catatan lainnya menyangkut daya tampung lift. Kemudian ukuran mebeler di ruang paripurna. Juga ruang-ruang komisi. Semuanya dihitung secara cermat. Panjang dan lebarnya. “Kalau di ruang komisi ada kebutuhan untuk menulis. Beda dengan ruang paripurna,” ingatnya.
Dalam kesempatan itu, gubernur mengapresiasi kinerja rekanan atau pemborong yang menggarap bangunan gedung DPRD DIY. HB X melihat secara fisik cukup baik. Pembangunan gedung dewan ini dikerjakan oleh BUMN PT Waskita Karya.
Kunjungan HB X itu berlangsung sekitar dua jam. Datang ke lokasi sekitar pukul 12.30. Gubernur disambut empat pimpinan dewan. Ketua DPRD DIY Nuryadi bersama tiga wakil ketua dewan Budi Waljiman, Imam Taufik dan Umaruddin Masdar. Juga ikut menyambut Sekretaris DPRD DIJ Yudi Ismono.
Tampak ikut mendampingi Sekprov DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, Inspektur DIY Muhammad Setiadi, Kepala Bapperida Danang Setiadi, Kepala BPKA Wiyos Santoso, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika DIY Hari Edi Tri Wahyu Nugroho serta Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda DIY Aria Nugrahadi.
Dari lantai satu, kunjungan dilanjutkan ke lantai dua. Ruangan yang didatangi antara lain ruang transit, ruang pimpinan dewan, dan ruang paripurna. HB X sempat memberikan komentar soal letak ruang ajudan atau sekretaris pribadi. Lokasinya jangan melewati ruangan tamu-tamu penting dewan. (kus/gp)
Jelang Pengerjaannya Rampung, HB X Ingin Tinjau Lagi
Ada pesan khusus dikemukakan Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X terkait pelaksanaan pembanguan gedung DPRD DIY. Usai memberikan sejumlah catatan dan masukan, HB X mewanti-wanti agar kelak bila gedung menjelang pengerjaannya rampung, dirinya agar diberi laporan. “Saya ingin datang lagi melihat kembali,” ucapnya.
Sekretaris DPRD DIY Yudi Ismono menegaskan kesiapannya menindaklanjuti beberapa arahan gubernur demi penyempurnaan terkait estetika bangunan. Yudi melihat respons gubernur sangat baik. Dia menjelaskan desain gambar yang direncanakan dari awal seperti itu. Namun dalam perkembangannya muncul arahan dari HB X.
“Tidak semata-mata plengkung, tapi dipasangkan dengan ornamen-ornamen,” terang Yudi yang juga bertindak sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) gedung DPRD DIY. Yudi langsung menindaklanjuti arahan itu dengan mendiskusikan bersama jajaran Dinas PUPESDM DIY. Rencananya setiap lengkungan ruangan ditambah dengan ornamen dari tembaga.
Menurut dia, arahan gubernur itu menjadi bagian dari penyempurnaan desain tanpa mengubah konsep utama bangunan. Penambahan ornamen diharapkan semakin memperkuat karakter arsitektur gedung yang selaras dengan identitas budaya Yogyakarta.
Di bagian dia mengungkapkan, kontrak awal gedung dewan Rp 293 miliar. Kemudian ada addendum kontrak terakihr menjadi Rp 307 miliar. Itu karena ada penyesuaian kondisi di lapangan dan penambahan beberapa pekerjaan baru. “Nilai kontrak telah dipastikan tidak terkena dampak eskalasi kenaikan harga,” jelas Yudi.
Fokus pekerjaan saat ini berupa penyelesaian interior, pengadaan mebeler dan penataan landscape halaman. Struktur bangunan utama sudah berdiri kokoh sesuai rencana awal. Ada pekerjaan tambahan dilakukan pelebaran area pedestrian di sisi depan gedung untuk memberikan akses publik yang lebih memadai. Konsep visual lebih terbuka. Pemasangan pagar lingkungan dan beberapa item lainnya.
“Seluruh proses pembangunan ini terus dikawal secara ketat oleh inspektorat, BPKP. LKPP dan disupervisi secara periodik oleh KPK dan kepolisian serta kejaksaan,” tegas mantan Sekretaris Inspektorat DIY ini. (kus/gp)
Editor : Jihad Rokhadi