Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto Kembali Kampanyekan Bijak Bermedia Sosial, Produk Kebudayaan Lahirkan Beragam Kreativitas

Kusno S Utomo • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 06:00 WIB
Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto. Foto kanan: Kelompok Jatilan Warok Putri Sambirejo, Prambanan, Sleman saat tampil memeriahkan peringatan Hari Desa Nasional. Muatan tradisional dipandu dengan kekinian digandrungi nitizen. Tak bisa dibantah produk kebudayaan laku di kalangan anak muda. (Foto: Kusno S. Utomo, Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto. Foto kanan: Kelompok Jatilan Warok Putri Sambirejo, Prambanan, Sleman saat tampil memeriahkan peringatan Hari Desa Nasional. Muatan tradisional dipandu dengan kekinian digandrungi nitizen. Tak bisa dibantah produk kebudayaan laku di kalangan anak muda. (Foto: Kusno S. Utomo, Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

JOGJA - Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto punya gaya tersendiri dalam membetot perhatian kalangan Gen-Z. Khususnya kalangan mahasiswa yang tengah mengambil studi di Jogja. Dia membuka sesi dengan memutar video seni budaya klenengan Ayun Ayun Gobyog.

 Itu dilakukan Eko saat menjadi narasumber Diseminasi Konten Positif dan Literasi Keamanan Informasi bertajuk “Waspada Hoaks Jaga Privasi Digital” di Aula Dinas Komunikasi dan Informatika DIY pada Kamis (16/7/2026). Alumni Magister Ekonomi Pembangunan (MEP)  UGM itu sengaja memutar video itu untuk memberikan pengalaman baru kepada mahasiswa.

“Apakah ada yang baru pertama kali mendengar dan melihat. Rasanya kok mayoritas ya? Tapi di sini ada yang masih suka campursari,” ujar Eko disambut senyum para peserta. Selanjutnya, Eko memutar Warokan ala Temanggung dan Wonosobo. Berikutnya Ganong dan Reog Ponorogo. Lalu sekilas limbukan dalam wayang kulit yang dimainkan dalang almarhum Ki Seno Nugroho.

Eko menyampaikan betapa tayangan yang didokumentasikan di YouTube itu banyak ditonton orang. Baik yang hadir langsung maupun melalui tayangan media sosial. Mantan aktivis semasa mahasiswa itu kemudian mengajak peserta diseminasi berdiskusi. Suasana gayeng terlihat. Ketua Komisi A menanyakan apa sesungguhnya yang terpotret dari tiga tayangan tersebut.

Baca Juga: Tak Cukup Andalkan Destinasi, Sleman Bidik Event untuk Dongkrak Wisata

Sevi, mahasiswa asal Temanggung mengatakan, Warokan di Temanggung masih digandrungi anak-anak muda. Itu terjadi di tengah rata-rata anak muda main Tiktok yang menayangkan konten luar negeri. Hadirnya warokan yang dikreasi membuat anak muda menjadi tertarik. Ini mengobati rasa kehilangan seni budaya seperti ketoprak. “Kita ini sekarang kehilangan ketoprak, padahal  seharusnya mencintai budaya ini,” kata Sevi.

Suasana semakin riuh dengan pendapat Rosyid mahasiswa dari Wonosobo. Dia mengatakan,  melalui budaya warokan yang sudah dikemas dengan lagu modern, membuat  orang tertarik  menontonnya. “Apalagi kalau kemudian mendatangkan artis. Tambah ramai. Perpaduan gamelan dan organ bisa digunakan menyanyi lagu apa saja. Itu membuat anak muda tertarik. Mereka bisa joget-joget,” ucap Rosyid disambut riuh peserta.

Wafiq, mahasiswa asal Ponorogo mengungkapkan, Reog Ponorogo banyak yang menonton.  Banyak variasi ditampilkan seperti dalam acara Festival Reog Nasional yang digelar setiap tahun.

Memperhatikan itu, Eko mengapresiasi beragam pandangan anak muda itu. Mereka dinilai memiliki pengetahuan tentang seni budaya. Menurut Eko, sejatinya dari tiga tayangan tersebut merupakan potret apa yang terjadi di dunia maya. Berbagai kesenian tradisional ditonton banyak orang.

“Itulah wajah ideal media sosial kita. Ada alat musik yang berbeda, penari dan gagasan berbeda, tapi menjadi satu harmoni yang menyenangkan dan membahagiakan,” ingat anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD DIY ini.

Baca Juga: Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Moskow Hadiri Wisuda Mahasiswa Penerima Beasiswa BAZNAS, Ini Pesan Penting untuk para Lulusan

“Ada yang tertarik dengan performa kebudayaan. Itulah wajah media sosial yang  ideal untuk hari ini. Harus begitu. Di sana wajah menakutkan tidak ada,” lanjutnya. Media sosial hari ini, sambung dia, isinya bermacam-macam. Bahkan lebih banyak disharmoni daripada harmoninya. “Hoaks jadi industri. Penipuan online maupun judi online juga menjadi industri.

Di sisi lain, masih banyak yang berusaha keras menampilkan konten positif melalui produk kebudayaan. Banyak yang menyaksikan produk kebudayaan melahirkan beragam kreativitas. Memproduksi dan mengkaryakan konten positif. Eko berpesan agar mahasiswa mau memproduksi konten yang tidak melukai diri sendiri dan orang lain. Tapi konten yang menyenangkan. Dia memberikan ilustrasi. Sekarang yang tengah menjadi tren itu kuliner.

Ceritakan kuliner dari berbagai perspektif. Misalnya murah, enak dan tradisional. Eko meminta Dinas Komunikasi dan  Informatika DIY ikut mendorong orang melahirkan konten positif. Ada konten positif yang sangat kuat. Dia mencontohkan konten warokan yang ditonton 2,4 juta kali tayang. Padahal warokan dipersepsikan sebagai tontonan orang tua.

“Nyatanya digandrungi netizen. Konten tradisional dipadu dengan kekinian mampu menyedot animo. Tak ada lagi yang bisa membantah produk kebudayaan itu laku di anak muda. Ini memang agak anomali,” papar ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta ini.

Ditambahkan, membangun konten positif bukan hal yang sulit. Konten itu bahannya ada di sekitar kita. “Mengangkat yang ada di sekitar kita. Mencitrakan positif seni, makanan, dan lainnya,” pinta Eko. (kus)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Ayun Ayun Gobyog Fraksi PDI Perjuangan DPRD DIY Waspada Hoaks Jaga Privasi Digital Ketua Komisi A Eko Suwanto