JOGJA - PT Kereta Api Indonesia (KAI) dipastikan mendukung mandatori pemerintah untuk menggunakan bahan bakar diesel B50. Penggunaan bahan bakar campuran 50 persen biodiesel berbahan dasar minyak kelapa sawit dan 50 persen solar fosil itu diklaim lebih efisien.
Penggunaan B50 mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 4/2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati. Serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 mengenai kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam minyak solar.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan, penggunaan B50 dapat mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap penggunaan bahan bakar impor. Lantaran B50 bisa diproduksi mandiri oleh Indonesia sebagai penghasil bahan dasar nabati melalui kelapa sawit.
Menurutnya, Indonesia merupakan negara pertama yang berhasil melakukan pencampuran bahan bakar nabati di atas konsentrasi B20. Melampaui negara lain seperti Brazil yang saat ini masih berada di level B10.
PT KAI juga telah melakukan uji coba B50 pada lokomotif kereta sejak 1 Juli 2026. Hasilnya tidak menghadapi kendala meskipun ada beberapa penyesuaian secara teknis.
Serta cukup efektif karena dapat mengurangi konsumsi bahan bakar berbahan dasar fosil yang terus menipis ketersediaannya.
“Sekarang kita mulai shifting (beralih) pada sumber daya yang bisa diperbarui,” ujar Bobby di sela penanaman pohon dalam rangkaian Pekan Olahraga dan Seni Kereta Api (Porsenika) 2026 di Balai Yasa Jogjakarta, Senin (13/7/2026).
Selain melalui peralihan bahan bakar, Bobby menegaskan pihaknya juga menggencarkan penggunaan lokomotif ramah lingkungan. PT KAI berencana memperluas jangkauan Kereta Rel Listrik (KRL) guna menekan emisi karbon nasional secara signifikan
Dia mengklaim, KRL berkontribusi cukup besar dalam mereduksi polusi udara. Sebagai perbandingan, emisi karbon yang dihasilkan oleh satu penumpang KRL hanya sebesar 34 gram per kilometer.
Jauh lebih rendah ketimbang penggunaan mobil pribadi yang mencapai 140 gram per kilometer.
Untuk itu, PT KAI tengah merencanakan perpanjangan jalur KRL di berbagai wilayah strategis. Termasuk pengembangan interkoneksi di wilayah Jabodetabek, wilayah Jogjakarta-Solo, hingga proyek pengerjaan jalur ramah lingkungan di Surabaya.
Baca Juga: Sebanyak 38 Calon Paskibraka Kota Jogja Mulai Jalani Latihan Intensif, Ini Tahapannya
Pada aspek energi, PT KAI juga telah mengoperasikan 113 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya di 92 lokasi dengan kapasitas mencapai 4.430,65 kilowatt peak. Sehingga berpotensi pengurangan emisi lebih dari 5.000 ton karbon dioksida per tahun.
“Emisi dari CO2 (karbon) ini dapat terus kami tekan,” beber Bobby. (inu)
Editor : Winda Atika Ira Puspita