Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ketahanan Keluarga Kunci Menjaga Nilai Budaya dan Mencegah Penyimpangan Sosial, Bisa Tekan Kenakalan Remaja hingga Paham Ekstrem

Fahmi Fahriza • Jumat, 26 Juni 2026 | 08:08 WIB
BERDAYA: Sesi diskusi Rembag Kaistimewaan bertema Keluarga Berdaya, Keistimewaan Terjaga, yang diselenggarakan Paniradya Kaistimewaan DIY Kamis (25/6/2026). Tangkapan Layar YouTube 
BERDAYA: Sesi diskusi Rembag Kaistimewaan bertema Keluarga Berdaya, Keistimewaan Terjaga, yang diselenggarakan Paniradya Kaistimewaan DIY Kamis (25/6/2026). Tangkapan Layar YouTube 

JOGJA - Penguatan ketahanan keluarga menjadi kunci menjaga nilai-nilai budaya sekaligus mencegah berbagai penyimpangan sosial di DIY.

Mulai dari kenakalan remaja, pernikahan dini, hingga paparan paham ekstrem yang melibatkan anak-anak dapat ditekan jika keluarga mampu menjalankan fungsi pendidikan dan pengawasan secara optimal.

Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY Ariyanti Luhur Tri Setyarini mengatakan, berbagai program pemberdayaan masyarakat yang didukung dana keistimewaan (Danais) juga diarahkan untuk memperkuat keluarga sebagai basis pelestarian budaya.

Baca Juga: Kejari Kebumen Gandeng BPK untuk Audit Kerugian Negara Kasus Dugaan Korupsi PT Aneka Usaha Kebumen Jaya

"Kita mendukung kelompok-kelompok masyarakat untuk memperkuat keluarga agar lebih berdaya, dan nilai-nilai budaya tetap tumbuh di dalamnya. Jadi sangat erat kaitannya antara nguri-uri kabudayan dengan keluarga," katanya dalam Rembag Kaistimewaan bertema Keluarga Berdaya, Keistimewaan Terjaga, yang diselenggarakan Paniradya Kaistimewan DIY, Kamis (25/6/2026).

Salah satu kewenangan istimewa yang dimiliki DIY adalah kewenangan kebudayaan. Upaya menjaga kebudayaan tidak lepas dari peran keluarga sebagai ruang pertama pembentukan karakter dan penanaman nilai.

"Kewenangan kebudayaan diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan hasil cipta, rasa, karsa, dan karya berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, dan tradisi luhur yang mengakar di masyarakat di DIY," ujarnya.

Baca Juga: Ben Swarna Sugi; Ubah Sampah Plastik Jadi Saldo Digital, Dorong Warga Magelang Menabung dari Botol, Langsung Bisa untuk Belanja

Ia menjelaskan, berbagai tradisi yang hidup di DIY, mulai dari prosesi sebelum pernikahan, mitoni, tedak siten, hingga berbagai ritual dalam daur hidup manusia merupakan bagian dari warisan budaya yang sarat makna dan nilai kehidupan.

"Semua nilai-nilai itu pertama kali diajarkan di keluarga. Budi pekerti, suri teladan, hingga nilai kehidupan berawal dari keluarga," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY Erlina Hidayati Sumardi menilai, keluarga menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Baca Juga: Eks Mantri BRI Sanden Korupsi KUR Rp 711 Juta, Diduga Buat Kredit Fiktif  dan Manipulasi Data Debitur lewat Perantara Calo

Selain persoalan kemiskinan, kesehatan dan pendidikan, muncul pula berbagai persoalan sosial yang melibatkan anak dan remaja.

Maka, penguatan ketahanan keluarga menjadi langkah penting untuk mencegah berbagai persoalan berkembang menjadi masalah sosial yang lebih luas.

"Kalau setiap keluarga bisa berketahanan dengan baik, maka tidak akan banyak masalah yang berdampak ke masyarakat," terangnya.

Pada kesempatan momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) Juni ini, dia mengajak untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi masing-masing keluarga. Salah satunya dengan melakukan asesmen di dalam kelurga.

Baca Juga: PSS Sleman Dikabarkan Kepincut Lucas Fringeri meski Harus Berebut dengan  Garudayaksa FC, Adhyaksa FC, MU, dan Malut United

"Mengukur diri, melihat permasalahan apa yang perlu segera dicarikan solusi, apakah bisa diselesaikan sendiri atau membutuhkan bantuan pihak lain," pesannya.

Erlina mengakui berbagai persoalan masih ditemukan di DIY, mulai dari pernikahan usia dini, kenakalan remaja hingga paparan paham ekstrem yang melibatkan anak-anak.

"Jangan biarkan kelemahan-kelemahan di dalam keluarga makin besar hingga menjadi konflik dan penyimpangan perilaku yang akhirnya merugikan orang lain," tegasnya.

Baca Juga: Liana Tasno Ingin Membawa PSIM Jogja Lebih Berprestasi

Dari perspektif keamanan, Katim Pencegahan Densus 88 Satgaswil Yogyakarta IPDA Bagus mengingatkan, kenakalan remaja dan kejahatan jalanan perlu menjadi perhatian bersama karena berpotensi menjadi pintu masuk berbagai bentuk penyimpangan yang lebih serius.

"Fenomena kejahatan jalanan dan kenakalan remaja harus menjadi perhatian bersama karena bisa menjadi pintu masuk penyimpangan yang lebih serius," ujarnya.

Menurutnya, pola kekerasan, fanatisme kelompok, eksklusivisme hingga intoleransi perlu diwaspadai sejak dini, terutama di kalangan anak muda. "Keluarga sangat penting karena kurangnya pengawasan orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak," bebernya.

Baca Juga: Winger Asing Anton Fase Dikabarkan Tak Diperpanjang PSIM Jogja

Ia juga menyoroti pengaruh media sosial yang dapat membentuk pola pikir anak apabila tidak diimbangi pendampingan dari keluarga. Terlebih, ketika anak memiliki masalah dan kemudian lari ke media sosial, algoritma akan terus memperkuat informasi yang dikonsumsi.

“Karena itu pendampingan keluarga menjadi sangat penting," tegas dia.

Ketua Desa Prima Kartini Kalurahan Wedomartani Hastuti Setyaningrum menjelaskan, organisasi yang dipimpinnya berupaya menghadirkan berbagai program pemberdayaan perempuan dan ketahanan keluarga agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Baca Juga: Kejati Geledah Dinas Koperasi dan UMKM DIY terkait Dugaan Korupsi Pengadaan Mesin Susu Rp 4,6 Miliar di Sleman, Sita 35 Dokumen

"Kami berharap program yang sudah disusun tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ujarnya.

Hastuti menyebut, keluarga merupakan pondasi utama dalam pembentukan karakter anak sehingga program ketahanan keluarga harus menyentuh aspek paling mendasar dalam kehidupan keluarga.

"Pendidikan anak, karakter anak dan berbagai hal lainnya sebenarnya kuncinya ada di keluarga," katanya.

Baca Juga: Wagub Paku Alam X Jadi PLH Gubernur DIY selama Sepekan ke Depan, Sekprov: Ngarso Dalem Ada Keperluan Kesehatan

Melalui Desa Prima Kartini, pihaknya juga berupaya mewadahi perempuan agar tetap produktif dan berdaya tanpa meninggalkan peran dalam keluarga.

"Kami ingin para perempuan di Wedomartani tetap berkarya dan berdaya, tapi juga tidak lupa tanggung jawabnya sebagai ibu, istri dan pengelola keluarga," imbuhnya. (iza/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#penyimpangan sosial #Ketahanan Keluarga #Kenakalan Remaja #pendidikan karakter #Nilai Budaya