JOGJA - Penguatan ketahanan keluarga menjadi kunci menjaga nilai-nilai budaya sekaligus mencegah berbagai penyimpangan sosial di DIY.
Mulai dari kenakalan remaja, pernikahan dini, hingga paparan paham ekstrem yang melibatkan anak-anak dapat ditekan jika keluarga mampu menjalankan fungsi pendidikan dan pengawasan secara optimal.
Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY Ariyanti Luhur Tri Setyarini mengatakan, berbagai program pemberdayaan masyarakat yang didukung dana keistimewaan (Danais) juga diarahkan untuk memperkuat keluarga sebagai basis pelestarian budaya.
"Kita mendukung kelompok-kelompok masyarakat untuk memperkuat keluarga agar lebih berdaya, dan nilai-nilai budaya tetap tumbuh di dalamnya. Jadi sangat erat kaitannya antara nguri-uri kabudayan dengan keluarga," katanya dalam Rembag Kaistimewaan bertema Keluarga Berdaya, Keistimewaan Terjaga, yang diselenggarakan Paniradya Kaistimewan DIY, Kamis (25/6/2026).
Salah satu kewenangan istimewa yang dimiliki DIY adalah kewenangan kebudayaan. Upaya menjaga kebudayaan tidak lepas dari peran keluarga sebagai ruang pertama pembentukan karakter dan penanaman nilai.
"Kewenangan kebudayaan diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan hasil cipta, rasa, karsa, dan karya berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, dan tradisi luhur yang mengakar di masyarakat di DIY," ujarnya.
Ia menjelaskan, berbagai tradisi yang hidup di DIY, mulai dari prosesi sebelum pernikahan, mitoni, tedak siten, hingga berbagai ritual dalam daur hidup manusia merupakan bagian dari warisan budaya yang sarat makna dan nilai kehidupan.
"Semua nilai-nilai itu pertama kali diajarkan di keluarga. Budi pekerti, suri teladan, hingga nilai kehidupan berawal dari keluarga," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY Erlina Hidayati Sumardi menilai, keluarga menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Selain persoalan kemiskinan, kesehatan dan pendidikan, muncul pula berbagai persoalan sosial yang melibatkan anak dan remaja.
Maka, penguatan ketahanan keluarga menjadi langkah penting untuk mencegah berbagai persoalan berkembang menjadi masalah sosial yang lebih luas.
"Kalau setiap keluarga bisa berketahanan dengan baik, maka tidak akan banyak masalah yang berdampak ke masyarakat," terangnya.
Pada kesempatan momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) Juni ini, dia mengajak untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi masing-masing keluarga. Salah satunya dengan melakukan asesmen di dalam kelurga.
"Mengukur diri, melihat permasalahan apa yang perlu segera dicarikan solusi, apakah bisa diselesaikan sendiri atau membutuhkan bantuan pihak lain," pesannya.
Erlina mengakui berbagai persoalan masih ditemukan di DIY, mulai dari pernikahan usia dini, kenakalan remaja hingga paparan paham ekstrem yang melibatkan anak-anak.
"Jangan biarkan kelemahan-kelemahan di dalam keluarga makin besar hingga menjadi konflik dan penyimpangan perilaku yang akhirnya merugikan orang lain," tegasnya.
Baca Juga: Liana Tasno Ingin Membawa PSIM Jogja Lebih Berprestasi
Dari perspektif keamanan, Katim Pencegahan Densus 88 Satgaswil Yogyakarta IPDA Bagus mengingatkan, kenakalan remaja dan kejahatan jalanan perlu menjadi perhatian bersama karena berpotensi menjadi pintu masuk berbagai bentuk penyimpangan yang lebih serius.
"Fenomena kejahatan jalanan dan kenakalan remaja harus menjadi perhatian bersama karena bisa menjadi pintu masuk penyimpangan yang lebih serius," ujarnya.
Menurutnya, pola kekerasan, fanatisme kelompok, eksklusivisme hingga intoleransi perlu diwaspadai sejak dini, terutama di kalangan anak muda. "Keluarga sangat penting karena kurangnya pengawasan orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak," bebernya.
Baca Juga: Winger Asing Anton Fase Dikabarkan Tak Diperpanjang PSIM Jogja
Ia juga menyoroti pengaruh media sosial yang dapat membentuk pola pikir anak apabila tidak diimbangi pendampingan dari keluarga. Terlebih, ketika anak memiliki masalah dan kemudian lari ke media sosial, algoritma akan terus memperkuat informasi yang dikonsumsi.
“Karena itu pendampingan keluarga menjadi sangat penting," tegas dia.
Ketua Desa Prima Kartini Kalurahan Wedomartani Hastuti Setyaningrum menjelaskan, organisasi yang dipimpinnya berupaya menghadirkan berbagai program pemberdayaan perempuan dan ketahanan keluarga agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
"Kami berharap program yang sudah disusun tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ujarnya.
Hastuti menyebut, keluarga merupakan pondasi utama dalam pembentukan karakter anak sehingga program ketahanan keluarga harus menyentuh aspek paling mendasar dalam kehidupan keluarga.
"Pendidikan anak, karakter anak dan berbagai hal lainnya sebenarnya kuncinya ada di keluarga," katanya.
Melalui Desa Prima Kartini, pihaknya juga berupaya mewadahi perempuan agar tetap produktif dan berdaya tanpa meninggalkan peran dalam keluarga.
"Kami ingin para perempuan di Wedomartani tetap berkarya dan berdaya, tapi juga tidak lupa tanggung jawabnya sebagai ibu, istri dan pengelola keluarga," imbuhnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita