Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Paniradya Kaistimewaan DIY Dorong Generasi Muda Pahami Akar Keistimewaan DIY lewat Sinau Sejarah

Fahmi Fahriza • Selasa, 23 Juni 2026 | 07:15 WIB
PENDEKATAN KEKINIAN: Sesi diskusi Sinau Sejarah bertema “Mentransformasikan Nilai Luhur Kadipaten Pakualaman dalam Tantangan Pembangunan Peradaban DIY” yang digelar Paniradya Kaistimewaan DIY lewat kanal Youtube Senin (22/6/2026). Tangkapan Layar YouTube     
PENDEKATAN KEKINIAN: Sesi diskusi Sinau Sejarah bertema “Mentransformasikan Nilai Luhur Kadipaten Pakualaman dalam Tantangan Pembangunan Peradaban DIY” yang digelar Paniradya Kaistimewaan DIY lewat kanal Youtube Senin (22/6/2026). Tangkapan Layar YouTube     

JOGJA – Paniradya Kaistimewaan DIY terus memperkuat upaya penyebarluasan nilai-nilai keistimewaan DIY dengan pendekatan generasi muda. Salah satunya melalui agenda Sinau Sejarah, mengusung tema Mentransformasikan Nilai Luhur Kadipaten Pakualaman dalam Tantangan Pembangunan Peradaban DIY. 

Acara yang digelar bertepatan dengan peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ini agar warisan budaya dan identitas keistimewaan lebih mudah diakses lintas generasi.

Sekretaris Paniradya Kaistimewaan DIY Ariyanti Luhur Tri Setyarini mengatakan, Sinau Sejarah merupakan bagian dari tugas penyebarluasan informasi keistimewaan yang selama ini dijalankan.

Baca Juga: SPMB Hari Pertama di SMPN 6 Jogja, Ortu Calon Siswa Masih  Kebingungan karena Gaptek

Materi yang disampaikan para narasumber tidak hanya berhenti dalam forum diskusi. Melainkan diolah menjadi konten digital dan bahan pembelajaran yang dapat dimanfaatkan sekolah-sekolah di DIY.

"Dua entitas Kasultanan dan Kadipaten dalam undang-undang disebut sebagai warisan budaya bangsa. Itu artinya bukan hanya menjadi milik DIY saja, tapi menjadi kekayaan Indonesia yang harus dijaga dan dikembangkan," ujarnya dalam agenda Sinau Sejarah bertema Mentransformasikan Nilai Luhur Kadipaten Pakualaman dalam Tantangan Pembangunan Peradaban DIY di Kanal Youtube Paniradya Kaistimewan Senin (22/6/2026).

Ariyanti menjelaskan, pelestarian sejarah tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional.

Baca Juga: Resmi Dibuka! Pasar Kangen TBY 2026 Hadirkan 300 Tenan Sepekan ke Depan, Ramaikan Nostalgia dan Ekonomi Rakyat

Apalagi di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, pengetahuan tentang sejarah dan asal-usul DIY perlu dihadirkan dalam format yang lebih mudah diakses.

Makanya, pemanfaatan platform digital menjadi salah satu strategi untuk memastikan nilai-nilai keistimewaan tetap dikenal lintas generasi.

"Dengan demikian, sejarah tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga sumber pengetahuan yang terus hidup dan berkembang," ungkapnya.

Melalui Sinau Sejarah ini diharapkan pemahaman masyarakat terhadap sejarah Pakualaman tidak berhenti pada peristiwa masa lampau semata. Namun, nilai-nilai yang diwariskan bisa terus ditransformasikan dan menjadi bagian pembangunan peradaban DIY di masa depan.

 Baca Juga: Mahasiswa Muhammadiyah Gelar Tapa Pepe di Titik Nol Jogja, Tuntut Evaluasi MBG, KDMP, dan Hentikan Militerisasi di Ruang Sipil

Dalam diskusi tersebut, sejarawan sekaligus dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM Dr Sri Margana mengulas latar belakang berdirinya Kadipaten Pakualaman yang tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik Jawa pada awal abad ke-19. 

Pakualaman lahir di tengah pergolakan kolonial yang melibatkan pergantian kekuasaan Belanda dan Inggris serta berbagai strategi politik pecah belah yang diterapkan pada kerajaan-kerajaan di Jawa.

Namun, menurutnya, perjalanan sejarah menunjukkan hasil yang berbeda dari tujuan awal pembentukan Pakualaman.

Alih-alih melemahkan kebudayaan Jawa, kehadiran Pakualaman justru memperkaya perkembangan budaya yang kemudian menjadi bagian penting dari identitas Yogyakarta.

Baca Juga: Jaga Listrik Tetap Menyala, Kisah Rejo Handoyo Teknisi PLTMH Kedungrong Kulon Progo

"Pembagian kekuasaan ini tidak membuat Jawa lemah, justru kebudayaan itu makin berkembang. Setelah ada Pakualaman, budaya Jawa berkembang tidak hanya melalui Kesultanan, tetapi juga melalui gaya Pakualaman," katanya.

Ia menilai keberadaan Pakualaman dan Kasultanan merupakan dua unsur yang saling melengkapi dalam membentuk keistimewaan DIY. 

"Keduanya tidak dapat dipisahkan ketika membicarakan sejarah maupun identitas Jogja saat ini," bebernya.

Sementara itu, Pangarsa Arsip Kadipaten Pakualaman KMT Widyo Hadiprojo menjelaskan, peringatan Hadeging Pakualaman tahun ini diramaikan berbagai kegiatan sosial, budaya, dan edukasi yang melibatkan masyarakat. 

Baca Juga: Warga Padukuhan Kedungrong Kulon Progo Tak Khawatir Fenomena Byar-pet, Gunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro

Selain kegiatan tradisi yang akan berlangsung pada November mendatang, rangkaian acara juga mencakup pelayanan kesehatan, penanganan stunting, sunatan massal, hingga pementasan ketoprak bertema sejarah berdirinya Pakualaman.

Di tengah tantangan perkembangan zaman, Pakualaman juga berupaya menghadirkan inovasi agar warisan budaya tetap dekat dengan generasi muda.

Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah mengadaptasi naskah kuno menjadi media yang lebih populer dan mudah dipahami.

"Kami memberi kesempatan, misalnya salah satu dari naskah kami, Serat Ageng Aditidharmo, akan dikomikkan dalam salah satu versinya karena di situ ada fabel-fabel yang ternyata cukup relevan dengan kehidupan masa kini," ungkapnya.

Baca Juga: Mahasiswa Tapa Pepe di Titik Nol Kilometer, Tuntut Evaluasi Program MBG-KDMP dan Hentikan Militerisasi di Ruang Sipil

Pakualaman terbuka bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat sejarah dan kebudayaan yang berkembang di lingkungan kadipaten. 

"Berbagai inovasi itu diharap bisa memperluas jangkauan pelestarian budaya tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi ruh kebudayaan Jogja," harapnya. (iza/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Paniradya Kaistimewaan DIY #sinau sejarah #identitas #Kadipaten Pakualaman #generasi muda