JOGJA - Dukungan Dana Keistimewaan (Danais) berhasil mengubah Rumah Cokelat Bunder di Gunungkidul menjadi pusat hilirisasi kakao yang memberi nilai tambah bagi petani.
Selain sebagai sentra produksi cokelat, kawasan ini juga berkembang menjadi destinasi edukasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY Kurniawan mengatakan, dukungan Danais ini setelah melihat potensi besar yang dimiliki Kalurahan Bunder. Di mana terdapat hamparan kakao yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama puluhan tahun.
Baca Juga: Dua Pria Diduga Curi Motor Sempat Dimassa Warga Ngrajek Mungkid, Polisi Dalami Motif dan Bukti
Keberadaan kakao tidak cukup hanya berhenti sebagai komoditas hasil panen, tetapi mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat. Praktiknya, hasil panennya hanya dijual dalam bentuk biji mentah dengan nilai ekonomi yang relatif rendah.
"Selama ini mereka hanya bertani dan menjual biji kakao, harganya sangat murah. Upaya dan waktu yang dikeluarkan masyarakat tidak sebanding dengan hasil yang diterima karena hanya menjual bahan mentah," ujarnya dalam program Rembag Kaistimewan bertema Dari Biji Kakao Menjadi Produk Istimewa: Kisah Rumah Cokelat Bunder Gunungkidul," Kamis (18/6/2026).
Kondisi itu perlahan berubah melalui hadirnya Rumah Cokelat Bunder. Berawal dari potensi lokal yang telah berkembang sejak 1995, kawasan ini kini tumbuh menjadi pusat pengolahan kakao sekaligus ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis hilirisasi produk.
Karena itu, Danais akhirnya diarahkan turut mendukung pengembangan rumah produksi cokelat yang mampu mengolah hasil panen menjadi berbagai produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
"Yang kami lihat bukan hanya produksi kakaonya, tapi kakao itu bisa diolah dan punya nilai tambah yang lebih besar. Ketika nilai tambah meningkat, pendapatan masyarakat juga meningkat dan kesejahteraannya bisa lebih baik," katanya.
Menurutnya, pengembangan Rumah Cokelat Bunder tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Keberlanjutan usaha dan regenerasi pelaku usaha juga menjadi perhatian agar manfaat ekonomi dapat dirasakan dalam jangka panjang.
"Kesejahteraan itu tidak hanya untuk satu generasi. Justru yang penting adalah bagaimana generasi penerus tetap punya ruang melanjutkan usaha ini secara berkelanjutan," jelasnya.
Baca Juga: Pemkab Magelang Dorong Uji Tera Pertashop untuk Lindungi Konsumen dari Takaran BBM Tak Akurat
Perjalanan kakao di Kalurahan Bunder sendiri telah dimulai sejak 1995 melalui program pengembangan yang dilakukan Dinas Perkebunan DIY bersama PT Pagilaran. Lurah Kalurahan Bunder, Maryadi menjelaskan, kondisi geografis wilayahnya memang sangat cocok untuk budi daya kakao sehingga masyarakat mulai menanam secara luas.
"Karena kondisi tanah dan iklim di sini memang cocok. Awalnya hasil panen ditampung kelompok tani lalu dijual ke PT Pagilaran," terangnya.
Meski demikian, selama bertahun-tahun kakao hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Gagasan hilirisasi kemudian muncul setelah berbagai pihak duduk bersama melalui forum musyawarah kalurahan.
Di antaranya petani kakao, gapoktan, UMKM, Bumkal dan lembaga kalurahan. Dari situ muncul kesepakatan agar kakao tidak hanya dijual mentah, tetapi diproduksi sendiri karena peralatannya sudah tersedia.
Baca Juga: Usai Sukses dengan Embarkasi Haji, YIA Buka Rute Umrah Direct Flight ke Jedah Atau Madinah
Kemudian pengembangan Rumah Cokelat Bunder memperoleh dukungan Danais sebanyak dua tahap yang kemudian digunakan untuk membangun fasilitas produksi dan kawasan pendukung.
"Danais sangat membantu terwujudnya Rumah Cokelat Gunungkidul yang ada di Bunder, lengkap dengan rest area, musala, toilet, dan fasilitas penunjang lainnya," ucapnya.
Selain menjadi pusat produksi, Rumah Cokelat Bunder kini berkembang sebagai destinasi edukasi yang memperkenalkan proses pengolahan kakao dari hulu hingga hilir.
Di sisi lain, Kepala Bidang (Kabid) Kewirausahaan Dinas Koperasi dan UKM DIY Hana Fais Prabowo menilai, Rumah Cokelat Bunder merupakan contoh nyata keberhasilan hilirisasi komoditas lokal yang mampu meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
"Teman-teman di Kalurahan Bunder ini bisa dibilang contoh nyata hilirisasi. Tidak saja menjual komoditas kakao, tapi mengolahnya menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi," katanya.
Menurutnya, kekuatan Rumah Cokelat Bunder tidak hanya terletak pada produk semata, melainkan pada cerita yang menyertai proses produksinya. Sebab, konsumen tidak hanya membeli berdasar rasa, ada cerita di balik produk tersebut.
"Dari tanaman kakao sampai jadi cokelat, proses itu punya nilai edukasi dan storytelling yang bisa dijual kepada wisatawan," jelasnya.
Melalui program Desa Preneur dan platform SiBakul Jogja, instansi ini juga terus melakukan pendampingan mulai dari pengembangan produk, legalitas usaha, pemasaran digital hingga perluasan akses pasar.
"Konsep inkubasi yang kami lakukan tidak berhenti pada satu pelatihan lalu selesai. Ada pendampingan berkelanjutan agar usaha yang dibangun masyarakat bisa terus tumbuh dan berkembang," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Bumkal Bunder Bambang Sugiyanto mengatakan, Rumah Cokelat Bunder lahir dari upaya mengoptimalkan aset yang dimiliki kalurahan agar dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Ketika aset pengolahan kakao diserahkan kepada kalurahan, Bumkal kemudian mendapat amanah untuk mengelolanya,” ujarnya.
Kemudian, berbagai kelompok yang memiliki kemampuan produksi diajak bersama-sama mengembangkan usaha ini. Meski, tahap awal sempat terkendala fasilitas penunjang dan visibilitas lokasi yang belum terlihat dari jalan utama.
Baca Juga: UAJY Kukuhkan Prof. Imam Basuki Sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Transportasi
Setelah mendapatkan dukungan lanjutan, sekarang sudah ada area parkir yang luas, musala, kamar mandi, dan fasilitas lain yang jauh lebih memadai. Bambang menambahkan, kualitas bahan baku menjadi faktor utama dalam menjaga mutu produk cokelat yang dihasilkan Rumah Cokelat Bunder.
"Kunci utama ada pada proses pascapanen. Jika fermentasinya baik, maka kualitas cokelat akan jauh lebih baik, cita rasanya meningkat dan daya simpannya juga lebih lama," tambahnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita