KULON PROGO - Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) tahun ini memasuki yang ke-30. HLUN diperingati setiap 29 Mei.
Bertepatan dengan momentum tersebut, Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha (PSTW) Dinas Sosial DIY menggelar edukasi bercocok tanam sederhana. Lokasinya dipusatkan di Jogja Agro Park (JAP) Wijimulyo, Nanggulan, Kulon Progo.
“Tahun 2026 ini tema peringatan HLUN, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh, Harapannya, lansia tetap bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat dan negara," ucap Sekretaris Dinas Sosial DIY Suyarno di sela acara yang berlangsung pada Sabtu (30/5/2026).
Dikatakan, acara tersebut menjadi sarana memberikan penghargaan. Terutama ditunjukkan bagi lansia penghuni Balai PSTW DIY. Ada sejumlah 200 orang lansia di Balai PSTW.
Baca Juga: Selesai Dibangun, Jalan Cincin Kota Buat Balap Liar, Jajaran Polres Kebumen Amankan Sejumlah Remaja
Selama acara bukan sekadar seremonial. Namun materinya mengarah pada peningkatan produktivitas lansia. Sekaligus menjadi sarana refreshing. Melepas penat bagi penghuni panti.
Salah satu yang menarik saat mereka berkebun. Bercocok tanam sebenarnya bukan hal baru. Sebab, menjadi aktivitas keseharian di panti.
Namun saat di JAP itu, para lansia itu belajar cara baru bercocok tanam tanpa menggunakan tanah.
Ini menggugah rasa keingintahuan. Metodenya lebih praktis ketimbang cara konvensional.
Mereka mendapatkan wawasan pertanian hidroponik untuk tumbuhan sayuran yang kerap menjadi kudapan mereka di panti.
Kepala Balai PSTW DIY Tuty Amalia menjelaskan, berkebun di JAP tak jauh dari rutinitas sehari-hari di panti. Perbedaannya terletak di suasana dan ilmu yang didapat.
Sejumlah lansia diajak keluar dari panti untuk mendapat suasana baru. Plus pengalaman dan wawasan anyar.
Tuty juga menceritakan, di Balai PSTW ada program Lambada. Akronim dari Lansia Mandiri Berguna Berdaya. Dengan Lambada, para lansia diajak tetap produktif.
Aktivitas di balai diciptakan agar lansia memiliki kesibukan sejak pagi hingga malam hari. Antara lain berupa senam, kegiatan rohani, hingga hiburan.
Soal pilihan mengajak lansia berkebun di JAP, Tuty punya alasan. Dikatakan, bercocok tanam merupakan terapi terbaik. Ketahanan fisik dan mental lansia dapat ditingkatkan.
Berkebun juga menjadi kegiatan olahraga sederhana. Sesuai kemampuan fisik lansia.
Bercocok tanam di pagi hari mampu menjadi sumber vitamin D. Bagi lansia dapat mengurangi risiko diabetes dan dimensia.
Manfaat lainnya meningkatkan fokus sehingga mengurangi risiko penurunan daya ingat. Juga bermanfaat bagi mental lansia.
Baca Juga: 139 Produk UMKM di Desa Wisata Jatimulyo Kantongi Sertifikat Halal
Memberikan kedamaian dan ketenangan. “Dengan demikian lansia tetap bisa menjaga daya ingat, kemampuan otaknya, dan fisiknya dengan baik,” jelasnya.
Tuty juga menyinggung terapi seni yang memberikan manfaat signifikan. Terutama kesehatan psikologis dan emosional.
Terapi seni juga berperan menjaga fungsi kognitif dan motorik sehingga mendukung kualitas hidup lansia secara menyeluruh.
Terapi seni menjadi media interaksi sosial yang mempererat hubungan antarpenghuni maupun dengan pendamping sosial.
Selain berkebun, peringatan HLUN ke-30 juga diwarnai dengan pertunjukan seni tari dan wayang orang.
Menurut Tuty, pertunjukan seni itu sebagai terapi. “Sarana mengeluarkan ekspresi yang dapat membantu mengurangi kecemasan dan stres di masa lanjut usia,” terang dia.
Salah satu lansia Sarah Ari Mujiasih mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut. Sarah cukup antusias. Terutama saat berkebun sayuran hidroponik.
Sebenarnya setiap Jumat, dia rutin mengikuti kegiatan pertanian di panti. Namun, kunjungan ke JAP itu menambah cakrawala baru. Dia juga bercerita menghuni panti di Balai PSTW DIY sejak tiga tahun lalu. (gas/kus)
Editor : Herpri Kartun