JOGJA - Pemprov DIY terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna menjaga keberlanjutan program penanggulangan AIDS, Tuberkulosis (TB), dan Malaria.
Langkah tersebut dinilai penting di tengah mulai berkurangnya dukungan donor global terhadap penanganan tiga penyakit menular tersebut.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengungkapkan, meski ada perubahan lanskap pendanaan global, hal tersebut tidak boleh mengganggu keberlangsungan layanan kesehatan masyarakat.
Made menegaskan, penanggulangan AIDS, TB, dan Malaria harus mulai dibangun dengan basis kemandirian daerah, bukan semata mengandalkan bantuan donor internasional.
"Kebutuhan layanan kesehatan masyarakat tidak boleh berhenti, meski lanskap pendanaan global mengalami perubahan. Dan memang harusnya penanggulangan AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria tidak boleh hanya bergantung pada siklus donor," tegasnya, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, tantangan penanggulangan HIV/AIDS di DIY sendiri masih cukup besar. Berdasarkan data hingga Triwulan III tahun 2025 lalu, kasus kumulatif HIV di DIJ tercatat mencapai 9.348 kasus, sementara kasus AIDS sebanyak 2.464 kasus.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan HIV/AIDS belum dapat dipandang hanya sebagai isu kesehatan semata.
Baca Juga: Kebakaran Rumah Terjadi di Sewon, Petugas BPBD Bantul Sebut Penghuni Cium Kabel Terbakar sejak Sore
Dibutuhkan keterlibatan berbagai sektor, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas pendamping di lapangan.
"Penanggulangan AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria harus menjadi bagian dari tanggung jawab pembangunan daerah," ujarnya.
Lebih lanjut, Made juga menyoroti pentingnya pendekatan kemanusiaan dalam penanganan HIV/AIDS.
Menurutnya, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS masih menjadi tantangan yang berdampak pada akses layanan kesehatan maupun proses pemulihan pasien.
Ia menilai, dukungan keluarga, komunitas, dan lingkungan sosial punya peran besar dalam keberhasilan penanganan HIV/AIDS, TB, maupun Malaria. Karena itu,
Pemprov DIY terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak melalui edukasi publik, sosialisasi regulasi terkait HIV/AIDS, hingga penguatan layanan promotif dan preventif.
Dalam beberapa tahun terakhir, keterlibatan organisasi masyarakat sipil dan komunitas pendamping disebut menjadi salah satu elemen penting dalam upaya menjangkau kelompok rentan, meningkatkan kesadaran masyarakat.
Sekaligus memastikan pasien tetap mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan.
"Selain pengobatan, penting pula dilakukan pendekatan kemanusiaan dalam penanganan HIV/AIDS, termasuk pengurangan stigma dan diskriminasi di masyarakat," pesannya.
Dia berharap dapat merumuskan langkah konkret guna memastikan keberlanjutan layanan kesehatan masyarakat di tengah tantangan pendanaan yang semakin terbatas.
"Berkurangnya dukungan donor jangan dimaknai semata sebagai kehilangan sumber daya, melainkan momentum memperkuat kemandirian daerah," tutupnya. (iza)
Editor : Winda Atika Ira Puspita