JOGJA - Dinas Pariwisata DIY menargetkan 150 ribu kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang 2026, meski tren penurunan sudah terlihat pada Maret. Kondisi geopolitik dan turunnya kunjungan melalui Bandara YIA menjadi tantangan serius dalam mengejar target tersebut.
"Tahun ini sesuai dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) target wisman 2026 sebanyak 150 ribu," ujar Kepala Dinpar DIY Imam Pratanadi saat dikonfirmasi, Senin (4/5/2026).
Untuk mencapai target wisman tersebut, salah satu strategi yang disiapkan dengan program Family Trip (Famtrip) dari luar negeri (LN). Ia juga akan meningkatkan pemasaran destinasi dan paket wisata melalui media sosial seperti Instagram dan YouTube.
Baca Juga: BPS Kota Jogja Catat Deflasi Pasca-Lebaran, Wanti-wanti Kenaikan Harga Bumbu Masak jelang Idul Adha
"Mendorong pelaku industri untuk mengikuti kegiatan pameran luar negeri secara mandiri yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata RI," jelasnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, jumlah wisman menurun pada Maret.
Tercatat 6.530 wisman ke Indonesia melalui Bandara YIA. Jumlah tersebut mengalami penurunan 11,57 persen dibandingkan bulan sebelumnya yakni dari 7.384 menjadi 6.530 kunjungan.
"Tapi jika dibandingkan data Maret 2025, masih mengalami peningkatan 29,5 persen karena hanya terdapat 3.185 kunjungan saat itu," bebernya.
BPS DIJ juga mencatat ada sepuluh negara yang mendominasi kunjungan wisman, terutama melalui Bandara YIA pada Maret.
Di antaranya Malaysia, Singapura, Jepang, Tiongkok, Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Belanda, Prancis, dan India. Jumlah kunjungan wisman berkebangsaan tersebut mencapai 69,91 persen dari jumlah seluruh kunjungan wisman di Bandara YIA.
"Dari sepuluh besar kebangsaan dengan tingkat kunjungan tertinggi, sebagian besar mengalami penurunan jumlah kunjungan dibandingkan pada Maret dengan Februari," bebernya.
Baca Juga: Putusan Hukuman Sri Purnomo Tak Sesuai Tuntutan, JPU Perkara Dana Hibah Sampaikan Banding
Penurunan paling banyak merupakan wisman yang berasal dari Tiongkok sebesar 72,16 persen. Kemudian negara Belanda, Inggris, dan Jerman malah mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 21,14 persen, 17,07 persen, dan 4,76 persen.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, situasi geopolitik berdampak pada okupansi hotel di DIY. Pun ia tak muluk-muluk dalam menentukan target okupasi per triwulan.
"Target di triwulan II masih di angka 85 persen, daya beli masyarakat saat ini juga masih rendah," tandasnya.
Baca Juga: Bupati Sleman Harda Kiswaya Berharap Derby DIY Dapat Mempererat Suporter PSS Sleman dan PSIM Jogja
Target tersebut juga bukan tanpa dasar. Sebab, okupansi hotel pada triwulan I 2026 juga belum bisa mencapai target.
Okupansi hotel pada periode tersebut sebesar 50 hingga 60 persen. Sedangkan targetnya mencapai 70-75 persen. "Okupansi itu baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing," ucapnya.
Tren saat ini, banyak wisman dari Eropa mengalami penurunan hingga 15 persen. Salah satu faktornya adalah karena belum adanya pesawat atau penerbangan dari Eropa yang bisa langsung turun di Yogyakarta.
Baca Juga: Diminta Kawal Rangkaian Ibadah CJH, Enam Pejabat Eselon Pemkab Kebumen Turut Berangkat Haji
Namun, kondisi tersebut masih tertolong kunjungan wisman dari negara lain, misalnya Taiwan, China, dan India.
"India itu tidak signifikan, yang paling banyak dari Taiwan dan China," tegasnya. (oso/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita