Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lebih Dekat dengan Pelaksanaan Jam Belajar Masyarakat, Ada Pawiyatan Anak, Tekan Ketergantungan dengan Gawai

Kusno S Utomo • Senin, 30 Maret 2026 | 06:20 WIB
LEBIH BERVARIASI: Sejumlah relawan Amgala Foundation mendampingi anak-anak mempelajari keterampilan sains dalam Program Jam Belajar Masyarakat (JBM) di Rumah Baca Raden Mas Suryowinoto, Giwangan, Umbulharjo, Kota Jogja, Minggu (29/3/2026).
LEBIH BERVARIASI: Sejumlah relawan Amgala Foundation mendampingi anak-anak mempelajari keterampilan sains dalam Program Jam Belajar Masyarakat (JBM) di Rumah Baca Raden Mas Suryowinoto, Giwangan, Umbulharjo, Kota Jogja, Minggu (29/3/2026). (Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

JOGJA - Penyelenggaraan Jam Belajar Masyarakat (JBM) telah dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Peraturan Wali Kota (Perwal) No. 53 Tahun 2014. Bentuknya melalui gerakan belajar anggota masyarakat atau Gerbangmas. JBM berlangsung mulai pukul 18.00 sampai dengan pukul 21.00.

Implementasi JBM berlangsung di 14 kemantren se-Kota Yogyakarta. Dari jumlah itu saat ini ada sejumlah wilayah aktif menjalankan JBM. Tiga di antaranya seperti terlihat di Kemantren Kraton, Umbulharjo, dan Kemantren Gondomanan.

 Koordinator JBM Kraton Ria Putri Palupijati mengatakan, pelaksanaan JBM di wilayahnya mengusung konsep pawiyatan anak. Mendekatkan dengan kearifan budaya lokal. Pawiyatan anak dirancang sebagai model pendidikan budaya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat modern.

“Misalnya mengajak anak-anak menjaga lingkungan lewat filosofi Hamemayu Hayuning Bawana. Pawiyatan anak juga mencakup berbagai aktivitas edukatif,” ujar Ria Minggu (29/3/2026).

Aktivitas edukatif itu dengan pengenalan sejarah kampung, mengunjungi situs cagar budaya Tamansari dan Museum Kereta Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Anak-anak juga diajak melihat proses pemilahan di bank sampah.  “Kami ingin anak-anak tidak tercerabut dari akar budayanya. Nilai-nilai  Hamemayu Hayuning Bawana kami kontekstualisasikan dengan aksi nyata,” terangnya.

Baca Juga: Ditutup Hari Minggu, Tol Fungsional Purwomartani-Prambanan Dilewati Lebih dari 134 Ribu Kendaraan

 Ria menambahkan, JBM di tingkat kelurahan juga memiliki kegiatan berbeda. Kelurahan Patehan menyelenggarakan bimbingan belajar (bimbel) gratis. Sedangkan Kelurahan Panembahan fokus dengan kursus bahasa Inggris. Animo peserta mengikuti program JBM di tingkat kemantren dan kelurahan  cukup tinggi. Rata-rata setiap kegiatan diikuti 15 sampai 20 anak.  Peserta sengaja dibatasi 20 anak. Tujuannya agar kualitas pembelajaran tetap terjaga.

Dikatakan, kunci keberhasilan JBM Kemantren Kraton tak lepas dari kolaborasi lintas sektor. Pihaknya menjalin kerja sama dengan Mataram Foundation untuk menghubungkan program dengan berbagai pemangku kepentingan. Itu karena misi utamanya membentuk karakter anak melalui nilai-nilai kearifan lokal. Anak-anak diajak mengenal diri sendiri dan keluarga sebelum berperan di masyarakat.

Lain halnya dengan  JBM di Kemantren Umbulharjo. Program nonakademik dikembangkan agar anak-anak terhindar dari tindak kenakalan remaja. Koordinator JBM Umbulharjo Fajar Nur Rohmad mengatakan, transformasi kegiatan nonakademik dilakukan agar anak-anak tidak jenuh dengan materi sekolah. Selain itu, program JBM bisa lebih bervariasi di setiap kelurahan. “Kegiatannya berbasis keagamaan, kesenian, dan keterampilan,” terangnya.

Di Kelurahan Giwangan, anak-anak diajak mengenal asal-usul kampung melalui sarasehan. Lalu olahraga bersama dan mengunjungi unit pengolahan limbah. Mereka diajak belajar membuat kerajinan kursi dari plastik anorganik.  JBM Umbulharjo ingin menciptakan lingkungan nyaman bagi anak-anak di kampungnya sendiri.

Baca Juga: DPR Minta Wacana WFH untuk Tekan BBM Dikaji Ulang, Soroti Dampak Ekonomi

 Anak-anak yang terwadahi dengan kegiatan positif cenderung akan menghindari kenakalan remaja atau aksi kekerasan jalanan yang marak terjadi. Memaksimalkan materi pembelajaran, JBM Umbulharjo bekerja sama dengan beberapa kampus seperti Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa (UST), dan Universitas Cokroaminoto. Kebetulan ketiga perguruan itu itu memiliki kampus di Umbulharjo.

Kehadiran mahasiswa yang mau berbagi ilmu sangat membantu. Sebab, tantangan mendidik anak di era teknologi sekarang jauh lebih berat. “Target kami  membuat anak nyaman tumbuh di lingkungannya. Jika mereka merasa senang berkegiatan di kampung, potensi seperti tawuran bisa diminimalisasi," tandas Fajar.

Inovasi dengan kemasan budaya dan religi dilakukan dalam pelaksanaan JBM di Kemantren Gondomanan. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak-anak. Pendekatannya disesuaikan dengan kearifan lokal.  “Materinya tidak hanya materi akademis, tapi juga pengembangan karakter dan pelestarian budaya,” ujar Koordinator JBM Gondomanan Syafaatiningsih Hasanah.

 Ningsih sapaan akrabnya, mencontohkan di Kampung Kauman, Fokus penyelenggaraan JBM berupa pendalaman religius anak-anak lewat kegiatan mengaji dan iqra. Sedangkan di Kampung Ratmakan dengan program Parade Senja yang merambah ke seni dan budaya.  Itu karena masyarakat yang tinggal di pinggiran Sungai Code  antusias mengikuti kegiatan karawitan maupun tari.

Baca Juga: Kapten PSIM Jogja Reva Adi Utama Ungkap Waktu Latihan Ideal: Pagi Terasa Nyaman, Sore Lebih Siap

JBM Gondomanan ingin menekan tingginya ketergantungan anak terhadap gawai. Ruang-ruang kegiatan diciptakan demi mengurangi perhatian anak yang sering terpaku pada layar ponsel. “Kami ingin anak-anak kembali bersosialisasi. Selama jam belajar, kami selipkan budaya tradisional agar mereka tetap bisa bermain sambil belajar secara tatap muka," ungkapnya.

Ningsih mengakui, menghadapi tantangan terkait tenaga pengajar untuk mata pelajaran spesifik seperti bahasa Inggris. Dia berharap rencana kerja sama antara Pemkot Yogyakarta dengan beberapa universitas melalui program pendampingan One Sister One University bisa menyasar JBM di Kemantren Gondomanan.

"Selama ini kami murni swadaya dari masyarakat. Dengan adanya pendampingan dari mahasiswa atau perguruan tinggi, harapannya kesulitan belajar yang tidak bisa diakomodasi oleh jumlah pengajar di wilayah dapat teratasi,"  harap Ningsih. (*/inu/kus)

Editor : Herpri Kartun
#Ketergantungan Gawai #Pawiyatan Anak #One Sister One University #JBM #Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat #peraturan wali kota #Hamemayu Hayuning Bawana #anak-anak #literasi #Pemerintah Kota Yogyakarta #Kemantren Gondomanan #Pemerintah Kota #Kemantren Kraton #bimbingan belajar #jam belajar masyarakat #Pemkot Yogyakarta #umbulharjo #belajar #dindikpora #bimbel