GUNUNGKIDUL - Pemkab Gunungkidul memasang target ambisius dalam penanggulangan kemiskinan pada tahun anggaran 2026. Dengan alokasi anggaran lebih dari Rp 500 miliar, angka kemiskinan di Bumi Handayani diharapkan mampu ditekan hingga menyentuh level 12 persen.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperinda) Gunungkidul Chairul Agus Mantara mengungkapkan, bahwa total pagu anggaran penanggulangan kemiskinan tahun 2026 mencapai Rp 588.250.955.871.
“Dengan pagu anggaran sebesar itu kami menargetkan angka kemiskinan di Gunungkidul bisa turun menjadi 12 persen,” ujarnya Minggu, (1/2).
Penganggaran tersebut mengacu pada penandaan program kemiskinan dalam sistem informasi pembangunan daerah (SIPD). Hal ini, lanjut dia, sebagaimana telah tertuang dalam Surat Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Nomor 900.1/9812/SJ tentang pedoman penandaan optimalisasi pelaksanaan pengentasan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem (PPKPKE).
Secara garis besar, terdapat tiga strategi utama yang diterapkan. Pertama, pengurangan beban pengeluaran masyarakat miskin. Kedua, peningkatan pendapatan masyarakat. Ketiga, penurunan jumlah kantong-kantong kemiskinan.
“Pasca-musrenbang, kami bersama kapanewon sedang melakukan pemutakhiran data agar program yang dijalankan benar-benar tepat sasaran,” jelasnya.
Secara global, kata dia, anggaran penanggulangan kemiskinan tersebut terbagi ke dalam 81 program, 115 kegiatan, dan 322 subkegiatan. Implementasinya melibatkan 21 organisasi perangkat daerah (OPD), 18 kapanewon, serta 30 UPT puskesmas di lingkungan Pemkab Gunungkidul.
Upaya ini sejalan dengan rencana penanggulangan kemiskinan daerah (RPKD) Tahun 2022-2026. “Ini telah diteken melalui Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 100 Tahun 2022,” pungkasnya.
Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Gunungkidul Joko Parwoto mengakui, pencapaian target kemiskinan di 2026 bukan perkara mudah.
Namun demikian, ia optimistis target tersebut tetap dapat diraih dengan kerja keras seluruh pihak. “Target kami sebenarnya di angka 13 persen. Tapi kalau bisa turun menjadi 12,5 persen, tentu akan lebih baik lagi,” harapannya.
Wakil Bupati Gunungkidul tersebut menambahkan tren penurunan angka kemiskinan di Gunungkidul sudah mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, angka kemiskinan tercatat sebesar 15,18 persen pada 2024 lalu.
Berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, angka tersebut kemudian turun menjadi 14,15 persen.
“Ini menunjukkan bahwa upaya pengentasan kemiskinan berjalan ke arah yang positif. Tinggal bagaimana kita menjaga konsistensi dan memperkuat kolaborasi lintas sektor,” tuturnya. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo