Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ekosistem Pertanian DIY Berkembang Positif di Tahun 2025 Tapi Penyusutan Lahan Pertanian Masih Mengintai

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 11 Januari 2026 | 21:35 WIB
PRODUKTIF: Lahan pertanian di Kapanewon Nglipar yang masih aktif.
PRODUKTIF: Lahan pertanian di Kapanewon Nglipar yang masih aktif.

JOGJA - Produktivitas pertanian Daerah DIY pada 2025 menunjukkan tren positif dan bahkan berhasil mencapai swasembada beras. Namun capaian tersebut dibayangi persoalan serius berupa terus menyusutnya lahan baku sawah (LBS) yang terjadi dari tahun ke tahun.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Aris Eko Nugroho mengatakan, berdasarkan data DPKP, luas LBS di DIY pada 2019 masih mencapai 76.273 hektare.

Angka itu terus menurun menjadi 67.027 hektare pada 2024, dan kembali menyusut secara parsial menjadi 66.871 hektare pada 2025.

“Ini menjadi tantangan besar karena penyusutan lahan terjadi hampir setiap tahun,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (11/1/2026).

Meski dihadapkan pada keterbatasan lahan, DPKP DIY terus menjaga produktivitas pertanian melalui berbagai strategi.

Salah satunya dengan penggunaan benih varietas unggul baru (VUB). Selain itu, dilakukan pula penggantian varietas secara berkala, penerapan pemupukan berimbang, serta pengendalian hama ramah lingkungan.

“Kenaikan NTP didorong oleh indeks harga yang diterima petani (It) yang meningkat lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib),” ujarnya.

Indeks harga yang diterima petani tercatat sebesar 145,51 atau naik 4,65 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut dipicu oleh harga sejumlah komoditas utama seperti ayam ras pedaging, kacang tanah, melon, dan cabai merah.

Sementara indeks harga yang dibayar petani tercatat sebesar 132,25 atau naik 1,83 persen, dipengaruhi oleh kenaikan harga cabai rawit, bawang merah, cabai merah, serta daging ayam ras.

Herum menambahkan, NTP hortikultura mengalami kenaikan tertinggi, yakni mencapai 155,61 atau naik 20,72 persen.

NTP peternakan juga meningkat menjadi 105,66 atau naik 5,06 persen, sementara NTP perikanan tercatat sebesar 95,94 atau naik 2,28 persen. (oso/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#swasembada beras #menyusut #Tren Positif #produktivitas pertanian #DIY #lahan baku sawah