JOGJA- Panitia Seleksi (Pansel) Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIJ akhirnya mengumumkan rangking tiga besar yang lolos seleksi. Pengumuman tiga besar itu dilakukan usai pansel mengadakan wawancara dengan lima orang pelamar pada Senin (23/6) lalu.
Tiga nama yang lolos tiga besar itu semuanya dari internal Pemprov DIJ. Tidak ada yang dari luar daerah. Ketiganya adalah Paniradya Pati Kaistimewan Aris Eko Nugroho, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Ni Made Dwipanti Indrayanti, serta Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset (BPKA) Wiyos Santoso.
“Peserta yang dinyatakan menduduki rangking tiga besar berdasarkan urutan abjad akan disampaikan kepada gubernur DIJ,” ucap Ketua Pansel Haryomo Dwi Putranto saat menyampaikan pengumuman Rabu (25/6).
Haryomo yang sehari-hari menjabat wakil kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengatakan, tiga besar itu merupakan akumulasi penilaian atas seluruh tahapan seleksi. Mulai penulisan makalah, uji gagasan/wawancara, uji kompetensi, serta rekam jejak jabatan. “Keputusan pansel bersifat final dan mengikat,” tegasnya.
Dengan diumumkan tiga besar itu membuat peta calon Sekprov bergeser. Itu menyusul tereliminisasinya nama Inspektur DIJ Muhammad Setiadi dari bursa. Setiadi yang biasa disapa Didit terlempar dari bursa bersama Sekretaris Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Kementerian Kehutanan RI Ayu Dewi Utari. Satu-satunya calon dari unsur eksternal.
Soal ini beberapa sumber di lingkungan Kepatihan menceritakan, ada kemungkinan terkait erat saat wawancara. Berbeda dengan proses seleksi Sekprov sebelumnya, pansel menetapkan beberapa sesi wawancara.
Menjelang sesi dua, pansel mengumpulkan kelima calon dalam satu forum. Ada simulasi persoalan yang harus disikapi dan dicarikan solusi. Saat diberikan kesempatan, Didit tidak banyak bicara. “Pak Didit bilang, mari rapat segera diakhiri karena kita mendapatkan panggilan Bapak Gubernur,” cerita sumber menirukan peristiwa yang terjadi saat itu.
Sedangkan tidak lolosnya Ayu Dewi ditengarai karena bukan ASN yang berkarir di lingkungan pemprov. Sosoknya belum banyak dikenal. Ini menjadi pertimbangan. Apalagi dalam komposisi anggota pansel terdapat mantan Sekprov DIJ Beny Suharsono yang berpengalaman soal birokrasi pemprov. Tiga anggota pansel lainnya berasal dari Ditjen Otda Kemendagri, Lembaga Administrasi Negara (LAN) dan akademisi UGM.
Kembali soal pergeseran peta calon Sekprov, nama Ni Made kini hangat dibicarakan. Dia disebut punya kans besar. Bahkan namanya bakal tercatat dalam sejarah. “Bila terpilih dan dilantik menjadi Sekprov perempuan pertama DIJ,” kata seorang sumber yang punya hubungan dekat dengan kalangan Baperjakat.
Tak hanya itu, perempuan kelahiran Klungkung Bali 18 Oktober 1970 menjadi perempuan serba pertama menduduki sejumlah jabatan penting. Mulai perempuan pertama yang menjadi kepala Dinas Perhubungan DIJ. Perempuan pertama yang mengepalai Bappeda sekarang Bapperida DIJ. Juga wanita pertama yang dipercaya sebagai Penjabat (Pj) bupati Kulon Progo.
Ni Made diketahui mendaftar di hari-hari terakhir pendaftaran calon Sekprov pada Jumat (22/5) silam. Itu terjadi setelah dirinya dipanggil menghadap gubernur. Belum jelas apakah pertemuan itu untuk melaporkan ketugasan sebagai kepala Bapperida. “Atau secara khusus memohon restu untuk maju, kita tidak tahu,” cerita sumber itu.
Tahun ini Ni Made memasuki 55 tahun. Masa tugas sebagai Sekprov bakal berlangsung lima tahun hingga 2030. Dua tahun lagi pada 10 Oktober 2027 bakal ada suksesi gubernur dan wakil gubernur. Periode lima tahunan jabatan gubernur. “Akan ada keberlanjutan Sekprov, termasuk kalau nantinya ada peralihan kepemimpinan perempuan,” kata sumber itu memberikan analisa.
Meski begitu, beberapa sumber lain di pemprov mengatakan, peluang Ni Made bakal terpilih belum dapat dikatakan aman. Dua calon lainnya Aris dan Wiyos punya kans yang sama-sama kuat. Peluang ketiga kandidat itu sama-sama besar.
Aris disebut-sebut punya banyak pengalaman. Pernah berdinas di beberapa instansi strategis. Mulai Bappeda, BPKA hingga kepala dinas kebudayaan. Sekarang memimpin Paniradya. Bila dipercaya sebagai Sekprov, Aris memiliki rekam jejak karir yang lengkap.
Di antara tiga calon itu, usia pensiun birokrat yang tinggal di Prambanan itu paling panjang. Dia baru memasuki purna tugas pada 2032. Ada waktu tujuh tahun bila dihitung dari sekarang. Aris lahir 1 November 1972. Mengabdi sebagai PNS sejak 1 Maret 1997.
Bagaimana dengan Wiyos? Pria yang akrab disapa Bang Wiyos alias BW ini jauh sebelum ada seleksi Sekprov sudah santer diperbincangkan. Namanya menjadi salah satu calon Sekprov pasca Beny Suharsono, di samping Amin Purwani mantan kepala BKD yang batal mencalon.
Dalam banyak kesempatan BW sering diajak Beny ikut mendampingi gubernur menerima tamu maupun mengadakan kunjungan kerja ke luar daerah. Pengalaman itu persis yang dilakukan Kadarmanta Baskara Aji semasa menjabat Sekprov.
Aji sering mengajak Beny yang menjabat kepala Bappeda ikut mendampingi gubernur. “Tradisi Pak Aji itu dilanjutkan Pak Beny. BW sepertinya sedang dimagangkan. Hilalnya mengarah ke BW,” bisik seorang pejabat pemprov.
Dibandingkan Ni Made dan Aris, BW terhitung paling senior. BW lahir pada 15 Februari 1968. Bila dihitung sejak sekarang masa pensiunnya kurang dari tiga tahun lagi. dDengan diumumkannya tiga besar itu muncul dinamika di pemprov. Ni Made, Aris, dan BW bersaing ketat.
Apalagi dari enam orang Sekprov di era Gubernur Hamengku Buwono X, namanya selalu berakhiran huruf i dan o. Mereka adalah Bambang Susanto Priyohadi, Tri Harjun Ismaji, Ichsanuri, Gatot Saptadi dan Kadarmanta Baskara Aji serta Beny Suharsono. Tiga besar yang sekaang lolos satu orang namanya berakhiran huruf i dan dua orang huruf o. (kus)
Editor : Heru Pratomo