Ingin Usia 97 Tahun PSIM Jogja Jadi Awal Sejarah Baru

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 22:11 WIB
Manajer tim PSIM Jogja Iksan Mahar. Fahmi Fahriza/Radar Jogja
Manajer tim PSIM Jogja Iksan Mahar. Fahmi Fahriza/Radar Jogja

 

Oleh: Iksan Mahar *)
(Manager Tim PSIM Jogja)

PSIM Jogja kini memasuki usia ke-97 tahun pada Sabtu (5/9). Momentum itu hadir bersamaan dengan pertandingan perdana Laskar Mataram di BRI Super League 2026/2027 saat menjamu Persita Tangerang di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul.

Momentum ini memiliki arti tersendiri. Karena baru sekitar dua bulan dan langsung menjalani musim pertama bersama Laskar Mataram bertepatan dengan usia klub yang semakin mendekati satu abad.

Karena itu, usia 97 tahun bukan sekadar sebagai penanda bertambahnya umur klub. Momentum tersebut menjadi bagian dari perjalanan PSIM menuju usia 100 tahun yang sudah tidak terlalu jauh.

Baca Juga: Sambut HUT ke-97 Klub, Ribuan Suporter Gowes Bersama dari Wisma PSIM ke Tugu Jogja

Ada banyak hal yang perlu terus dibenahi sebelum PSIM mencapai satu abad. Pembenahan itu tidak hanya menyangkut kekuatan tim, tetapi juga kekompakan internal, performa di dalam dan luar lapangan, hingga pengelolaan klub secara keseluruhan.

PSIM harus berkembang sebagai sebuah tim sekaligus organisasi. Hubungan dengan berbagai stakeholder, mulai dari Pemkot Jogja, Pemprov DIJ, kepolisian, suporter, komunitas, hingga media, juga dinilai perlu terus diperkuat.

Perkembangan PSIM tidak bisa hanya bertumpu pada pemain, pelatih, maupun figur manajemen yang berada di garis depan. Ada banyak elemen di balik layar yang ikut menentukan bagaimana klub berjalan. Mulai dari media, marketing, store, hingga bagian operasional.

Semua bagian itu diharapkan bisa berkembang bersama. Sebab, profesionalisasi yang diinginkan bukan hanya tentang bagaimana PSIM tampil sebagai tim sepak bola. Tapi juga bagaimana klub dikelola sebagai sebuah organisasi yang semakin matang.

Pandangan itu semakin relevan karena PSIM hanya berjarak tiga tahun dari usia 100 tahun. Momentum satu abad nantinya tidak berhenti sebagai perayaan besar tanpa meninggalkan sesuatu yang berarti bagi perjalanan klub.

Periode menuju 100 tahun harus dimanfaatkan untuk membangun fondasi sekaligus menghasilkan sejarah baru yang monumental. Artinya, keberhasilan menyambut satu abad PSIM seharusnya tidak hanya diukur dari kemeriahan seremoni, tetapi juga dari sejauh mana klub mengalami peningkatan secara nyata di dalam maupun luar lapangan.

Dalam proses tersebut, suporter ditempatkan sebagai bagian penting dari ekosistem klub. Karena suporter sebagai salah satu kelompok yang perlu dipahami ekspektasinya oleh manajemen.

Baca Juga: PSIM Jogja Berusia 97 Tahun, Honor the Legacy Jadi Pengingat Rawat Sejarah dan Budaya

Masukan dan saran dari suporter dapat menjadi bahan bagi PSIM untuk menentukan berbagai program dan aktivitas yang dijalankan klub. Pendekatan tersebut juga membuka ruang bagi manajemen untuk menghadirkan aktivasi yang lebih baru dan relevan bagi publik.

Salah satu contohnya adalah cara PSIM memperkenalkan pemain yang dikemas dengan konsep berbeda. Inovasi semacam itu menjadi bagian dari proses membangun hubungan klub dengan publik, sekaligus menghadirkan pengalaman baru bagi komunitas PSIM.

Perjalanan menuju usia 100 tahun pun diharapkan tidak sekadar menjadi hitungan waktu. Ada pekerjaan yang harus dilakukan secara bertahap agar ketika PSIM benar-benar memasuki satu abad, klub sudah memiliki fondasi yang lebih kuat, profesional, dan mampu mencatatkan sejarah baru. Semoga!

*) Disarikan dari hasil wawancara. (iza/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
100 tahun PSIM BRI Super League Laskar Mataram