JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja terus mematangkan langkah strategis untuk mewujudkan Kota Jogja sebagai kota wisata yang berkelanjutan.
Salah satu fokus utama yang kini tengah dikebut adalah penerapan kebijakan penggunaan transportasi rendah emisi (Low Emission Zone/LEZ) di berbagai titik vital kota.
Kebijakan ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah urgensi. Kondisi global, nasional, maupun regional saat ini menunjukkan adanya peningkatan tekanan lingkungan yang luar biasa akibat emisi kendaraan berbahan bakar fosil.
Hal ini berimbas langsung pada penurunan kualitas udara dan menipisnya cadangan energi fosil.
Baca Juga: Miris! Dua Pelajar di Baki Sukoharjo Terlibat Curanmor, Sikat Motor Ojol
Kota-kota besar kini mulai menerapkan kebijakan transportasi rendah emisi untuk mengurangi polusi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Kota Jogja perlu menyiapkan transformasi transportasi secara bertahap agar tetap menjadi kota yang nyaman, sehat, dan ramah lingkungan.
Transisi menuju kendaraan listrik, merupakan bagian krusial dari upaya Pemkot untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), meningkatkan efisiensi energi, sekaligus mencapai target pembangunan yang berkelanjutan.
Komitmen Awal yang Telah Berjalan
Komitmen Pemkot Jogja menuju transportasi ramah lingkungan sebenarnya sudah mulai dirintis melalui berbagai program penataan tata ruang kota.
Contohnya penataan Sumbu Filosofi yang terintegrasi dengan mobilitas perkotaan yang lebih tertib.
Selain itu, penataan kawasan pedestrian di Malioboro terbukti sukses meningkatkan kenyamanan pejalan kaki sekaligus mengurangi dominasi kendaraan bermotor di jantung kota.
Pemkot juga secara berkelanjutan menyediakan dan mengembangkan infrastruktur jalur sepeda, diiringi kampanye masif penggunaan moda transportasi tanpa motor (non-motorized transport).
Di sektor angkutan tradisional, Pemkot kini tengah mendukung penuh proses migrasi becak motor (bentor) bising menuju becak listrik.
Hal itu adalah bukti komitmen awal pemkot untuk mengutamakan ruang publik yang lebih manusiawi.
Becak listrik menjadi alternatif transportasi ramah lingkungan yang tetap mempertahankan kearifan lokal.
Tantangan Fiskal dan Dampak Sosial
Meski visinya jelas, ada tantangan besar. Kebutuhan anggaran untuk memuluskan migrasi kendaraan listrik berskala kota sangatlah besar, berbanding terbalik dengan kemampuan fiskal daerah yang terbatas.
Transisi ini juga menuntut ketersediaan infrastruktur pendukung yang memadai, mulai dari stasiun pengisian daya (charging station), fasilitas perawatan, hingga sistem pendukung operasional.
Tantangan terberat lainnya adalah potensi resistensi dari masyarakat, khususnya para pekerja sektor informal yang selama ini menggantungkan hidup pada kendaraan konvensional.
Pemkot tidak akan mengambil langkah represif. Pendekatan yang dilakukan bersifat dialogis dan humanis.
Pengemudi bentor, misalnya, terus diajak berdialog secara intensif. Mereka diberikan pemahaman mengenai manfaat jangka panjangnya.
Pemkot memfasilitasi proses peralihannya, sebelum bentor lama pada akhirnya direlakan untuk dihentikan operasionalnya atau dihancurkan sesuai ketentuan program yang disepakati.
Kolaborasi dan Peluang ke Depan
Ke depan, pemkot telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mempercepat terwujudnya ekosistem kendaraan listrik di Kota Jogja.
Pemkot akan membuka keran kolaborasi seluas-luasnya dengan pemerintah pusat, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, hingga lembaga pendanaan.
Pemkot kini sedang mengembangkan skema kemitraan dan pembiayaan yang inovatif.
Baca Juga: Dolar Menguat, Lama Tinggal Wisman Naik Pesat: Dari 1,77 Menjadi 2,22 Malam per April
Ini penting untuk memperluas penyediaan infrastruktur pendukung seperti charging station, bengkel kendaraan listrik, dan fasilitas parkir terintegrasi.
Dari sisi sosial, mitigasi dampak akan terus dilakukan. Pemkot memastikan adanya pelibatan masyarakat sejak tahap perencanaan, memperbanyak konsultasi publik, serta menyediakan program pendampingan ekonomi bagi kelompok yang terdampak langsung oleh transisi ini.
Transisi menuju kendaraan listrik tidak hanya soal kecanggihan teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan masyarakat menjadi bagian dari perubahan itu sendiri, serta memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan dari kota wisatanya yang semakin sehat. (pra)
Editor : Herpri Kartun