Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kenaikan BBM Picu Sentimen Pasar, Ekonom Perkiraan Inflasi DIY Akan Naik Meski Tidak Signifikan 

Fahmi Fahriza • Sabtu, 25 April 2026 | 22:10 WIB
Pengamat sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof. Nano Prawoto. Dokumen pribadi
Pengamat sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof. Nano Prawoto. Dokumen pribadi
 
JOGJA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diperkirakan akan memberikan dampak terhadap inflasi di DIY, meski dalam skala terbatas. Tekanan inflasi yang muncul dinilai tidak bersifat langsung dan cenderung moderat.
 
Pengamat sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof. Nano Prawoto menyebutkan, bahwa karakter struktur ekonomi DIY yang didominasi oleh sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu faktor yang meredam dampak kenaikan tersebut. 
 
Ia menyoroti, sebagian besar pelaku usaha di DIY masih mengandalkan BBM bersubsidi dalam kegiatan produksinya.
 
Ia memperkirakan inflasi DIY yang pada Maret 2026 lalu tercatat sebesar 4,08 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) berpotensi naik menjadi kisaran 4,28 persen hingga 4,58 persen.
 
Baca Juga: Trauma Anak Korban Daycare Bisa Bertahan Lama, Ini Kata Pakar UNY
 
Meski kenaikannya relatif kecil, angka tersebut masih berada di atas rata-rata inflasi nasional yang berkisar antara 2,5 persen hingga 3,5 persen.
 
"Dampaknya tetap ada, tapi tidak langsung dan relatif kecil karena mayoritas sektor produksi di DIY masih ditopang oleh UMKM yang pakai BBM bersubsidi," ujar Nano, Sabtu (25/4/2026).
 
Lebih lanjut, ia menilai bahwa faktor psikologis pasar turut berperan dalam mendorong inflasi. Kenaikan harga BBM kerap memicu ekspektasi kenaikan harga di masa mendatang, baik di kalangan produsen maupun konsumen.
 
Menurutnya, produsen cenderung melakukan langkah mitigasi dengan meningkatkan stok bahan baku, barang setengah jadi, hingga barang jadi sebagai antisipasi kenaikan harga.
 
Baca Juga: Dongkrak Produksi Susu, Ahmad Luthfi Inginkan Kontes Sapi Perah
 
Di sisi lain, konsumen juga terdorong untuk melakukan pembelian lebih awal dalam jumlah lebih banyak.
 
Nano menambahkan, karakter inflasi di DIY memiliki kekhasan tersendiri yang erat kaitannya dengan sektor pariwisata. Momentum libur panjang, musim liburan sekolah, hingga hari raya kerap menjadi pendorong utama kenaikan permintaan barang dan jasa.
 
Sektor makanan dan minuman diperkirakan menjadi salah satu yang terdampak, disusul sektor perawatan pribadi, khususnya untuk segmen menengah atas.
 
"Serta sektor perumahan akibat potensi kenaikan harga bahan bangunan seperti besi dan semen," paparnya.
 
Sementara itu, dari sisi perilaku konsumsi energi, masyarakat dinilai tidak serta-merta beralih ke sumber energi yang lebih murah. 
 
Baca Juga: AHY Dorong Konsep Green Corridor di Tol Prambanan–Purwomartani saat Tanam Pohon di Ruas, Ini Alasannya!
 
"Sebaliknya, mereka cenderung hemat dalam penggunaan energi sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi global," ujarnya.
 
Dengan kondisi tersebut, inflasi di DIY diperkirakan masih berada dalam kondisi terkendali, meski tetap perlu diwaspadai agar tidak bergerak terlalu jauh di atas rata-rata nasional.
 
"Kenaikan inflasi di DIY saya kira hanya sekitar 0,2 hingga 0,5 persen. Dari sebelumnya 4,08 persen bisa naik ke 4,28 sampai 4,58 persen, dan masyarakat cenderung merespons dengan menghemat konsumsi energi di tengah ketidakpastian ekonomi global," tutup Nano. (iza)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#inflasi #DIY #kenaikan bbm #UMKM