Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ramadan dan Etika Energi Berkelanjutan

Bahana. • Jumat, 20 Februari 2026 | 13:02 WIB

Ir. Rinasa Agistya Anugrah, S.Pd., M.Eng, Dosen Prodi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Otomotif, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Ir. Rinasa Agistya Anugrah, S.Pd., M.Eng, Dosen Prodi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Otomotif, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Bulan Ramadan akan selalu hadir sebagai ruang pendidikan spiritual bagi umat Islam. Melalui ibadah puasa Ramadan, manusia dilatih untuk menahan diri, mengendalikan hasrat, dan menata ulang cara hidup.

Namun, di tengah krisis energi dan kerusakan lingkungan hidup, hikmah Ramadan sejatinya tidak berhenti pada dimensi ibadah personal saja, melainkan meluas pada persoalan etika manusia dalam mengelola energi dan kelestarian alam.

Al-Qur’an mengingatkan, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A‘raf: 31).

Makna ayat ini sering dipahami hanya sebatas konsumsi makanan semata, lebih jauh sesungguhnya memiliki makna mencakup seluruh pola konsumsi, termasuk penggunaan energi.

Di era modern, pemborosan energi listrik dan ketergantungan pada bahan bakar fosil telah memicu pencemaran lingkungan (termasuk polusi udara), perubahan iklim, dan meningkatnya bencana ekologis yang kini semakin nyata dirasakan masyarakat.

Pemborosan energi listrik, eksploitasi bahan bakar fosil secara berlebihan, dan gaya hidup boros energi merupakan bentuk israf kontemporer yang berdampak sistemik.

Dampaknya tidak hanya bersifat individual, tetapi meluas menjadi kerusakan lingkungan, pencemaran udara, perubahan iklim, dan meningkatnya bencana ekologis yang kini semakin nyata dirasakan masyarakat.

Sebagai contoh, sebagian mufasir seperti Al-Qurthubi memaknai ayat ini sebagai peringatan agar manusia menjaga keseimbangan (tawazun) dalam memanfaatkan nikmat Allah, karena setiap hal yang berlebih-lebihan akan melahirkan kerusakan.

Dalam konteks energi modern, pesan ini menegaskan pentingnya transisi dari pola konsumsi yang eksploitatif menuju pemanfaatan energi yang efisien, bersih, dan berkelanjutan.

Dengan demikian, pengembangan energi terbarukan bukan hanya pilihan rasional secara ilmiah, tetapi juga manifestasi ketaatan terhadap nilai Qur’ani tentang anti pemborosan dan penjagaan kelestarian bumi.

Puasa Ramadan mendidik manusia untuk hidup hemat, efisien, dan sadar batas. Nilai ini sejalan dengan prinsip energi berkelanjutan yang menekankan keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan hak generasi mendatang.

Perspektif Islam mengajarkan kepada kita bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan khalifah yang memikul amanah untuk menjaga dan mengelola alam secara adil serta bertanggung jawab seperti yang terkandung dalam QS. Al-Baqarah: 30. Kerusakan lingkungan akibat eksploitasi energi yang berlebihan pada hakikatnya adalah bentuk pengabaian terhadap amanah tersebut.

Ramadan juga menumbuhkan empati, dengan merasakan lapar dan keterbatasan, manusia diajak memahami penderitaan pihak lain.

Dalam konteks energi dan lingkungan, empati ini seharusnya meluas kepada generasi mendatang yang akan menanggung dampak dari pilihan energi hari ini.

Ketika manusia terus bergantung pada energi kotor dan sumber daya yang boros, sesungguhnya ia sedang mewariskan krisis kepada anak dan cucunya.

Ramadan mengajarkan bahwa keberkahan tidak lahir dari konsumsi berlebihan, melainkan dari kesederhanaan yang disertai tanggung jawab moral.

Etika energi berkelanjutan menemukan landasan kuat dalam nilai-nilai puasa yaitu pengendalian diri, keadilan, dan kepedulian terhadap masa depan.

Ketika nilai Ramadan dipadukan dengan ilmu energi hijau, lahirlah kesadaran bahwa ibadah kepada Allah tidak terpisah dari kepedulian terhadap bumi.

Menjaga lingkungan adalah bagian dari iman, dan membangun sistem energi berkelanjutan adalah salah satu bentuk ibadah sosial yang paling relevan bagi umat Islam di abad ini.

Oleh: Ir. Rinasa Agistya Anugrah, S.Pd., M.Eng.

Dosen Prodi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Otomotif

Fakultas Teknik

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Editor : Bahana.
#Ramadan 2026 #Puasa Ramadan #UMY #ramadan