Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Catatan Sepak Bola: Sejarah di Antara Sejarah

Ananto Priyatno • Jumat, 8 Agustus 2025 | 04:04 WIB
Direktur Radar Jogja Ananto Priyatno
Direktur Radar Jogja Ananto Priyatno

 

 

 

LAJU sepeda motor matic bongsor mendadak terhenti di ujung pertigaan wilayah Baciro Kota Jogja. “Itu lho bos. Tulisane wis ketok (tulisannya sudah kelihatan),” seru Benk Benk tepat di samping kuping saya. Ya, Kamis siang (7/8), saya ditemani Benk Benk salah satu staf marketing iklan Radar Jogja menyambangi Wisma PSIM.

            Tentu saja kunjungan ini tanpa rencana sebelumnya. Kebetulan kami baru saja ketemu dengan  seorang klien di bilangan Kota Baru. Mumpung masih di seputaran kota, sekalian saja main main ke markas PSIM. Jujur saja, sejak saya pindah tugas di Jogja, empat tahun silam, belum sekalipun  mampir ke wisma PSIM. Padahal sejak tahun ini, saya selalu membahas PSIM di podcast mainbola Radar Jogja, hampir setiap pekan.

            “Wis cepetan Bos langsung masuk aja,” seru Benk Benk, lagi-lagi tepat di samping kuping saya. Benk Benk ini memang sontoloyo. Betapa tidak, dia dengan enaknya nangkring di jok belakang sepeda motor. Alias nunut nggonceng. “Aku engggak bisa naik matic boss,” dalihnya. Padahal sekilas mulutnya mulai matic alias tanpa gigi he he he.

 Ya begitulah, meski secara struktural kami berbeda, tetap tidak masalah bagi saya. Tidak ada batasan antara atasan dengan bawahan di Radar Jogja terkait komunikasi. Akhirnya sepanjang perjalanan hingga balik ke kantor, sayalah yang jadi kusirnya. Perlahan, laju motor masuk ke halaman wisma. Tepat di tengah - tengah halaman terlihat lingkaran kolam air mancur yang mengering. Usai memarkir kuda besi, kami berdua melangkah ke pintu yang sampingnya tertulis ‘store’.

Dua orang cowok bersama seorang cewek berjilbab menyambut kami di balik meja kasir. Di sebelah kanan tergantung bermacam jersey PSIM. “Yang kanan jersei baru. Yang kiri jersei musim lalu saat partai final,” sahut salah satu dari ketiganya. Tanpa pikir panjang saya pilih jersei musim ini yang berwarna ungu. “Itu player issue Pak. Sama yang dipakai pemain di pertandingan,” tambah dia.

Saya pun membeli jersei itu plus dua mug yang bertulis PSIM. Hitung - hitung ikut support PSIM. Walaupun nilainya tak seberapa. Jersei baru dihargai Rp 666.000. Entah darimana asal usul angka itu. Mungkin agar hoki kali ya...

Ternyata, saya juga baru sadar inilah kali pertama saya beli jersei sebuah tim sepak bola profesional. Sebelumnya saya memang punya beberapa koleksi jersei asli klub liga Indonesia. Tapi semuanya pemberian pemain. Bisa jadi ini sejarah bagi saya, he he he he.

Bicara sejarah, malam nanti, PSIM juga bakal mulai membuka lembaran sejarah baru. Tim besutan pelatih Jean Paul van Gastel ini akan memulai petualangan mengarungi Super League, kompetisi kasta tertinggi sepak bola profesional di negeri ini. Ini menjadi penantian panjang bagi Brajamusti,  Maident dan seluruh pencinta PSIM. Maklum, 18 tahun mereka harus menunggu tim pujaannya kembali ke habitat awal : kasta tertinggi sepak bola tanah air.

Bagi pendukung PSIM, berada di kasta tertinggi tentu sebuah keharusan. Pasalnya, PSIM merupakan satu di antara enam tim yang membidani lahirnya PSSI selaku otoritas tertinggi sepak bola Indonesia. Sudah sepantasnyalah Laskar Mataram ini berada di posisi itu. Dan musim lalu harapan itu terwujud. PSIM promosi dengan gaya. Kok dengan gaya? Ya, soalnya sejak awal kompetisi liga 2, tim ini begitu meyakinkan. Poin demi poin mereka raih. Meski tidak semuanya mulus. Terkadang, para pendukung harus menahan napas saat timnya gagal mendapatkan poin dengan mudah. Tapi, mayoritas pendukung, yakin saat itulah PSIM akan promosi.

Memori saya kembali terlempar ke tahun 2006. saat itu, saudara tua PSIM yakin Persis Solo juga kali pertama menembus level tertinggi sepak bola Indonesia. Kala itu, Persis lolos usai menjadi runner up Divisi 1 bersama Persebaya Surabaya. Namanya masih Divisi utama kala itu. Euforianya juga luar biasa. Kebetulan saya juga menjadi salah satu saksi mata kala Persis lolos kala itu. Saat masih menjadi wartawan olahraga.

Begitu lolos Divisi Utama, Persis berbenah. Targetnya beda lagi, lolos ke Superliga. Saat itu memang ada seleksi lagi bagi tim-tim Divisi Utama untuk masuk Superliga. Kalau tidak salah urutan ke-10 masing wilayah yang terdiri dari 18 grup lolos ke Superliga. Seingat saya saat itu Persis dan PSIM juga satu wilayah. Dan dua-duanya tidak lolos ke superliga. Bedanya, 14 tahun berselang Persis mampu lolos ke Liga 1. Sementara PSIM baru musim ini kembali ke Liga 1 atau berselang 18 tahun.

Seneng sih menjadi saksi mata dua tim mbah-nya sepak bola Indonesia berlaga di kasta tertinggi sepak bola. Tapi kegembiraan itu sepertinya tak bisa berlarut-larut. Soalnya, malam ini menjadi langkah awal nasib PSIM di Superliga. Bagi PSIM, Superliga adalah belantara baru yang harus ditaklukkan. Kondisinya berbeda 180 derajat dibanding Liga 2.

Tentanganya pasti lebih berat. Apalagi tim promosi. Manajemen juga sadar kondisi itu. Seperti membangun mobil balap, nyaris semua komponen tim dimodifikasi. Tentu dengan spareparts yang lebih top. Pemain baru didatangkan. Sementara pemain lama yang menjadi tulang punggung tim masih dipertahankan. Mekanik baru juga didatangkan. Tidak tanggung tanggung diimpor langsung dari Belanda. Sosoknya juga tak main-main. Jean Paul van Gastel, salah satu legenda Feyenoord Rotterdam, salah satu tim papan atas Liga Belanda.

“Prediksi menang kalah mas,” tanya saya kepada salah satu penjaga PSIM Store. “Harapannya sih gak kalah pak. Kalaupun kalah juga mainnya bagus enggak memalukan,” jawabnya diplomatis.

Sepertinya, jawaban seperti itu mayoritas akan dilontarkan kepada para pendukung PSIM. Ya, kini pendukung sepak bola di tanah air sudah semakin cerdas. Mereka sudah bisa memprediksi ataupun membaca pertandingan. Bagi para pendukung, PSIM bisa bertahan di Superliga adalah hasil yang sangat memuaskan. Kalau bisa merangsek ke papan atas, ini kemewahan bagi mereka. Kalau untuk juara, eittt nanti dulu. “Ya jangan ngomong juara dulu. Yang penting bertahan,” lanjutnya.

“Gimana Mbenk, PSIM menang kalah besok (malam ini)?” tanya saya kepada Benk-benk sambil menyantap Mie Ayam Bandung di kompleks Stadion Kridosono. “Menang ampuh bos, seri mantap,” jawab Benk Benk sembari melahap sendok terakhir mi gorengnya. Ayo PSIM, AYDK……..(*)

 

Ananto Priyatno, Pengamat Sepak Bola dan Direktur Radar Jogja

Editor : Heru Pratomo
#Ananto Priyatno #radar jogja #Super League #PSIM Jogja