Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Enam Ciri Manusia Indonesia: Potret Diri di Cermin Mochtar Lubis

Bahana. • Selasa, 15 Juli 2025 | 01:46 WIB
Nazaruddin
Nazaruddin

Oleh: Nazaruddin

Dalam pidato kebudayaan yang disampaikannya di Taman Ismail Marzuki tahun 1977, Mochtar Lubis—jurnalis, sastrawan, dan intelektual publik terkemuka Indonesia—menggambarkan wajah manusia Indonesia dengan gaya yang lugas, tajam, dan kontroversial.

Ia menyebut bahwa manusia Indonesia memiliki enam ciri utama yang membentuk kepribadian kolektif bangsa ini.

Bukan untuk menjatuhkan, tapi sebagai bentuk kritik sosial yang tajam demi perubahan. Enam ciri tersebut menjadi semacam "psikoanalisis" sosial yang menggugah, dan hingga hari ini masih relevan untuk direnungkan.

1. Munafik atau Hipokrit

Ciri pertama yang dikemukakan Mochtar Lubis adalah kemunafikan. Manusia Indonesia, katanya, sering kali tidak memperlihatkan wajah yang sebenarnya. Mereka kerap berbicara tentang kebaikan, keadilan, dan moralitas, tetapi dalam praktiknya justru bertindak sebaliknya.

Misalnya, pejabat yang menyerukan antikorupsi tetapi terlibat dalam praktik suap. Atau elite agama yang berdakwah tentang kejujuran tapi justru menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadi.

Kemunafikan ini tumbuh dari budaya malu yang superfisial—takut ketahuan, bukan takut berbuat salah. Nilai yang ditanam bukan integritas, melainkan pencitraan.

2. Enggan Bertanggung Jawab

Mochtar Lubis juga menyoroti betapa sulitnya manusia Indonesia mengakui kesalahan dan bertanggung jawab. Sering kali, ketika terjadi masalah, budaya menyalahkan orang lain lebih dominan ketimbang introspeksi.

Dalam birokrasi maupun politik, tanggung jawab kerap menjadi barang langka. Bahkan dalam skala kecil seperti keluarga atau sekolah, mekanisme pertanggungjawaban sering dilimpahkan kepada faktor eksternal—nasib, takdir, atau orang lain.

Budaya ini melahirkan sikap pasif, menghindar, dan ketergantungan. Tanggung jawab menjadi beban, bukan kehormatan.

3. Bersikap dan Berperilaku Feodal

Feodalisme yang diwarisi dari masa kerajaan dan kolonialisme, menurut Mochtar, tetap hidup dalam relasi sosial masyarakat Indonesia.

Ciri ini tampak dari kecenderungan untuk tunduk kepada atasan atau orang yang dianggap lebih tinggi status sosialnya, dan sebaliknya cenderung sewenang-wenang kepada bawahan.

Feodalisme ini tidak hanya menjelma dalam bentuk penghormatan yang berlebihan, tetapi juga dalam pembungkaman kritik dan ketundukan yang tidak rasional terhadap otoritas. Relasi kuasa menjadi hierarkis dan kaku, bukan partisipatif dan egaliter.

4. Masih Percaya Takhayul

Ciri keempat adalah kecenderungan masyarakat Indonesia untuk mempercayai takhayul dan kekuatan supranatural. Meski pendidikan formal telah berkembang, banyak orang Indonesia yang masih memercayai dukun, ramalan, dan kekuatan gaib sebagai penentu hidup.

Takhayul menjadi pelarian dari ketidakpastian dan kemalasan berpikir kritis. Ketimbang mencari penjelasan ilmiah dan logis, banyak yang lebih nyaman dengan penjelasan mistis. Ini mencerminkan belum tuntasnya proses pencerahan (enlightenment) dalam masyarakat Indonesia.

5. Artistik

Di tengah semua kritiknya, Mochtar Lubis menyelipkan satu pujian: manusia Indonesia memiliki jiwa seni yang kuat. Keindahan hidup dalam berbagai ekspresi budaya: batik, tari, musik, sastra, hingga arsitektur. Bahkan dalam situasi sulit sekalipun, mereka mampu menciptakan keindahan dari keterbatasan.

Seni menjadi saluran untuk mengekspresikan emosi, identitas, dan spiritualitas. Jiwa artistik ini juga menjadi ruang perlawanan simbolik terhadap represi dan struktur kuasa yang menekan.

6. Lemah Karakter dan Disiplin

Ciri terakhir adalah lemahnya karakter dan disiplin. Manusia Indonesia, menurut Mochtar, mudah menyerah, kurang konsisten, dan tidak memiliki etos kerja yang kuat. Ketepatan waktu diabaikan, kesepakatan dilanggar, dan kualitas kerja sering dikorbankan demi kenyamanan sesaat.

Lemahnya karakter ini menjadi akar dari berbagai masalah sosial dan struktural: korupsi, kemiskinan, hingga krisis kepemimpinan. Disiplin bukan hanya soal aturan, tetapi tentang kejujuran terhadap diri sendiri dan komitmen pada nilai.

Refleksi dan Relevansi

Membaca keenam ciri manusia Indonesia yang dirumuskan Mochtar Lubis, kita seakan bercermin di hadapan potret buram bangsa sendiri. Kritiknya tidak ditujukan kepada individu semata, melainkan pada struktur sosial dan budaya yang membentuk karakter kolektif kita.

Yang paling menggugah adalah kenyataan bahwa ciri-ciri tersebut masih bisa kita jumpai hari ini, meskipun telah berlalu hampir setengah abad sejak pidato itu disampaikan. Reformasi politik, ledakan teknologi informasi, dan modernisasi pendidikan belum sepenuhnya mengubah pola pikir dan mentalitas yang dikritik Mochtar.

Namun, esai ini sebaiknya tidak dibaca sebagai vonis pesimistis. Justru sebaliknya, ia adalah undangan untuk berbenah. Jika kita mampu mengenali kemunafikan dalam diri dan budaya kita, maka kita bisa memulainya dengan membangun integritas pribadi.

Jika kita sadar akan feodalisme, maka saatnya menumbuhkan budaya dialog dan kesetaraan. Dan jika kita bangga dengan jiwa artistik kita, mari jadikan seni sebagai ruang pembebasan, bukan pelarian.

Mochtar Lubis tidak sedang mencaci, melainkan menggugah. Ia mengajak kita semua—individu maupun bangsa—untuk jujur bercermin, berani berubah, dan tumbuh menjadi manusia Indonesia yang lebih utuh, merdeka, dan bertanggung jawab.


Referensi:
Lubis, Mochtar. Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungan Jawab. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1983.

Editor : Bahana.