Oleh: Nazaruddin
Pemerhati Hukum dan Sosial Politik
Dalam suatu kesempatan yang kini banyak dikutip dan terus dikaji, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menyatakan bahwa, “NU adalah Syiah minus Imamah.”
Pernyataan ini, meski terkesan ringan dan retoris, mengandung bobot teologis, historis, sekaligus politis yang besar.
Gus Dur tidak sedang mengaburkan batas antarmazhab, melainkan mengajak kita untuk lebih cerdas memahami persamaan kultural dan spiritual yang kerap tertutup oleh retorika perbedaan.
Syiah Kultural dalam Tradisi NU
Gus Dur melihat bahwa Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, mempraktikkan banyak bentuk Islam yang dalam sejarahnya juga hidup dan berkembang di kalangan Syiah.
NU sangat menonjol dalam penghormatan terhadap Ahlul Bait, ziarah kubur, tahlilan, maulidan, tabarruk, serta sikap toleran terhadap khazanah tasawuf. Ini adalah warna kultural yang juga sangat kuat dalam tradisi Syiah, khususnya Syi’ah Imamiyah.
Misalnya, dalam tradisi NU, peringatan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Asyura dilakukan dengan khidmat.
Peringatan Asyura bagi NU bukan sekadar momentum sejarah wafatnya cucu Nabi, Imam Husain, di Karbala, melainkan juga menjadi simbol perlawanan terhadap kezaliman. Ini sejalan dengan semangat spiritual dalam tradisi Syiah, walau berbeda dalam penekanan teologis.
“Minus Imamah”: Titik Beda Teologis
Namun Gus Dur juga tegas menyatakan bahwa NU bukanlah Syiah secara doktrinal. Perbedaan mendasar itu terletak pada konsep Imamah.
Dalam teologi Syiah, Imamah adalah pilar utama akidah. Kepemimpinan umat setelah Nabi Muhammad diyakini harus diwariskan secara ilahiah kepada keturunan Nabi, dimulai dari Ali bin Abi Thalib hingga para imam yang diimani sebagai ma’shum (terjaga dari dosa).
NU, sebagaimana mazhab Sunni pada umumnya, tidak memegang prinsip ini. Kepemimpinan umat dalam Sunni tidak berdasarkan nas (teks ilahi), tetapi ijtihad dan kesepakatan umat (ijma’). Oleh karena itu, kepemimpinan dalam Islam, dalam pandangan NU, tidak bersifat keturunan atau ketokohan spiritual, melainkan hasil dari musyawarah dan dinamika sejarah umat.
Upaya Mencari Titik Temu
Pernyataan Gus Dur bukan untuk mencairkan batas-batas teologis secara sembrono, melainkan sebagai ikhtiar intelektual untuk menemukan titik temu kultural dan etis antara dua mazhab besar Islam.
Bagi Gus Dur, perbedaan dalam akidah tidak seharusnya menjelma menjadi permusuhan sosial, apalagi kekerasan politik. Dialog antarmazhab bukan sekadar mungkin, tetapi perlu dan mendesak, demi memelihara keberagaman dalam tubuh umat Islam sendiri.
Dalam banyak pengamatannya, Gus Dur justru melihat bagaimana trauma sejarah antara Sunni dan Syiah sering dimanipulasi oleh kekuasaan politik untuk menciptakan konflik horisontal.
Padahal, dalam praktik kehidupan beragama, banyak ekspresi dan praktik keislaman umat Islam Indonesia – terutama warga NU – menunjukkan titik temu dengan spiritualitas Syiah. Maka Gus Dur menggunakan metafora yang tajam: NU adalah Syiah secara budaya, tapi bukan secara ideologi kepemimpinan.
Pentingnya Perspektif Gus Dur dalam Era Polarisasi
Di tengah dunia Islam yang kerap terbelah oleh konflik Sunni-Syiah, terutama karena intervensi politik global dan regional, cara pandang Gus Dur menjadi sangat relevan.
Ia mengajak kita untuk berpikir jernih, menimbang tradisi, dan memisahkan antara perbedaan yang bersifat prinsipil dan perbedaan yang bersifat ekspresi budaya.
Lebih jauh, Gus Dur mengajarkan bahwa persatuan umat bukan berarti penyatuan mazhab, melainkan pengakuan atas perbedaan dan penciptaan ruang dialog yang sehat. Ia mewariskan kepada kita cara pandang bahwa keragaman internal umat Islam adalah rahmat, bukan sumber kutukan.
Penutup
“NU adalah Syiah minus Imamah” bukanlah pernyataan yang menyesatkan atau relativistik. Justru ia adalah bentuk rekonsiliasi kultural yang dibungkus dengan kejenakaan khas Gus Dur. Sebuah undangan untuk berpikir, berdialog, dan bersatu dalam keberagaman, sembari tetap setia pada prinsip masing-masing.
Di era ketika suara-suara takfiri dan sektarianisme menguat kembali, warisan pandangan seperti inilah yang perlu kita hidupkan kembali – demi masa depan Islam yang damai, terbuka, dan dewasa.
Editor : Bahana.