Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Demokrasi yang Dihidupi dengan Mantra Anti-Demokrasi

Bahana. • Senin, 9 Juni 2025 | 19:30 WIB

Photo
Photo

Oleh: Nazaruddin 

Pengamat Hukum dan Politik

Ada paradoks yang amat mengganggu dalam institusi yang mengaku sebagai infrastruktur demokrasi. Membungkus diri tagline " Tegakkan keadilan, Lawan Kezaliman", dengan jargon-jargon keadilan, kebebasan berpendapat, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Namun ironisnya, di dalam tubuhnya sendiri, prinsip-prinsip itu tidak pernah benar-benar hidup.

Problem yang muncul di internal, alih-alih dibuka dan didiskusikan secara sehat, justru dikubur dalam-dalam. Dialektika — yang semestinya menjadi jantung dari demokrasi — nyaris tak mendapat ruang.

Yang muncul justru narasi tunggal yang diulang seperti mantra: kalau sudah tidak cocok, silakan keluar; kalau sudah tidak sepaham, silakan bikin partai sendiri.

Di balik kalimat-kalimat ini ada pesan yang jauh lebih dalam: ketidakmauan untuk berbenah dan ketakutan terhadap perbedaan pendapat.

Alih-alih membangun budaya organisasi yang dewasa dan terbuka, institusi semacam ini justru memperkuat mentalitas in group yang menolak kritik.

Lebih memprihatinkan lagi, kader-kader yang ada di dalamnya tidak dididik untuk memahami dan menyelesaikan masalah secara substantif.

Mereka justru dididik untuk menjadi pengeras suara bagi mantra-mantra anti-demokrasi. Pendidikan politik yang mestinya menumbuhkan nalar kritis digantikan oleh pelatihan loyalitas tanpa syarat, taklid buta.

Yang paling mencolok adalah kontras antara wajah luar dan wajah dalam institusi semacam ini. Di luar, kritik terhadap kezaliman bisa begitu lantang, menggelegar, dan tanpa kompromi — seolah merekalah satu-satunya penegak keadilan.

Namun begitu cermin diarahkan ke dalam, standar itu tiba-tiba lenyap. Sikap otokritik nyaris tak pernah terdengar, apalagi diteladankan.

Padahal, prinsip paling mendasar dalam ajaran keadilan — termasuk dalam ajaran agama — adalah: mulailah dari dirimu sendiri.

Bagaimana mungkin sebuah institusi bisa mengusung tagline, "Lawan Kezaliman Tegakkan Keadilan", sementara tak berani bercermin dan membersihkan kotoran di dalam rumahnya sendiri?

Demokrasi bukan sekadar sistem atau prosedur formal. Ia adalah kebudayaan, yang hidup melalui keberanian membuka ruang dialog, menerima kritik, dan melakukan koreksi.

Demokrasi yang dibangun di atas mantra anti-demokrasi hanyalah kepura-puraan — dan lama-kelamaan akan runtuh oleh kemunafikan yang ia pelihara sendiri.

Editor : Bahana.
#demokrasi