Oleh: Jimmy Jeniarto
(Dosen freelance pada mata kuliah Logika dan Etika)
Kemewahan dan hedonistik seolah berkaitan erat, atau malah identik. Mewah kerap dipahami sebagai -- berkaitan dengan barang atau cara hidup – yang bersifat banyak, berlebihan, atau berlimpah. Hedonistik sering dimengerti sebagai kesenangan terhadap hal-hal yang mewah.
Dari perspektif kajian etika, identifikasi sikap hedonistik, juga hedonisme, dengan kemewahan, atau sebaliknya, sebenarnya kurang tepat. Pandangan masyarakat umum kerap mengidentikkan keduanya.
Hedonisme merupakan salah satu sistem moral yang muncul di Yunani. Bagi hedonisme, apa yang terbaik bagi manusia adalah kenikmatan. Kata Yunani “hedone” berarti kenikmatan, kesenangan.
Baca Juga: LAKU PARA ELIT DI PEMILIHAN PRESIDEN PASKA REFORMASI 98
Menurut hedonisme, tujuan hidup manusia adalah hedone. Meningkatkan dan memuaskan kenikmatan. Etika hedonisme membawa konsep kenikmatan yang tidak disederhanakan pada kemewahan harta-benda saja.
Tokoh-tokoh utama hedonisme adalah Aristippos (433-355 SM) dan Epikuros (341-270 SM). Menurut Aristippos, meski tujuan perbuatan manusia adalah hedone, kenikmatan badani, namun ada batasnya. Manusia perlu pengendalian dalam mencari hedone tersebut. Menguasai hedone, bukan dikuasai oleh hedone.
Sedangkan pemikiran hedone Epikuros tidak semata badani, namun juga rohani. Ketenangan atau kedamaian jiwa (ataraxia) timbul jika segala keinginan terhadap kenikmatan telah dipuaskan, sehingga tidak ada lagi yang diinginkan. Semakin sedikit keinginan, maka semakin besar kebahagiaan.
Epikuros menganjurkan pola hidup sederhana. Kebahagiaan tidak tercipta dari menikmati hal yang berlimpah atau banyak. Hal yang berjumlah sedikit, sebenarnya bisa dinikmati.
Baca Juga: Jogangan Sebagai Local Wisdom
Dari pemikiran Aristipos dan Epikuros tersebut, terlihat beberapa perbedaan terhadap pemahaman banyak orang saat ini tentang arti hedonisme, yang didominasi oleh pengertian gaya hidup mewah dan pemburuan kesenangan tanpa batas.
Beberapa pokok pemikiran hedonisme Aristipos dan Epikuros akan muncul kembali pada pemikiran Utilitarisme abad 19, dengan tokoh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill. Bentham bahkan menyusun kalkulus hedonistik, yang merupakan upaya kalkulasi pertimbangan moral atas suatu perbuatan.
Sulit untuk dibantah bahwa banyak orang menginginkan kenikmatan (kesenangan) dan menghindari ketidak-nikmatan (ketidak-senangan) di dalam hidupnya. Misal, banyak orang menginginkan sehat daripada sakit. Menginginkan gembira daripada sedih.
Bahkan, konsep banyak agama tentang surga di kehidupan setelah kematian juga diisi hal-hal yang memuaskan rasa nikmat. Menghindari neraka, sebagai representasi rasa sakit dan penderitaan, lawan dari kenikmatan atau kesenangan.
Gaya hidup mewah kadang bisa merupakan perwujudan sikap hedonistik. Namun, sikap hedonistik tidak sama dengan gaya hidup mewah, sebagaimana anjuran Epikuros tentang hidup sederhana.
Kenikmatan bisa muncul dari hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kemewahan atau harta-benda (termasuk makan, minum, dan sex). Misal, seorang sadistis bisa menemukan kenikmatan dengan cara menyiksa hewan atau manusia.
Banyak mistikus yang merasa mencapai kenikmatan dengan jalan penjauhan diri dari kemewahan dan kekayaan. Hidup sederhana ataupun kekurangan secara ekonomi dalam ukuran masyarakat umum. Bahkan, seorang masokistis menemukan kenikmatan dengan cara mengalami penderitaan, menjadi korban penyiksaan.
Bagi hedonisme, apa yang baik secara moral adalah hedone. Namun, patut diajukan pertanyaan pada aliran hedonisme: apakah sesuatu itu dinikmati (disenangi) karena ia baik, ataukah sesuatu tersebut menjadi baik karena dinikmati (disenangi)? Ini adalah dua hal yang berbeda.
Selain itu, istilah “hedone” (kenikmatan) merupakan term yang bisa bersifat samar (vague). Terjadi border line case. Interpretasi bisa bersifat relatif.
Apa ukuran bagi kenikmatan? Sesuatu yang dianggap nikmat (menyenangkan) bagi seseorang, bisa jadi belum, kurang, atau bahkan tidak nikmat (menyenangkan) bagi orang lain. Serupa dengan istilah “kaya”, “miskin”, “cinta”, “adil”, “indah”, dan “bahagia”. Bahkan bagi diri orang bersangkutan, makna bisa berubah. Interpretasinya bisa bergeser-geser.
Demikian pula istilah “mewah” atau “kemewahan”. Mungkin, saat ini, bagi banyak orang muslim Indonesia, ibadah haji atau umrah ke tanah suci secara berulang lebih dari satu kali bisa dianggap bersifat mewah karena perlu biaya yang relatif besar.
Sedangkan bagi banyak orang muslim Indonesia lainnya, ibadah haji atau umrah secara berulang tersebut bisa jadi saluran laku hidup hedonistik, karena mendatangkan kenikmatan. Memenuhi keinginan penyempurnaan ajaran agama. Mencapai ataraxia, kata Epikuros.
Hedonisme mengalami persoalan dengan pengertian “kenikmatan”, sehingga kemudian juga dengan pengertian “kebahagiaan”. Akan tetapi, persoalan ini tampaknya juga dialami oleh sistem-sistem etika yang lain, tidak hanya hedonisme saja.
Dari perspektif neurosains, kehidupan atau keadaan mental seseorang dibentuk oleh mekanisme-mekanisme biokimia di dalam tubuh. Dengan demikian, juga termasuk keadaan susah dan bahagia.
Kebahagiaan subjektif tidak datang dari luar. Kebahagiaan datang dari sensasi-sensasi nikmat di dalam tubuh manusia. Kenikmatan tersebut didatangkan oleh hormon-hormon serotonin, dopamin, endorfin, dan oksitosin (kimia-kimia neurotransmiter yang mememungkinkan terjadinya komunikasi antar neuron-neuron di otak).
Dengan kata lain, kebahagiaan tidak langsung datang dari pencapaian-pencapaian harta, jabatan, sex, pasangan-hidup, keluarga, makanan-minuman, ibadah keagamaan, status sosial, kesederhanaan, kesendirian, perpantangan, asketisme, dan hal-hal lain yang selama ini dianggap sebagai sumber kebahagiaan hidup oleh banyak orang. Ada proses kompleks di otak dan tubuh yang akan menentukan keadaan mental seseorang.***
Editor : Jihad Rokhadi