Oleh: Lina Susanti Juswara
Tumbuhan anggrek sangat digemari dikalangan masyarakat luas. Terdapat 25.000-30.000 jenis anggrek yang ada di dunia, Indonesia memiliki ±5000 jenis yang tersebar dari Sabang sampai Merauke yang tiap tahun bertambah jumlahnya dengan adanya penemuan jenis-jenis baru. Secara umum, semua jenis anggrek masuk dalam daftar konvensi internasional perdagangan jenis yang dilindungi (CITES: The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) pada appendix I dan II. Namun, ada 295 jenis anggrek yang masuk dalam daftar merah (redlist).
Tidak seperti anggrek kantong (Paphiopedillum sp.) dan anggrek bulan (Phalaenopsis sp.), anggrek mutiara belum banyak dikenal khalayak umum. Anggrek mutiara dapat ditemui di daerah tropis dan subtropis Eropa, Asia, Australasia, Africa, Makronesia, Madagaskar dan Amerika sebanyak ±450 jenis. Habitat tumbuhnya yaitu dari dataran rendah dekat pantai hingga pegunungan dengan ketinggian mencapai lebih dari 2000 m dengan kondisi habitat hutan yang tertutup, gelap dan lembab. Anggrek ini berukuran kecil dengan warna bunga yang kurang menarik perhatian (putih, hijau, merah kecoklatan). Namun, daya tariknya terletak di bagian daun yang mempunyai pola garis dan jala yang mencolok. Tekstur daun mengkilat karena lapisan lilin pada permukaannya hingga seperti beludru.
Selain sebagai tanaman hias, anggrek memiliki berbagai kegunaan lain yaitu obat, perasa makanan, tanaman hias, dan kosmetik. Anggrek mutiara sebagai tumbuhan obat, sudah dipergunakan di beberapa negara. Anoectochilus formosanus, yang persebarannya ada di Jepang, Hongkong dan Taiwan, dikenal sebagai obat darah tinggi, diabetes dan jantung. Di beberapa negara di Asia, Anoectochilus roxburghii dimanfaatkan sebagai makanan, obat dan tanaman hias. Di Vietnam beberapa jenis dari marga Anoectochilus, Goodyera, Dossinia, Ludisia, dan Macodes dimanfaatkan sebagai herbal obat antara lain adalah meningkatkan stamina, antioksidan, antitumor, dan agen modulasi imunitas. Warga sekitar hutan di Jawa Barat pernah menggunakan jenis anggrek Macodes petola sebagai obat mata, namun penggunaannya belum tersebar luas dan nampaknya saat ini tidak lagi dipakai sebagai obat.
Pembukaan hutan berakibat pada perubahan mikro habitat di dalamnya. Anggrek mutiara sangat bergantung pada kestabilan mikro habitatnya. Namun perlahan-lahan populasi jenis anggrek mutiara akan berkurang akibat perubahan yang terjadi. Pengenalan tumbuhan secara menyeluruh juga masih kurang tersebar luas. Masih banyak yang belum mengetahui seperti apa rupa anggrek mutiara. Selain itu, dokumentasi persebarannya di alam hanya terbatas dari spesimen herbarium. Hal ini menyebabkan penyelamatan anggrek mutiara terabaikan.
Konservasi diluar habitat aslinya yang paling sederhana adalah dengan penanaman dan perbanyakan di kebun raya. Namun jenis-jenis anggrek mutiara tidak mudah hidup dan tumbuh secara normal dengan penanganan yang sederhana. Hal ini dikarenakan iklim mikro dari habitatnya sangat spesifik, sehingga pelestarian dilokasi dengan iklim yang sama tetap sulit menggantikan habitat aslinya. Ditambah lagi belum banyak penelitian perbanyakan jenis-jenis anggrek mutiara dengan cara lainnya, seperti kultur jaringan.
Penelitian pada anggrek mutiara untuk mengetahui kandungan kimia yang berpotensi sebagai bahan obat juga belum banyak dilakukan. Penelitian kultur jaringan terhadap beberapa jenis anggrek mutiara sudah pernah dilakukan namun jumlah jenisnya masih terbatas, sementara potensi anggrek sebagai obat masih belum tereksplorasi secara menyeluruh. Beberapa jenis anggrek mutiara yang sudah diperbanyak secara kultur jaringan, yaitu jenis-jenis dari marga Anoectochilus dan Goodyera.
Dengan melihat karakter tumbuhan jenis-jenis anggrek mutiara yang rentan terhadap perubahan lingkungan ditambah dengan pelestarian yang cukup sulit, maka upaya perlindungan dalam habitat alaminya menjadi sangat diperlukan. Peran dan komitmen dari seluruh komponen menjadi sangat penting, mulai dari pemegang kendali pengelolaan hutan maupun masyarakat sekitar hutan dalam menjaga kelestarian hutan dan seluruh “penghuni” lantai hutan seperti anggrek mutiara. Mengutip data dari kementrian lingkungan hidup dan kehutanan, deforestrasi Indonesia tahun 2020-2021 sebesar 113.5 ribu ha, sementara tahun 2021-2022 sebesar 104 ribu ha.
Sistem penutupan dan pembukaan lahan di Indonesia bersifat dinamis, disesuaikan dengan kebutuhan lahan untuk pembangunan dan aktifitas lainnya memberi efek besar. Konsekuensi pembukaan hutan yang kemudian dihijaukan kembali, memerlukan waktu lama untuk mengembalikan ke kondisi ideal semula sebagai habitat spesifik anggrek mutiara. Secara khusus untuk anggrek mutiara, konservasi dalam habitat aslinya merupakan langkah yang ideal, dengan catatan khusus bahwa hutan primer dimana jenis ini tumbuh di lantai hutan tidak terganggu. Selain itu, perbanyakan secara kultur jaringan diperlukan untuk dapat memproduksi secara massal jenis ini untuk program reintroduksi jenis ini di habitat asalnya.
Keikutsertaan masyarakat dalam konservasi anggrek mutiara juga sangat diperlukan. Alangkah baiknya bila masyarakat secara luas dapat memperhatikan asal tanaman anggrek yg didapatkan. Eksploitasi yang berlebihan dapat menurunkan populasi anggrek alam. Sangat disarankan bahwa anggrek yang diperjual-belikan adalah anggrek hasil budidaya baik vegetatif maupun generatif. Perbanyakan dengan memperhatikan konservasi anggrek akan melindungi populasi dan habitatnya.
Dengan adanya jaminan keamanan terhadap hutan primer beserta seluruh komponennya, maka keanekaragaman hayati anggrek mutiara yang belum banyak dieksplorasi secara mendalam, dapat terlindungi dan potensi pemanfaatannya dapat diteliti secara menyeluruh. Hal ini sesuai dengan amanat Presiden RI Bapak Joko Widodo yang menandatangani Inpres No 1 tahun 2023 mengenai pengarustamaan pelestarian keanekaragaman hayati dalam pembangunan berkelanjutan. Hal ini selaras dengan komitmen Indonesia dengan perjanjian internasional terkait keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Dengan menjaga stabilitas hutan primer di Indonesia, baik luasan maupun kondisinya, dengan pengawasan yang tepat sasaran, secara tidak langsung sudah menyelamatkan keanekaragaman hayati yang akan dimanfaatkan di masa mendatang secara berkelanjutan dan mengurangi dampak dari perubahan iklim.
Gambar 1. Beberapa anggrek mutiara: A. Erythrodes brevicalcar , B. Goodyera reticulata, C. Zeuxine gracilis, D. Goodyera viridiflora.
Gambar 2. Beberapa anggrek mutiara: A. Macodes petola, B. Goodyera rubicunda.
Editor : Jihad Rokhadi