Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Esensi Pengembangan Layanan Prakonsepsi oleh Tenaga Kesehatan di Layanan Primer

Bahana. • Kamis, 18 Januari 2024 | 22:07 WIB
Photo
Photo

Oleh: Fitriana Murriya Ekawati

Dosen dan Peneliti, Departemen Kedokteran Keluarga dan Komunitas

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada

Photo
Photo
Pelayanan prakonsepsi merupakan komponen penting pada kesehatan wanita. Pelayanan ini mencakup penanganan masalah kesehatan dan peningkatan kesejahteraan calon ibu  sebelum konsepsi dan kehamilan terjadi sehingga pertumbuhan dan perkembangan janin menjadi optimal.

Pelayanan prakonsepsi pada detilnya setidaknya meliputi empat hal, yakni: deteksi dini kondisi ibu saat ini, perawatan untuk mengontrol kondisi kronis yang dipunyai oleh ibu seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan tiroid, gangguan jantung, vaksinasi dan minimalisasi resiko dari faktor lingkungan, misalnya apakah calon ibu ini mempunyai hewan peliharaan atau tinggal di lingkungan yang penuh polusi (Poels et al., 2016). 

Layanan kesehatan primer, di sisi lain adalah sebagai titik kontak pertama bagi individu yang mencari layanan kesehatan, dan menangani pasien baik pada saat pasien tersebut sehat dengan promosi kesehatan dan saat pasien mengalami permasalahan kesehatannya.

Strata layanan kesehatan ini di Indonesia dilaksanakan utamanya oleh Puskesmas dan praktik dokter keluarga, dan telah menangani sebagian besar kesehatan pasien sebelum apabila perlu, pasien dirujuk kepada dokter spesialis.

Kesempatan sebagai first-contact inilah maka layanan kesehatan primer berfungsi sebagai layanan yang ideal untuk pemberian layanan prakonsepsi, dimana saat ini sebanyak lebih dari 90% ibu dan calon ibu di Indonesia juga mengakses layanan primer untuk pelayanan pemeriksaan kehamilannya (Indonesia, 2021).

Sehingga apabila para tenaga kesehatan yang ada di layanan kesehatan primer ini mempunyai pengetahuan yang baik tentang riwayat kesehatan pasien, maka mereka dapat menyesuaikan intervensi perawatan prakonsepsi untuk meminimalkan potensi risiko komplikasi pada kesehatan ibu (Srinivasulu et al., 2019).

Layanan primer di sisi lain juga mempunyai kesempatan yang luas dalam memberikan pelayanan ini kepada pasien.

Pelayanan konsultasi prakonsepsi berfokus pada identifikasi dan mitigasi faktor risiko gaya hidup yang terkait dengan hasil kehamilan yang merugikan, karena faktor gaya hidup seperti merokok, konsumsi alkohol, dan nutrisi yang tidak memadai dapat berkontribusi terhadap komplikasi selama kehamilan.

Layanan primer sekali lagi, juga dapat menyediakan konseling komprehensif, membimbing individu menuju pilihan dan perilaku yang lebih sehat.

Dokter di layanan primer juga dapat menginisiasi pemberian suplementasi asam folat, untuk mengurangi risiko cacat tabung saraf pada janin yang sedang berkembang.

Selain itu, pelayanan prakonsepsi juga menekankan pada kesejahteraan emosional dan mental, serta mengenali dampak stres dan kesehatan mental terhadap proses kehamilan.

Tenaga medis yang memberikan layanan kesehatan primer kemudian dapat mengidentifikasi dan mengatasi masalah kesehatan mental, menawarkan dukungan dan sumber daya untuk meningkatkan ketahanan psikologis selama periode prakonsepsi dan membantu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kehamilan yang sehat dan perkembangan janin yang optimal (Catalao et al., 2020).

Selain faktor di atas, dengan mudahnya akses yang dipunyai di layanan primer, dimana Puskesmas relatif mudah dijangkau, setting ini maka dapat membantu mengatasi kesenjangan kesehatan dan mendorong kesetaraan kesehatan.

Layanan primer juga dapat memfasilitasi pengembangan hubungan pasien-penyedia layanan yang kuat, menumbuhkan kepercayaan dan komunikasi terbuka antara tenaga kesehatan dan calon ibu.

Hubungan baik ini memungkinkan penyedia layanan memberikan perawatan berkelanjutan (continuity of care) yang sesuai, yang akan mendukung ibu, calon ibu dan keluarganya sepanjang perjalanan kesehatan mereka, tidak hanya saat sebelum, namun juga selama dan setelah kehamilan (Herman et al., 2014).

Saat ini, pelayanan prakonsepsi di layanan primer di Indonesia lebih banyak dijalankan sebagai konsultasi calon pengantin (catin).

Dalam pelayanan tersebut, calon pengantin akan mendapatkan tes kesehatan seperti pemeriksaan hemoglobin, pemeriksaan gigi, psikologis dan vaksinasi toksoid tetanus untuk mencegah tetanus neonatorum.

Dengan dilakukannya pemeriksaan catin ini, diasumsikan bahwa sesuai kebanyakan, calon pengantin ini akan segera hamil dan melahirkan.

Akan tetapi, pelayanan prakonsepsi yang sebenarnya adalah juga untuk ibu yang akan merencakan kehamilan berikutnya, dan mungkin pada saat ini ibu mempunyai kondisi yang berbeda setelah kehamilan yang pertama, dan calon pengantin belum tentu mengalami kehamilan segera setelah menikah, dimana tentunya hal ini membutuhkan perhatian juga dari tenaga kesehatan yang mementingkan pencegahan terhadap gangguan kesehatan pasien.

Tes kesehatan yang dilakukan juga tidak terbatas pada tes hemoglobin saja, namun juga bagaimana faktor nutrisi, penyakit dahulu, riwayat vaksinasi, dan banyak hal lain, termasuk apabila ibu ini pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang dapat membahayakan diri dan calon buah hatinya (Ekawati et al, 2023).

Mengingat pentingnya pelayanan kesehatan ini dan kesempatan yang ada di layanan primer, tentunya pengembangan konsultasi prakonsepsi di level primer sangat diperlukan.

Layanan prakonsepsi dapat dikembangkan menjadi bagian integral dalam meningkatkan hasil kesehatan ibu dan anak yang optimal, dengan mendeteksi dini kondisi kesehatan ibu saat ini dan riwayat sebelumnya, mencegah komplikasi, dan mendorong kehamilan yang sehat.

Pelayanan prakonsepsi dapat diberikan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas, seperti dokter, dan bidan pada masa setahun atau enam bulan sebelum merencanakan kehamilan. Penyedia layanan kesehatan primer juga dapat memberikan intervensi yang tepat sehingga kesehatan keluarga termasuk kesehatan calon buah hati mendapatkan pertumbuhan yang optimal, dan apabila perlu, mendapatkan penanganan awal yang cepat dan tepat atau kolaborasi dengan tenaga kesehatan ahli di rumah sakit (Ekawati et al, 2023).

Sebagai outcome yang diharapkan, tentunya pelayanan ini dapat membantu penurunan angka kematian ibu dan bayi yang masih tinggi di Indonesia, menurunkan angka stunting dan mengoptimalkan pertumbuhan generasi Indonesia yang lebih sehat di masa yang akan datang.

  1. Catalao, Mann, S., et al. (2020). Preconception care in mental health services: planning for a better future. Br J Psychiatry, 216(4), 180-181. doi:10.1192/bjp.2019.209

Fitriana Murriya Ekawati, Dhiana Ayu Novitasari, Anis Widyasari, I Nyoman Tritia Widiantara, Siti Marlina. (2023). Codesigning model preconception care untuk persiapan kehamilan dan deteksi dini faktor resiko kesehatandi layanan primer

  1. R. Herman, Taylor Baer, M., et al. (2014). Life Course Perspective: evidence for the role of nutrition. Matern Child Health J, 18(2), 450-461. doi:10.1007/s10995-013-1280-3

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Profil Kesehatan Indonesia 2020, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. In: Availableat: Ttps://Pusdatin. Kemkes. Go. Id/Resources/Download/Pusdatin ….

Marjolein Poels, Koster, Maria PH, et al. (2016). Why do women not use preconception care? A systematic review on barriers and facilitators. Obstetrical & Gynecological Survey, 71(10), 603-612.

  1. Srinivasulu, Falletta, K. A., et al. (2019). Primary care providers' responses to pregnancy intention screening challenges: community-based participatory research at an urban community health centre. Fam Pract, 36(6), 797-803. doi:10.1093/fampra/cmz027

 

Photo
Photo
Editor : Bahana.
#Kesehatan #tenaga kesehatan