Oleh: Annisa Nur M, Bernadetha Erdha, Marcelina Cindy I, Sofia J. Susan M, Mahasiswa Fakultas Biologi UGM
KITA selalu mendengarkan cerita dari Kakek-Nenek dan Guru-guru kita bahwa Indonesia adalah negara yang subur dan kaya akan keanekaragaman hewan dan tumbuhan. Bahkan Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki biodiversitas tinggi di Dunia. Saat ini, kita sebagai penduduk Indonesia khususnya pulau Jawa telah menjadi manusia urban yang dalam kehidupan kita, jarang sekali berinteraksi dengan hewan (Fauna). Seakan-akan, cerita tentang kemelimpahan hewan di sekitar kita hanyalah dongeng indah pengantar tidur tentang negeri utopia yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo.
Sebagai pembelajar (Mahasiswa) Biologi di perguruan tinggi ternama di Negeri ini (Universitas Gadjah Mada), kami tergelitik untuk menelisik fakta apakah keanekaragaman flora-fauna di tanah Jawa terutama D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah benar adanya, atau hanya cerita dongeng saja? Untuk menjawabnya, kami melakukan penelusuran ke candi-candi di Shiva plateau ini terutama candi Prambanan dan mengamati relief yang terpahat disana. Terdapat dua jenis relief, yaitu relief berdasarkan cerita/kitab dan relief yang merupakan ragam hias pengisi ruang (isen/isian ruang).
Pengamatan kami menunjukkan bahwa Masyarakat di masa lampau hidup berdampingan dalam lingkungan yang kaya akan hewan dan tumbuhan yang beraneka-ragam. Pada abad ke-VIII dan IX masehi masyarakat di pulau Jawa telah banyak mengenal hewan. Hewan pada masa lalu dikenal bukan hanya sebagaimana adanya. Hewan juga dikenal sebagai komoditi, memiliki peran spiritualitas dan peranan sosial. Keberagaman relief fauna pada Candi menunjukan adanya biodiversitas fauna di Pulau Jawa. Keseluruhan pemahaman tersebut dapat dilihat melalui relief yang ada di Candi Prambanan yang terletak di perbatasan antara D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Candi Prambanan merupakan kompleks candi dengan candi utama adalah Candi Siwa sebagai candi terbesar, Candi Wisnu, Candi Brahma. Selain itu terdapat candi yang lebih kecil seperti Candi Angsa, Candi Garuda, dan Candi Nandi, serta 2 candi pengapit. Candi-candi ini telah dipugar dan terletak di halaman I kompleks candi Prambanan, sementara disekitarnya terdapat ratusan kelompok tumpukan batuan candi yang belum dipugar.
Candi Siwa memiliki relief di bagian dinding candi atas dan bagian kaki candi. Pada bagian atas terdapat relief kisah Ramayana, sedangkan di kaki candi, merupakan relief ragam hias tanpa cerita. Relief kisah Ramayana yang terdapat di Candi Siwa bagian atas menunjukkan adanya hewan-hewan yang masih kita temui saat ini, yakni hewan yang tergolong ke dalam kelas mamalia, aves, reptil, dan juga pisces. Hewan yang termasuk ke dalam kelas mamalia yang terukir di relief tersebut meliputi tupai, monyet ekor panjang, kijang, kuda, unta dan gajah. Sedangkan, hewan yang tergambar di relief yang termasuk ke dalam kelas aves meliputi burung gagak, burung penyanyi seperti burung pipit dan burung kenari. Hewan reptil yang ditemukan di relief meliputi kura-kura, ular, katak, dan buaya. Kemudian terdapat juga relief yang menggambarkan ikan terutama pada panel kisah Rama Tambak. Di bagian ini juga terdapat hewan yang termasuk ke dalam subphylum crustacea, yakni kepiting.
Candi Wisnu merupakan salah satu candi yang terdapat di sebelah utara Candi Siwa. Pada Candi Wisnu terdapat beberapa relief yang tergambar di dinding candi bagian bawah, seperti relief hewan darat, relief burung, dan relief hewan mitologi. Relief hewan darat yang terdapat di dinding candi tersebut meliputi kijang, monyet, dan kelinci. Sedangkan, relief burung yang terdapat pada candi meliputi burung kakatua dan angsa.
Candi Brahma merupakan candi yang terletak di sebelah selatan candi Siwa. Pada candi Brahma, terdapat arca Brahma yang dalam kepercayaan agama Hindu, Dewa Brahma merupakan dewa pencipta. Pada candi ini terdapat pahatan relief hewan kelas aves seperti kakatua, angsa. Dimana Brahma digambarkan menunggangi atau duduk di atas Hamsa (hewan sejenis angsa). Sedangkan relief hewan darat yang terdapat pada candi Brahma berupa kambing, rusa, kera, kucing dan kancil.
Candi Angsa merupakan representasi dari wahana (kendaraan) Dewa Brahma berupa angsa. Pada candi ini hanya ditemukan relief aves dan mamalia. Sebagian besar relief pada candi Angsa merupakan relief hewan kelas aves seperti gagak, merpati, angsa, dan kakatua. Relief hewan kelas mamalia yang dapat ditemukan berupa tupai. Keberadaan relief kakatua yang merupakan merupakan suatu yang unik. Kakatua hewan endemik wilayah Indonesia timur (Wallacea). Dalam mitologi hindu seperti Ramayana, kakatua tidak pernah disebutkan bahkan sebagai hewan mitologi. Keberadaan relief kakatua ini memberikan banyak kemungkinan bagaimana kakatua bisa sampai di pulau Jawa.
Candi Garuda merupakan salah satu candi wahana yang terdapat di Candi Prambanan. Candi ini terletak di depan Candi Wisnu yang kemungkinan merupakan wahana dari Dewa Wisnu. Tidak seperti namanya, di dalam ruangan candi ini tidak ditemukan arca Garuda namun di sekeliling candi terdapat relief-relief berbagai jenis hewan. Pada dinding candi bagian bawah, didominasi oleh hewan dari kelas aves seperti ayam, burung kakatua, burung bangau, burung merak, dan burung gagak.
Candi Nandi merupakan candi yang memiliki arca Nandi yang dianggap sebagai wahana dan juru kunci Dewa Siwa. Nandi merupakan seekor lembu. Nandi memiliki punuk dan tanduk. Morfologi yang tampak pada arca Nandi menunjukan kesamaan morfologi dengan anggota famili Bovidae pada umumnya.
Penggambaran hewan-hewan tersebut dengan berbagai pose dan posisi menunjukan bahwa masyarakat Jawa pada masa lampau sudah berkaitan erat dengan hewan tersebut. Relief pada candi merupakan warisan budaya dan sumber berharga yang dapat digunakan untuk memahami sejarah dan perkembangan hewan dari masa lampau ke masa kini. Pada keenam candi yang berada di kompleks Candi Prambanan menggambarkan biodiversitas fauna Indonesia. Fauna yang terpahat pada relief-relief di setiap candi memiliki kesamaan morfologi dengan fauna yang dapat kita temui saat ini. Hal ini dapat diketahui melalui detail-detail fauna tersebut yang terpahat pada relief. Adanya detail morfologi tersebut juga menunjukan bahwa pemahat pada masa dulu melakukan observasi atau mengetahui tentang fauna-fauna tersebut. Saat ini, kita tak lagi dekat dengan hewan-hewan tersebut dalam kehidupan sehari-hari kita. Biodiversitas dari masa lampau telah mengalami banyak perubahan. Perubahan biodiversitas ini disebabkan berubahnya ekosistem, iklim, dan aktivitas manusia. Semoga kita sebagai manusia saat ini memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikan apa yg kita miliki untuk anak cucu kita. Agar Kekayaan Biodiversitas Indonesia tidak hanya sebagai Dongeng saja. (ila)
Pembimbing: Zuliyati Rohmah, S.Si., M.Si., Ph.D. Eng. (Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada) dan Riris Purbasari, S.S., M.A. (Badan Pelestarian Kebudayaan Wilayah X)
Editor : Reren Indranila