Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Membangun Spirit Hidup Dari Ruang Arsitektur

Reren Indranila • Rabu, 18 Oktober 2023 | 17:31 WIB
(DOKUMEN PRIBADI)
(DOKUMEN PRIBADI)

OleH: Noval hananiri. ST (Arsitek di NdH arsitektural & workshop. Aktif di komunitas arsitek muda yogya - YYAF dan Kontributor penulis buku stensil arsitektur proses)

 

MEMAHAMI makna rumah bagi masyarakat Indonesia tentu saja bukan perkara sederhana. Dalam kamus bahasa Indonesia mengartikan beragam penggunaan kata rumah dengan berbagai makna dan penggunaannya masing-masing. Rumah-punterkadang hanya dimaknai sebatas arti sebagai tempat tinggal.Arsitektur telah memberikan penilaian bahwa bangunan bukan semata-mata sebagai sosok benda mati atau artefak, Bangunan merupakan bagian dari hidup manusia bersama lingkungannya.

Hidup manusia berbudaya memiliki sebuah sistem komunikasi yang secara bersama-sama diakui sebagai alat untuk melakukan hubungan moral dengan sesamanya secara sadar berkembang selaras hingga membentuk sebuah sistem yang ditradisikan-(Arya Ronald, 1997). Sistem ini mengungkapkan artefak timbul sebagai media perkembangan budaya secara naluriah ada pada setiap orang yang terlahir didunia. Begitu pula dengan bangunan rumah tradisionaldalam sistem struktur masyarakat Jawa sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai filosofis yang mengandung ungkapan dengan beragam makna.

Terjadinya segregasi dalam memaknai hakikat rumah kini mengalami pergeseran nilai. Perancang bangunan pada umumnya memberikan label sebatas idiom tertentu pada hasil karya arsitekturnya. Mulai dari rumah baja, rumah botol, rumah bata, rumah miring hingga pada penyebutan yang asing di telinga. Idiom-idiom tersebut muncul akibat keterkaitan dengan pemilihan jenis material yang digunakan sebagaibentuk representasi objek yang telah dibuatnya. Belum pada tahap menstimulasi esensinya rumah sebagai relasi makna yang membangun spirit hidup pemiliknya. Dalam perspektif kehidupan masyarakat jawa ada beberapa makna terkait hakikat rumah pertama-rumah sebagai ungkapan pandangan hidup (filosofi) kedua-rumah sebagai lambang status sosial (stratifikasi)ketiga-rumah sebagai papan ruang tinggal (longkangan)Uraian tersebut merupakan konsepsi dasar untuk memaknai hakikat rumah masyarakat Jawa dalam kehidupan berbudayanya.

Rumah sebagai ungkapan pandangan hidup (filosofi)

Dalam sistem struktur masyarakat Jawa, rumah pada dasarnya merupakan sebuah wujud refleksi dari pandangan hidup (filosofi) yang ditransformasikan dalam bangunannya, baik itu dari segi tata ruang maupun bentuk arsitekturnya. Adapun filosofi hidup dalam rumah jawa itu sebagai berikut :

Secara visual bentuk paju papat lima pancer ini adalah titik sesuai mata angin, yaitu titik utara, selatan, barat dan timur dengan orientasi pusatnya ditengah. Hal ini mempunyai makna filosofis bahwa orang jawa menyatu dengan alam. Manusia dalam kiblat paju papat limo pancer berada pada posisi tengahnyalima pancer yang dikelilingi oleh alam (kosmos) yang dianalogikan sebagai empat arah mata angin, dalam tatatan kosmosmologiyang terbagi menjadi makrokosmos dan mikrokosmos, makna makrokosmos manusia dan lingkungannya merupakan bagian dari alam jagad raya. Dengan demikian manusia, rumah dan lingkungannya merupakan bagian satu sistem kesatuan kosmologi yang saling terkait dan berpengaruh untuk menciptakan keharmonisan atau keselarasan.Orang Jawa memiliki konsep tempat (place). Masyarakat Jawa menganggap tempat merupakan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Tempat yang merupakan “panggon” sangat diperlukan untuk berkembang sesuai dengan siklus kehidupannya. Kedudukan tempat selanjutnya mempunyai hubungan dekat dengan kedudukan pada ruang disekelilingnya yang dianalogikan dengan arah mata angin, yakni utara sebagai depan, selatan sebagai belakang, barat dan timur bagian samping kanan dan kiri sedangkan tengah sebagai pusat.

OrangJjawa tidak hidup sendirian. Kiblat papat limo pancer menunjukkan bahwa orang jawa itu hidupnya tidak sendiri, melainkan hidup dengan sesamanya disekelilingnya sesuai dengan arah kiblat mata angin.Konsep pandangan tersebut menunjukkan bahwa adanya sebuah titik sebagai pusat dan adanya sesuatudisekelilingnya, adanya orientasi juga keseimbangan.

 

Hirarki mempunyai pengertian ada yang penting dan vital nilainya (pusar), tidak ada yang kurang bahkan tidak ada nilai sekali-pun. Selain pengertian hirarki tersebut, Hirarki juga mengandung makna yang berjenjang dan bertingkat-tingkat secara vertical maupun secara horizontal. Hirarki dalam konsep pandangan hidup orang jawa adalah adanya tingkatan kehidupan untuk mencapai kesempurnaan hidup. Dalam kehidupan Jawa, untuk mencapai “kasampurna ning urip” harus melalui tahapan atau tingkatan mulai dari bawah hingga berakhir dipuncak tertingi.Tingkatan terbawah bersifat duniawi yaitu dalam segala tindakan kehidupannya masih mementingkan material keduniawian. Tingkatan tengah atau madya berada di tengah-tengah yakni bahwa dalam kehidupan keduniawian juga memikirkan rohaniah.

Pada tingkatan tertinggi bersifat batiniah yakni bahwa dalam kehidupannya tidak lagi mengutamakan rohaniah.Dalam kehidupan masyarakat Jawa, selalu berada ditengah, pengertian tersebut bermakna bahwa sebagai pribadi manusia harus selalu dapat berinteraksi dengan dunia profane dibagian bawah dan dengan sang penciptaNYA pada bagian atas. Hakikat maknanya menunjukkan bahwa kehidupan orang jawa itu ada dialektika luar dan dalam secara utuh, bersinergis dan balance.

 

Rumah sebagai lambang status sosial (stratifikasi)

Tidak bisa dipungkiri bahwa rumah(papan) itu juga sebagai satu kebutuhan pokok dasar manusia dan tidak hanya sekedar papan untuk tinggal, seiring perkembangan budaya peradaban manusia dan pranata yang melingkupi kondisi sosial masyarakat, penilaian makna dan esensi rumah kini telah bergeser bahkan tidak sebatas untuk pemenuhan kebutuhan pokoknya saja. Karena rumah sebagai lambang status dari penghunidalam strata sosialnya, maka rumahnya terlihat semakin besar, luas dan tinggi nilai arsitektural beserta kelengkapan ruang pendukungnya.

Dalam sistem struktur sosial masyarakat Jawa terdapat sebuah ketentuan hukum yang tidak tertulis dan berlaku pada stratifikasi masyarakat jawa tradisional mengenai bentuk rumah sesuai dengan status sosial dan jabatannya. Seseorang dengan strata rendah tidak diperbolehkan punya rumah yang menyamai rumah pejabat tinggi diatasnya. Kalangan masyarakat biasa hanya diperbolehka ndengan bentuk kampung, limasan. Kalaupun menggunakan joglo, kelengkapan ruangnya-pun akan berbeda dengan rumah joglo dari golongan kaum ningrat.

Rumah sebagai papan tempat tinggal atau ruang tinggal (Longkangan)

Kebutuhan pokok manusia hidup pada dasarnya pangan, sandang dan papan, meskipun makna ini dapat ditafsirkan secara komprehensive.Pangan dan sandang dapat dikembangkan menurut alur fisik dan non fisikdapat juga diwujudkan dalam bentuk simbol.Sedangkan papan dimaknaisebagaipertautandimensi makrokosmos dengan mikrokosmos. Mikrokosmos ini akanbermula dari jiwanya sendiri bersamalingkungan tempat tinggalnya (definisi bukan “rumah” secara harafiah). Sedangkan makrokosmos ini akanbermuladari tubuhnya sendiri bersama lingkungan fisik disekitar manusia.

Papan sebagai tempat tinggal adalah manifestasi dari pengertian suatu titik area di daerah tertentu dalam sebuah dimensiterbatas ukuran yang digunakan sebagai ruang refleksi sekaligus merumuskan keberadan dalam lingkungan. Papan sebagai tempat hidup adalah tempat untuk mempertahankan keberlangsungan hidup manusia secara biologis dengan lingkungan hidup ekologi manusia yang dipengaruhi oleh kondisi sosiokultur-nya yang terus berkembang. Papan sebagai tempat interaksi sosialnyaadalah tempat manusia melakukan hubungan komunal sebagai naluri hidupnya dimana manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia terus membentuk karakter dimensi kebudayaan yang didalamnya dapat mengembangkan pemaknaan spatial-nya, fisik alamiah beserta sosialnya. Papan sebagai tempat melakukan kontemplasi merupakan media manusia untuk menemukan jati diripengertiannya bahwa kehidupan manusia harus sampai pada tingkat derajat yang lebih baik menuju kesempurnaan-NYA. Tiyang semusup ing nggriyo punika saged kaumpami ngaub ing sangadhaping kajeng ageng (orang masuk kedalam rumah dapat diumpamakan berteduh dibawah kehendak yang besar). Local genius dalam filosofis makna sebuah rumah bagi kehidupan sosial masyarakat jawa menunjukkan peran aktif manusia bersama lingkungan fisik pendukungnya, meskipun ada variant lain seperti adagium omah, omah-omah dan pomah.

Pembuatan rumah tradisional Jawa, juga mengutamakan aspek spiritual bahkan dalam penentuan ukuran bangunan yang diperhitungkan dengan detail ketelitian dan ditentukan oleh sistem petungan yaitu angka-angka patokan yang dipercaya sebagai dasar dari pembangunan rumah. Dalam sistem petungan ini menggunakan satuan ukuran ragawi dari pemilik bangunan seperti kaki, jengkal, hasta maupun depa. Sistem petungan ini jelas digunakan untuk menghitung ukuran panjang dan lebar setiap elemen bangunannya. Local genius tersebut selain dari dasar filosofi yang berkarakteristik dan mampu beradaptasi dengan baik atau menyatunya bangunan dengan alam. Hal ini menunjukkan bahwa pada kehidupan sosial masyarakat jawa ada peran aktif manusia bersama lingkungan fisik pendukungnya dalam menghasilkan varian-varian seperti adagium omah, omah-omah dan pomah. Dalam konteks ini terdapat adanya proses aktualisasi terhadap esensi makna rumah sebagai eksistensi diri-nya. Makna omah juga sangat erat berkaitan dengan diri manusia itu sendiri dalam representasi mikrokosmos dan makrokosmosnya, begitu juga dengan makna istilah omah-omah yang juga merupakan sebuah tambatan jiwa para penghuninya manakala konsepsi dan perilaku keselarasannya sudah mulai terbangun secara sinergis didalamnya, maka seketika itu pulalah menjadi POMAH sebagai sebuah titik transformasi menuju fase selanjutnya sesuai dengan aktualisasi diri dan potensi-potensi para penghuni didalamnya.

Fase tersebut merupakan esensi makna bahwa rumah bukan sekadar untuk dimaknai sebagai sosok teknis belaka atau artefak. Namun lebih kepada relasi terhadap makna yang dibangunnya. Sehingga betapapun kecil dan sederhananya wujud rumah itu tentusaja rumah akan memiliki makna besar bagi para penghuninya secara puitik. (ila)

 

 

 

Editor : Reren Indranila
#arsitektur #filosofi #rumah Jawa kuno #rumah #jawa