INDONESIA kerap kali dihadapi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan persatuan, perselisihan baik kehidupan bermasyarakat dan beragama. Bahkan, dalam rumpun satu agama pun masih banyak terjadi perselisihan.
Jika kita memahami dan menyadari betul bahwa negara kita ini memiliki ragam agama, ormas-ormas, suku, adat-istiadat tentu kita seharusnya tidak merasa asing lagi menghadapi keragaman tersebut dan seharusnya mampu memposisikan diri sebagai warga yang moderat menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut.
Seseorang dikatakan bersikap moderat jika dia mampu mempraktikkan moderasi beragama dalam pergaulannya. Salah satu indikator sesorang menerapkan sikap moderasi adalah mampu menerapkan sikap toleransi. Ada beberapa contoh dari para tokoh klasik terutama dari kalangan nabi dan pewarisnya yang patut diteladani sikapnya dalam mempraktekkan moderasi beragama.
Dalam Shahih Imam Bukhari, terdapat suatu kisah ketika Nabi Muhammad SAW duduk-duduk berkumpul dengan para sahabat, tiba-tiba ada jenazah Bergama Yahudi lewat di depan mereka, langsung spontan Nabi Muhammad SAW berdiri menghormati jenazah yang lewat itu, lalu sahabat bertanya mengapa Nabi berdiri bukannya itu jenazah umat agama lain (Yahudi), lalu nabi menjawab bukankah itu manusia juga sama seperti kita?
Di sini Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk tetap peduli dan menghargai orang yang berbeda keyakinan bahkan dalam konsisi mati sekalipun. Kisah lain dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, beliau melihat keragaman suku, agama, kepercayaan, apalagi adanya konflik antar suku menjadi kegelisahan dan membuat Nabi tergerak ingin mempersatukan mereka dengan suatu perjanjian ataupun kesepakatan bersama yang dinamakan Piagam Madinah.
Selain itu, kisah yang lain, dari penakluk Konstatinopel sewaktu Islam berhasil memasuki Turki, waktu itu Sultan Muhammad Al-Fatih ketika memasuki gereja (sekarang dinamakan Hagia Sophia). Beliau menyatakan bahwa, “Kalian aman dan bebas menjalankan ajaran dan amanat yang dianut masing-masing”.
Bahkan, pemimpin mereka yang meninggal jenazahnya pun diminta tetap dimakamkan dengan layak. Kisah nyata lainnya dalam kehidupan sekarang ini, ada kisah menarik dari pengalaman pribadi penulis. Penulis memiliki tetangga yang non muslim dan memelihara anjing kecil.
Padahal, di sebelah kanan-kirinya adalah tetangga yang taat dan sering beribadah ke masjid melewati pekarangan rumahnya. Pada prinsip kepercayaan muslim, air liur anjing termasuk kategori najis, maka selayaknya tidak memeliharanya kecuali untuk kedaruratan seperti anjing pelacak. Tetangga itu tidak membiarkan anjingnya berkeliaran tetapi selalu mengikatnya ketika anjingnya di luar dan mengurungnya dalam pagar rumah.
Sikap inilah yang bisa disebut moderat dalam moderasi beragama. Dia menghargai kepercayaan agama lain sehingga tidak membiarkan anjing peliharaannya bebas berkeliaran dimana-mana.
Selain itu, contoh lain ketika perayaaan hari besar Islam ada tetangga selalu memberikan parcel bingkisan makanan. Selagi makanan tersebut termasuk produk yang halal, bahkan ada logo halalnya, maka aman dan baik dikonsumsi selagi tidak mengandung bahan yang diharamkan dalam Islam. Menjadi warga yang moderat itu hebat, karena dia mampu mengalahkan egonya, sentimen pribadinya, meredakan hawa nafsu ataupun sifat individualis lainnya yang tidak berpihak pada terwujudnya moderasi beragama.
Nabi Muhammad dan Sultan Muhammad Al-Fatih pun bisa menerapkan sikap moderat dalam moderasi beragama, mengapa kita tidak? Orang hebat bukanlah dilihat dari kemapanan ekonomi, pangkat dan jabatan yang dimiliki, tetapi sikap yang bermoderasi. Orang hebat? orang yang moderat!
Dosen Tetap di STAI Masjid Syuhada Yogyakarta, Dosen Luar biasa di Universitas Teknologi Yogyakarta, dan STIE SBI Yogyakarta.
Editor : Amin Surachmad