Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hoax Menyerang Adipati Martapura

Editor News • Sabtu, 15 Juni 2019 | 15:49 WIB
Kusno S. Utomo
Kusno S. Utomo
PENOBATAN Raden Mas (RM) Wuryah sebagai raja ketiga Mataram dengan gelar Adipati Martapura telah didiskualifikasi mahkamah keraton (MK). Posisinya kembali menjadi pangeran biasa. Masa jabatannya sebagai raja hanya berlangsung sehari. Pagi dikukuhkan. Sorenya turun dari takhta.

Lengsernya Martapura ini merupakan kekalahan politik kubu Adipati Mandaraka dan Adipati Panaraga. Mandaraka adalah nama lain dari Ki Juru Mertani. Dia merupakan penasihat kerajaan sejak era Panembahan Senopati. Saat Hanyakrawati, ayahanda Martapura wafat, Mandaraka menjabat pepatih dalem. Semacam perdana menteri.

Kubu Mandaraka itu harus kompromi dengan kelompok Pangeran Purbaya. Adik tiri Hanyakrawati ini menjabat panglima Tentara Nasional Mataram (TNM). Bersama Adipati Pajang, Purbaya menjadi  pendukung utama RM Rangsang.

Sejarah mencatat, kubu pro Rangsang sukses mendongkel kedudukan Martapura. Rangsang naik takhta menjadi Panembahan Agung Hanyakrakusuma. Kelak lebih populer dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Kompromi politik harus ditempuh dengan pertimbangan tiga hal. Demi menjaga keutuhan, persatuan, dan kesatuan Negara Kesatuan Kerajaan Mataram (NKKM). Mandaraka tidak ingin NKKM yang dibangunnya susah payah bersama mendiang Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati pecah.

Gara-gara antarketurunan Senopati terlibat perang saudara. Berebut takhta. Itu harus dihindari. Begitu komitmen tokoh yang dikenal ahli strategi ini. Ki Juru Mertani ikut membidani reformasi dan transformasi kekuasaan dari Pajang ke Mataram pada 1587.  Semua berjalan mulus. Tidak ada pertumpahan darah. Dia ingin itu juga terjadi di setiap suksesi Mataram.

Upaya kompromi Ki Juru Mertani itu harus dibayar mahal. Martapura bukan hanya tersingkir dari panggung politik. Dia ikut diasingkan dan terdepak dari lingkaran kekuasaan. Sejak Sultan Agung bertakhta, framing tentang sosok Martapura segera dibangun. Penobatannya sebagai raja ketiga Mataram tidak diakui di sejarah ketatanegaraan Mataram. Sejumlah tokoh dan juru bicara istana melancarkan opini secara masif.

Bahkan dalam serat maupun babad Martapura digambarkan  sosok yang terganggu ingatannya. Dia diberitakan mengalami sakit kejiwaan sejak belia. Demikian  serat dan babad  yang ditulis di era kekuasaan Sultan Agung.

Karena itu, Martapura dinyatakan tidak layak menyandang gelar raja. Informasi yang cenderung hoax itu terus dikembangkan. Diproduksi berulang-ulang. Serat Nitik Sultan Agung juga menyebutkan yang pantas menjadi putra mahkota seharusnya Rangsang. Bukan Martapura. Alasannya, dia putra tertua dari Hanyakrawati. Lahir dari permaisuri kedua, Ratu Adi.

Tentang pengangkatan Martapura ditulis sebagai pejabat putra mahkota. Tujuannya guna menghindari kekosongan kekuasaan. Serat Nitik menyebutkan, saat penobatan Martapura,  Rangsang sedang mengadakan kunjungan kerja ke luar daerah.

Sedangkan di Babad Sengkala diceritakan, rakyat di alun-alun menyambut suka ria penobatan Martapura. Saat pisowanan  ageng, Adipati Mandaraka lantas membisiki raja baru itu. Dia dinasihati agar menyerahkan takhta kepada kakaknya, Rangsang. Itu sesuai wasiat  mendiang ayahandanya.

Babad Tanah Jawi memberitakan, Martapura menderita sakit ingatan musiman dan suka memakan makhluk yang masih hidup.  Karena itu, Martapura dinilai berhalangan dan tidak mampu untuk memerintah Mataram.(yog/bersambung) Editor : Editor News
#Kusno S. Utomo #Ibukota Mataram