RADAR JOGJA – Kabut asap yang semakin pekat di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Pemerintah daerah memutuskan mengalihkan pembelajaran siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) ke rumah selama dua hari, yakni Jumat hingga Sabtu, 16–17 Oktober 2026.
Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah penyesuaian terhadap kondisi lingkungan yang mengganggu aktivitas masyarakat. Sebelumnya, pada Kamis (15/10), siswa di wilayah tersebut dipulangkan lebih awal karena kabut asap semakin tebal.
Penyesuaian kegiatan pendidikan itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor 420/0811/Disdik/2026 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Jarak Jauh akibat dampak kabut asap. Melalui kebijakan tersebut, siswa SD dan SMP tetap mengikuti pembelajaran dari rumah, sedangkan peserta didik pendidikan anak usia dini (PAUD), kelompok bermain, dan taman kanak-kanak (TK) diliburkan selama dua hari.
Pembelajaran jarak jauh dilaksanakan melalui sistem daring maupun luring, disertai tugas terstruktur dari sekolah. Dengan pola tersebut, kegiatan pendidikan diharapkan tetap berjalan meskipun pembelajaran tatap muka dihentikan sementara.
Sekolah juga diminta menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi masing-masing satuan pendidikan. Penyesuaian ini diperlukan agar materi tetap dapat disampaikan dan siswa tidak mengalami ketertinggalan pelajaran secara signifikan.
Sementara itu, guru dan tenaga kependidikan tetap diminta hadir di sekolah untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh sesuai ketentuan. Pelaksanaan pembelajaran selanjutnya akan dievaluasi dengan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara berdasarkan informasi dari instansi terkait.
Perubahan sistem belajar ini turut menuntut penyesuaian dari keluarga. Orang tua perlu membantu anak mengikuti kegiatan belajar, memastikan tugas sekolah dikerjakan, serta mengatur aktivitas harian selama pembelajaran berlangsung dari rumah. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga yang tetap harus menjalankan pekerjaan dan kegiatan lainnya.
Di luar persoalan pendidikan, kabut asap juga menjadi perhatian karena paparan udara tercemar berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak. Pembatasan aktivitas di luar rumah menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan ketika kondisi udara memburuk.
Orang tua diharapkan turut mengawasi kegiatan anak selama berada di rumah. Apabila terdapat keperluan yang mengharuskan anak beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker dapat menjadi langkah perlindungan tambahan. Namun, upaya mengurangi paparan asap tetap penting dilakukan selama kondisi udara belum membaik.
Kebijakan belajar dari rumah tersebut memperlihatkan bahwa dampak kabut asap tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyentuh sektor pendidikan dan rutinitas masyarakat. Keberlanjutan pembelajaran kini bergantung pada penyesuaian sekolah, pendampingan keluarga, serta perkembangan kondisi udara di Solok Selatan.
Evaluasi secara berkala diperlukan agar keputusan mengenai kegiatan belajar berikutnya dapat mempertimbangkan keselamatan siswa sekaligus kebutuhan mereka untuk memperoleh pendidikan.
(Maria Margaretha Nirong Gedo)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber