TERNATE – Masyarakat Kota Ternate, Maluku Utara, akhirnya merasakan turunnya hujan deras pada Selasa (13/10/2026) dini hari setelah berbulan-bulan menghadapi kemarau panjang dan suhu panas ekstrem. Kehadiran hujan tersebut disambut penuh rasa syukur oleh warga yang telah lama menantikan datangnya air dari langit.
Hujan mulai turun dengan gerimis sebelum semakin deras sekitar pukul 02.29 WIT. Mengutip laporan Tribun Ternate, hujan berlangsung selama sekitar enam jam dan tidak hanya membasahi Kota Ternate, tetapi juga sejumlah wilayah lain di Maluku Utara.
Selama kemarau berlangsung, kekeringan telah memicu berbagai permasalahan lingkungan. Salah satunya adalah kebakaran hutan dan lahan, termasuk kebakaran yang dilaporkan terjadi di tempat pembuangan akhir (TPA) di Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat.
Selain kebakaran, masyarakat juga harus menghadapi kabut asap tebal yang menyelimuti wilayah Ternate dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut menghambat kegiatan sehari-hari, membatasi jarak pandang, serta meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak buruk bagi kesehatan.
Gangguan akibat kabut asap turut dirasakan dalam sektor transportasi udara. Aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Babullah, Ternate, dilaporkan terganggu karena jarak pandang yang terbatas, bahkan sejumlah pesawat tidak dapat mendarat dan penerbangan dibatalkan.
Setelah melewati periode kering yang panjang, turunnya hujan memberikan harapan baru bagi masyarakat. Selain membantu membasahi lahan yang kering, hujan juga diharapkan dapat mengurangi kondisi yang mendukung terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Bagi masyarakat Ternate, hujan kali ini menjadi momen yang melegakan setelah menghadapi berbagai dampak kemarau ekstrem. Kendati demikian, upaya menjaga lingkungan dan mengantisipasi perubahan cuaca tetap diperlukan agar masyarakat lebih siap menghadapi kemungkinan kekeringan maupun cuaca ekstrem pada masa mendatang. (Frencia Keliat)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber