KARO – Deretan topeng kayu dengan wajah dan karakter yang berbeda menjadi salah satu bagian khas dalam kesenian tradisional masyarakat Karo, Sumatera Utara. Kesenian tersebut dikenal dengan nama Gundala-Gundala atau Tembut-Tembut, terutama di Desa Seberaya.
Pertunjukan ini tidak hanya menghadirkan gerakan tari, tetapi juga membawa cerita dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Gundala-Gundala pada awalnya berkaitan dengan ritual ndilo wari udan atau memanggil hujan. Ritual tersebut dilakukan ketika masyarakat menghadapi musim kemarau panjang yang dapat mengganggu kegiatan bercocok tanam. Pertunjukan menjadi bagian dari harapan masyarakat agar hujan turun dan keseimbangan alam kembali terjaga.
Selain memiliki fungsi ritual, Gundala-Gundala juga mempunyai cerita yang menjadi dasar pertunjukannya. Kisah tersebut berkaitan dengan legenda Manuk Si Gurda-Gurdi, seekor burung besar yang memiliki keinginan untuk mendapatkan putri raja. Cerita kemudian berkembang menjadi konflik antara Gurda-Gurdi dengan keluarga kerajaan.
Baca Juga: Lestarikan Olahraga Tradisional, Padukuhan Karang Anjir Sabet Gelar Juara Umum Porkal Sumberarum
Dalam pertunjukannya, terdapat lima tokoh utama yang diperankan oleh para penari. Tokoh tersebut terdiri atas raja atau Sibayak, permaisuri atau Kemberahen, putri raja, panglima, serta Manuk Si Gurda-Gurdi. Masing-masing karakter ditampilkan melalui bentuk topeng dan kostum yang memiliki ciri berbeda.
Topeng Gundala-Gundala dibuat dari kayu dan memiliki bentuk wajah yang khas. Ekspresi pada setiap topeng disesuaikan dengan karakter yang dimainkan. Selain bentuknya, warna pakaian juga digunakan untuk membedakan peran dalam pertunjukan.
Kesenian tersebut biasanya diiringi musik tradisional Karo.
Pertunjukan Gundala-Gundala juga memiliki karakter teatrikal. Cerita dapat disampaikan melalui gerak dan penampilan para pemain tanpa mengandalkan dialog seperti dalam pertunjukan drama pada umumnya. Alur pertunjukan tetap berangkat dari legenda yang dikenal dalam masyarakat Karo.
Seiring perkembangan zaman, fungsi Gundala-Gundala tidak lagi terbatas pada ritual pemanggil hujan. Kesenian ini juga ditampilkan dalam berbagai kegiatan budaya, perayaan, dan acara masyarakat. Perubahan fungsi tersebut menjadi salah satu cara agar kesenian tradisional tetap dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Baca Juga: Kejaksaan Pulihkan Rp 292 Juta dari Kasus Kredit Bank Magelang
Keberadaan Gundala-Gundala menunjukkan bahwa kesenian tradisional tidak hanya berbicara tentang pertunjukan, tetapi juga menyimpan cerita, kepercayaan, dan nilai kehidupan masyarakat pendukungnya.
Di tengah perkembangan seni modern, keberlanjutan kesenian seperti Gundala-Gundala menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya Karo agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
(Frencia Keliat)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber