RADAR JOGJA – Proses pemulihan warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai memasuki tahap penyediaan tempat tinggal sementara. Pemerintah bersama sejumlah lembaga kemanusiaan terus membangun hunian sementara (huntara) agar penyintas dapat meninggalkan tempat pengungsian dan kembali menjalani aktivitas dengan kondisi yang lebih layak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan pembangunan huntara dilakukan secara bertahap. Penentuan penerima bantuan didasarkan pada hasil verifikasi di lapangan sehingga hunian yang disiapkan dapat diberikan kepada warga yang memang membutuhkan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari masa pemulihan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT. Kerusakan rumah membuat sebagian warga harus bertahan di lokasi pengungsian sembari menunggu penanganan lebih lanjut dari pemerintah.
Di Kabupaten Manggarai Timur, beberapa huntara yang dibangun BNPB sudah mulai ditempati. Sebanyak tujuh unit di Desa Gurung Liwut, Kecamatan Borong, telah diserahterimakan kepada warga pada 21 September 2026.
Ketujuh bangunan tersebut juga tetap berdiri ketika gempa susulan berkekuatan magnitudo 5,3 mengguncang Manggarai Timur pada hari yang sama. BNPB memastikan tujuh unit yang sudah selesai dibangun tidak mengalami kerusakan akibat guncangan tersebut.
Baca Juga: Enam Tahun Bersama, Azriel Hermansyah dan Sarah Menzel Makin Dekat ke Pelaminan
Huntara yang disiapkan BNPB memiliki luas sekitar 6 x 4 meter. Bangunan menggunakan rangka utama baja ringan dengan dinding gipsum serta atap seng GRC. Setiap unit dilengkapi pintu, jendela, dan ventilasi untuk menunjang kebutuhan dasar penghuni.
Pembangunan hunian sementara tidak hanya dilakukan pemerintah. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI turut menyediakan huntara bagi warga terdampak gempa di sejumlah wilayah NTT.
Hingga 29 September 2026, BAZNAS membangun 10 unit huntara yang tersebar di Kabupaten Manggarai Timur dan Ngada. Sembilan unit berada di Manggarai Timur, masing-masing lima unit di Desa Gololijun, tiga unit di Desa Satar Kampas, dan satu unit di Desa Satar Punda Barat.
Sementara satu unit lainnya dibangun di Kelurahan Ite Jaya, Kabupaten Ngada. Jumlah tersebut masih dapat bertambah sesuai kebutuhan warga di wilayah terdampak.
Baca Juga: 1.423 Pekerja Kena PHK, Kepala Disnakertrans DIY: Efisiensi dan Kontrak PKWT Tak Diperpanjang
Bantuan BAZNAS juga tidak hanya berupa tempat tinggal. Sejak masa tanggap darurat, lembaga tersebut menyalurkan berbagai kebutuhan dasar bagi penyintas. Bantuan yang telah diberikan antara lain lebih dari 145 ribu liter air bersih dan lebih dari 84 ribu porsi makanan dari dapur umum.
Layanan kesehatan juga diberikan kepada ratusan warga. Selain itu, BAZNAS turut mendirikan fasilitas sementara berupa tempat ibadah dan sekolah darurat untuk membantu masyarakat tetap menjalankan kegiatan sehari-hari di tengah kondisi pascabencana.
Pembangunan huntara menjadi salah satu tahap penting sebelum warga mendapatkan hunian permanen. Bagi keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat, keberadaan tempat tinggal sementara memberikan ruang untuk menata kembali kehidupan sambil menunggu proses pemulihan berikutnya.
Pemulihan pascagempa memang tidak dapat berlangsung dalam waktu singkat. Namun, bertambahnya huntara yang selesai dibangun menjadi salah satu tanda bahwa penanganan warga terdampak terus berjalan.
Bagi para penyintas, hunian sementara bukan hanya bangunan untuk berteduh. Tempat tersebut menjadi pijakan awal untuk kembali menjalani kehidupan setelah gempa mengubah kondisi rumah dan lingkungan mereka.
(Maria Margaretha Nirong Gedo)
Sumber: BNPB, BAZNAS RI, ANTARA.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber