LEMBATA, Radar Jogja – Aktivitas Gunung Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali memengaruhi aktivitas penerbangan. Bandara Wunopito di Lewoleba kembali ditutup sementara setelah sebaran abu vulkanik terpantau masih berada di sekitar wilayah udara gunung tersebut.
Penutupan operasional Bandara Wunopito berlaku mulai Kamis (24/9) pukul 07.50 WITA hingga Jumat (25/9) pukul 07.00 WITA. Perpanjangan penutupan tersebut tercantum dalam pemberitahuan penerbangan atau Notice to Airmen (NOTAM) terbaru yang diterbitkan AirNav Indonesia.
Keputusan tersebut berkaitan dengan kondisi sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok yang masih perlu diwaspadai dalam aktivitas penerbangan. Material vulkanik yang berada di ruang udara menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam menentukan kelayakan operasional penerbangan.
Berdasarkan informasi penerbangan terbaru, sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok terpantau dari permukaan hingga ketinggian Flight Level 070. Abu tersebut bergerak ke arah barat dengan kecepatan angin sekitar 10 knot dan berada dalam wilayah Flight Information Region (FIR) Ujung Pandang.
Baca Juga: Daratan Baru 32,8 Hektare Muncul Dekat Anak Krakatau, Benarkah Cucu Krakatau?
Posisi Bandara Wunopito juga menjadi perhatian karena lokasinya relatif dekat dengan area sebaran abu. Dalam informasi yang diterbitkan, Wunopito tercatat sebagai bandara terdekat dengan jarak sekitar 5 nautical miles dari area abu vulkanik.
Selain Wunopito, sejumlah bandar udara lain di wilayah NTT juga berada dalam jarak tertentu dari area sebaran abu. Bandara Gewayantana di Larantuka berjarak sekitar 8 nautical miles, sedangkan Bandara Kabir sekitar 42 nautical miles dan Bandara Fransiskus Xaverius Seda sekitar 59 nautical miles.
Kondisi tersebut membuat aktivitas penerbangan di sekitar kawasan terdampak harus mengikuti perkembangan terbaru mengenai arah pergerakan abu vulkanik. Informasi terkait ruang udara juga terus diperbarui untuk menjadi acuan bagi operasional penerbangan.
Gunung Lewotolok sendiri masih menunjukkan aktivitas vulkanik. Pada Kamis (24/9), aktivitas erupsi kembali teramati dengan kolom abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak. Gunung yang berada di Pulau Lembata tersebut masih berstatus Level II atau Waspada.
Dengan kondisi tersebut, pembukaan kembali Bandara Wunopito akan bergantung pada perkembangan situasi vulkanik dan kondisi ruang udara di sekitar bandara. Jadwal penutupan yang berlaku hingga Jumat pagi menjadi acuan sementara dan dapat diperbarui mengikuti hasil pemantauan.
Baca Juga: 630 Personel TNI-Polri Amankan Pilur Serentak Gunungkidul, 230 TPS Jadi Sasaran
Bagi calon penumpang yang memiliki penerbangan melalui Bandara Wunopito, perubahan jadwal perlu diperhatikan karena kondisi penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Lewotolok. Informasi terbaru dari pihak bandara, maskapai, dan otoritas penerbangan menjadi rujukan sebelum melakukan perjalanan.
Aktivitas Gunung Lewotolok juga masih terus dipantau oleh instansi terkait. Pergerakan abu vulkanik menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keamanan penerbangan di kawasan tersebut.
Penutupan sementara Bandara Wunopito menunjukkan bahwa aktivitas gunung api tidak hanya berdampak pada wilayah sekitar kawah, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap mobilitas masyarakat melalui jalur udara. Kondisi penerbangan akan terus menyesuaikan dengan perkembangan aktivitas vulkanik dan sebaran abu di ruang udara.
(Maria Margaretha Nirong Gedo)
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber