RADAR JOGJA – Kekhawatiran mengenai keamanan warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berada di Papua kembali menjadi perhatian. Pemerintah Provinsi NTT saat ini mendata sejumlah warga yang ingin kembali ke daerah asal karena merasa tidak aman akibat gangguan keamanan di beberapa wilayah Papua.
Permintaan tersebut disampaikan sejumlah warga kepada Pemprov NTT. Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma mengatakan sebagian warga meminta agar kepulangan mereka dapat difasilitasi. Beberapa di antaranya diketahui berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Menurut Johni, pendataan dilakukan untuk mengetahui kondisi warga NTT yang masih berada di Papua sekaligus melihat kebutuhan mereka. Ia juga menyebut keinginan warga untuk mencari tempat yang lebih aman merupakan hal yang wajar apabila mereka merasa keselamatannya terancam.
Meski begitu, Johni menyampaikan bahwa kondisi keamanan di Papua secara umum masih kondusif. Gangguan keamanan disebut terjadi di wilayah-wilayah tertentu. Pemprov NTT pun terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau keadaan warga asal NTT di wilayah tersebut.
Baca Juga: Pantai Cermin Serdang Bedagai, Tempat Menikmati Deburan Ombak dan Indahnya Suasana Pesisir
Isu tersebut turut mendapat perhatian dari Ketua DPRD NTT Emilia Nomleni. Ia meminta negara memastikan warga sipil yang berada di daerah rawan mendapatkan perlindungan, termasuk masyarakat asal NTT yang tinggal maupun bekerja di Papua.
Emilia menilai keselamatan masyarakat menjadi tanggung jawab pemerintah. Karena itu, warga yang berada di wilayah dengan kondisi keamanan yang tidak memungkinkan perlu mendapat perhatian dan perlindungan.
Ia juga membuka kemungkinan agar warga NTT yang berada di daerah rawan dipindahkan sementara ke lokasi yang lebih aman apabila kondisi di lapangan memang mengharuskan langkah tersebut.
Kekhawatiran ini muncul setelah terjadinya penembakan terhadap tiga ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Distrik Muliama, Papua Pegunungan, pada 9 September 2026. Ketiga korban meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
Dua korban diketahui berasal dari NTT, yakni Wili Mbuik asal Rote Ndao dan Alfonsius Albinus Mehan dari Kabupaten Sikka. Sementara satu korban lainnya berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan.
Baca Juga: Ilmuwan Temukan Jenis Kucing Baru setelah 100 Tahun!
Peristiwa tersebut membuat keamanan warga NTT di Papua menjadi perhatian lebih luas. Sebelumnya, keluarga Wili Mbuik juga meminta pemerintah memberikan jaminan keamanan bagi warga asal NTT yang masih berada di Jayawijaya.
Pemprov NTT menyatakan akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan apabila diperlukan pemindahan warga dari wilayah yang dianggap rawan. Langkah tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi keamanan dan hasil pendataan di lapangan.
Di sisi lain, pemerintah berharap kondisi keamanan dapat segera kembali kondusif sehingga masyarakat, termasuk warga NTT yang bekerja maupun tinggal di Papua, tetap dapat menjalankan aktivitas dengan aman.
Situasi tersebut membuat pendataan menjadi penting. Selain mengetahui jumlah warga yang membutuhkan bantuan, pemerintah juga dapat menentukan langkah yang diperlukan apabila terdapat warga yang memang harus dipindahkan dari wilayah rawan.
(Maria Margaretha Nirong Gedo)
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber