Pernyataan Kontroversial Prabowo Saat HUT ke-28 PAN, Sebut Pakar 'Saking Pintarnya jadi Goblok'

As Syifa Dzihni Nafisa • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 13:52 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri acara HUT Partai Amanat Rakyat (PAN) ke-28. (Sumber: Youtube Prabowo Subianto)
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri acara HUT Partai Amanat Rakyat (PAN) ke-28. (Sumber: Youtube Prabowo Subianto)

 
 
RADAR JOGJA - Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan Presiden RI Prabowo Subianto terkait kalangan pengamat dan akademisi.

Dalam pidatonya pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Prabowo melontarkan sindiran keras kepada pihak yang kerap melayangkan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Prabowo menyebut para pengamat atau pakar yang mengkritiknya sebagai pihak yang merasa paling pintar hingga justru keliru.

Kutipan pernyataannya yang menuai sorotan publik berbunyi, "Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok."

Baca Juga: Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris, Update Tim, Starting XI dan Skor Akhir

Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi luas di ruang publik.

Alih-alih meredam perdebatan, sindiran itu justru berbalik menjadi sorotan ketika masyarakat membandingkan pidatonya tersebut dengan realitas kondisi di lapangan.

Di satu sisi, pemerintah gencar menggalakkan program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan narasi mulia untuk memastikan siswa berangkat ke sekolah dengan perut tidak kosong agar dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

Namun, di sisi lain, kritik dan gelombang protes dari netizen bermunculan karena fondasi infrastruktur pendidikan dasar dinilai masih jauh dari kata layak.

Pelaksanaan program MBG yang masif di lapangan kerap diwarnai berbagai persoalan krusial, termasuk rentetan kasus keracunan massal yang menimpa para siswa di berbagai daerah.

Baca Juga: Prediksi Skor Newcastle United vs Hull City di Liga Inggris, Update Tim, Starting XI dan Skor Akhir

Kondisi ini menunjukkan perlunya pengawasan ketat terhadap standar keamanan pangan dalam program berskala besar tersebut.

Di tengah ambisi menyukseskan program gizi, realitas fisik institusi pendidikan di berbagai daerah justru memprihatinkan.

Masih banyak gedung sekolah, terutama di wilayah perdesaan dan daerah tertinggal, yang mengalami kerusakan parah, kekurangan tenaga pendidik, serta minim fasilitas penunjang belajar.

Persoalan aksesibilitas juga menjadi sorotan utama.

Narasi agar siswa dapat belajar dengan baik melalui perut yang kenyang dinilai tidak relevan ketika para siswa di sejumlah wilayah masih harus menghadapi medan jalan yang rusak, jembatan putus, dan ketiadaan transportasi yang memadai untuk mencapai sekolah.

Baca Juga: Arsenal Buka Opsi Pinjamkan Max Dowman, Ada yang Minat?

Bagi sebagian pelajar, perjalanan menuju ruang kelas masih menjadi tantangan yang membahayakan keselamatan.

Sikap pemerintah yang kerap menanggapi kritik dengan retorika keras dinilai mencederai prinsip keterbukaan dan kejujuran intelektual. 

Publik menilai bahwa perbaikan mutu pendidikan nasional tidak akan tercapai secara optimal jika pemerintah hanya berfokus pada program penunjang seperti makanan gratis, sementara hal-hal dasar penunjang sekolah malah diabaikan.

Melalui berbagai diskusi di ruang digital, netizen ramai-ramai menyuarakan agar pemerintah mau benar-benar membuka mata untuk melihat kondisi yang sebenarnya. 

Editor : Meitika Candra Lantiva
HUT ke-28 PAN Pernyataan Kontroversial Prabowo Pakar 'Saking Pintarnya jadi Goblok' Presiden Prabowo prabowo