RADAR JOGJA - Menurut data satelit terbaru, Indonesia saat ini menduduki peringkat teratas secara global untuk emisi karbon akibat kebakaran hutan.
Data geografis yang dirilis oleh Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus Uni Eropa menunjukkan lonjakan besar aktivitas kebakaran hutan di seluruh negeri.
Antara 1 September dan 7 September 2026, kebakaran hutan di Indonesia melepaskan sekitar 19,7 juta metrik ton karbon dioksida.
Angka yang sangat besar ini mencakup lebih dari sepertiga dari total emisi karbon akibat kebakaran hutan global yang tercatat dalam minggu tersebut.
Baca Juga: Turis Australia Tewas Jatuh dari Tebing Kelingking Pantai Nusa Penida Bali
Zona yang paling parah terkonsentrasi di Kalimantan dan dataran rendah timur Sumatera.
Kondisi kering ini memburuk akibat dorongan fenomena Super El Niño.
Super El Niño telah membawa panas ekstrem dan kekeringan parah ke Asia Tenggara, mengubah lahan gambut yang biasanya lembap dan hutan lebat menjadi lahan yang sangat mudah terbakar.
Besarnya volume asap telah memicu keadaan darurat kesehatan masyarakat dan diplomatik yang besar di seluruh Asia Tenggara.
Beberapa negara yang terdampak langsung seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Filipina terjebak dalam lapisan kabut tebal.
Baca Juga: Bintang Como Nico Paz Masuk Radar Arsenal, Kuncinya ada di Real Madrid
Dengan kondisi kekeringan akibat Super El Niño yang diperkirakan masih berlanjut, upaya pemadaman di titik-titik krusial di Kalimantan dan Sumatera serta penanganan dampak kabut asap menjadi prioritas mendesak bagi seluruh pihak terkait.
Editor : Meitika Candra Lantiva